
Mereka melanjutkan aksinya,hanya terdengar suara erangan nikmat yang terdengar sampai ruang tamu, mereka tak memperdulikan nya,yang penting mereka sama-sama puas.
Sementara di luar,bi Ani menghentikan langkahnya saat baru saja berjalan beberapa langkah dari gerbang.
"Ya ampun,Handphoneku ketinggalan lagi di dapur,bisa gawat kalau sampe nggak ke bawa,aku balik lagi dulu ah, mumpung belum jauh." ucap bi Ani yang langsung kembali lagi ke rumah Sarah.
Ketika bi Ani akan masuk ke dalam,ia merasa heran karena pintu rumah sudah di kunci sedangkan mobil Arfan masih terparkir di garasi.
"Kenapa sudah di kunci,mobil den Arfan kan masih ada,kenapa perasaan bibi nggak enak yah." ucap bi Ani.
Bi Ani pun langsