Bukan Pacar Rahasia

Bukan Pacar Rahasia
47.Kekecewaan Sarah


__ADS_3

("Kenapa kamu harus sebaik ini Ra, apakah kamu tau,itu semakin membuat ku merasa bersalah padamu.") batin Desi,hatinya menangis sambil melihat ke arah Nadira yang sedang mengobrol dengan Reyhan juga Susi.


Sementara di tempat lain, Sarah yang baru saja sampai di sekolah langsung masuk ke dalam kelas,ia memalingkan wajahnya saat bertemu dengan Arfan yang kebetulan sedang duduk di bangku nya.


Jika tak ingat kalau dia ingin lulus sekolah terlebih dahulu,rasanya ia ingin sekali pergi dan tidak ingin bertemu lagi dengan Arfan,tapi ia mencoba untuk menahan amarahnya ketika bertemu dengan laki-laki yang sudah membuat nya terlanjur kecewa.


Namun rupanya,Arfan malah penasaran dengan sikap dingin Sarah, karena tak biasa nya Sarah acuh padanya,tak seperti kemarin kemarin yang selalu mengejar ngejar nya.


Dengan sikap tanpa rasa bersalah sedikitpun,Arfan menghampiri Sarah,ia duduk di sebelahnya. "Apakah bayi ku baik baik saja?" Arfan berbisik pelan,sambil tersenyum licik.


Wajah Sarah memerah mendengar perkataan Arfan, rasanya ia ingin menampar laki-laki di samping nya ini,dengan gampang nya ia berkata seperti itu, setelah kemarin ia tak mengakui kalau bayi yang sedang di kandung Sarah adalah anaknya.


"Kenapa diam,apa bayi itu sudah tidak ada di dalam perut mu," Arfan tersenyum licik.


"Jangan ganggu aku." ucap Sarah dingin,ia mencoba untuk tenang.


"Waw waw waw,kenapa sayang, bukannya kemarin kau berlutut di hadapan ku, untuk meminta pertanggungjawaban ku,kenapa sekarang kau malah menghindar,hehehe." Arfan tertawa kecil.


Sepertinya Sarah sudah hilang kendali,ia langsung menampar pipi Arfan. "Aku tak butuh pertanggungjawaban mu!" kemudian ia keluar dari kelas, untung saja saat itu belum ada yang masuk karena masih pagi, sehingga tidak ada yang mengetahui kejadian tersebut.


"Dasar wanita si***n!" Arfan memegang pipi nya yang terasa panas.


Sementara itu,Sarah yang sudah tak bisa menahan tangisnya pun langsung masuk ke dalam kamar mandi,ia menangis terisak,namun ia sengaja menutup mulutnya agar tak ada orang yang tau kalau ia sedang menangis.


"Aku menyesal telah mengenal mu Arfan,aku tak ingin kenal dengan mu lagi,hiks hiks hiks." Sarah menangis terisak.


Tet...tet...tet...


Saat Sarah masih di kamar mandi,ia mendengar suara bel masuk berbunyi,ia pun segera menghapus air matanya.


Setelah ia beberapa kali bercermin untuk melihat keadaan wajah nya agar tidak ada yang curiga kalau ia habis menangis,ia pun langsung keluar dari kamar mandi dan masuk ke dalam kelas nya.


Arfan yang melihat Sarah masuk pun langsung berdecak kesal melihatnya,ia masih kesal karena tadi Sarah menampar nya.

__ADS_1


***


Sementara di tempat lain, kedua orang tua Nadira juga Reyhan sedang mengobrol bersama di rumah milik Surya, sepertinya mereka sedang merencanakan sesuatu.


"Begini saja pak, bagaimana kalau nanti malam kita makan malam sekeluarga di luar, untuk tempat nya biar saya yang pilih, bagaimana?" tanya Surya pada Slamet.


"Sepertinya itu teh ide yang bagus pak,saya setuju, bagaimana Ambu?" tanya Slamet pada Farida.


"Iyah bah,Ambu setuju." Farida tersenyum.


"Alhamdulillah kalau semua nya setuju,saya sangat senang,karena ada kemajuan dengan sikap anak kita sekarang,semoga lama lama mereka bisa semakin dekat dan juga bisa saling mencintai nantinya." ucap Nadin.


"Aamiin, semoga saja Bu,saya teh juga senang." Bu Farida tersenyum.


***


Tet...tet...tet...


Bel pulang sekolah pun berbunyi,satu persatu murid pun berhamburan keluar dari kelas nya masing masing.


"Des,main ke rumah yuk,sama Susi juga!" Ajak Nadira.


"Kayaknya lain kali aja deh,aku mau ke rumah sakit, nungguin adek aku." ucap Desi.


"Oh ya udah, semoga adek kamu cepat sembuh yah." Nadira melepaskan tangannya.


Nadira juga teman-teman nya yang lain sudah mengetahui kalau adik nya sedang sakit,namun dia antara mereka,tidak ada satu pun yang tau kalau beberapa saat ini Desi bekerja menjadi wanita malam untuk biaya pengobatan adik nya, karena Desi tak pernah menceritakan nya.


Sebenarnya Desi bisa saja meminta bantuan kepada para sahabatnya itu,karena uang pengobatan adik nya memang cukup besar,namun,ia tak mau membebankan sahabat nya, walaupun Nadira pernah menawarkan nya waktu itu.


"Iyah,kalau begitu aku pulang duluan yah." ucap Desi,ia pun langsung berjalan.


Nadira memperhatikan sikap Desi yang memang berbeda sejak tadi,saat istirahat pun ia hanya sesekali berbicara,jika ada yang bertanya padanya,ia tak seceria seperti sebelumnya, membuat Nadira khawatir.

__ADS_1


"Ra,kenapa melamun?" tanya Susi yang melihat Nadira seperti memikirkan sesuatu.


"Kamu ngerasa ada yang aneh gak sih sama Desi?" tanya Nadira,ia takut kalau hanya ia yang merasakan nya.


"Sepertinya Iyah sih,dia teh agak murung,tidak seperti biasanya,tapi mungkin dia teh lagi kepikiran adik nya yang lagi sakit,secara,dia kan cuma punya adiknya sekarang,dia juga kan bisa masuk ke sekolah ini karena beasiswa,jadi sepertinya dia sedang banyak pikiran, terutama soal biaya rumah sakit." ucap Susi.


"Tumben kali ini aku percaya sama ucapan mu,tumben kamu pintar sus,hehehe." Nadira terkekeh,karena Susi biasanya telmi.


"Yeh,enak aja,dari dulu Susi teh emang pinter kali." Susi tak terima dengan ucapan Nadira.


"Ya udah jadi gimana,kamu jadi nggak main ke rumah?" tanya Nadira.


"Hmm kayaknya kurang seru deh kalau cuma kita berdua,jadi,lain kali aja yah,kalau Desi ikut aku teh juga ikut." ucap Susi.


"Ya sudah,kalau gitu." ucap Nadira.


"Terus kamu teh lagi ngapain masih disini?" tanya Susi.


"Aku nunggu Reyhan,dia lagi ke perpustakaan Sebentar." ucap Nadira.


"Oh,ya sudah,aku pulang duluan yah." ucap Susi.


"Iyah,hati hati." ucap Nadira,Susi pun mengangguk lalu berjalan ke arah luar,ia mencari taksi karena hari ini ia tidak di jemput oleh supir nya.


"Hai sayang,kamu belum pulang?" tanya Arfan, yang tiba-tiba muncul dari belakang.


"Eemm belum,nunggu Reyhan,dia ke perpustakaan dulu sebentar." ucap Nadira,ia pura pura tersenyum.


Entah kenapa, Nadira merasa risih di panggil sayang oleh Arfan,tidak seperti dulu, yang selalu seperti terbang melayang ketika sebutan itu keluar dari mulut kekasih nya itu.


"Mau pulang bareng?" ajak Arfan.


"Nggak usah,aku nunggu Reyhan aja." ucap Nadira.

__ADS_1


"Ya udah,kalau gitu aku duluan yah,bye sayang!" ucap Arfan,ia mengusap kepala Nadira.


__ADS_2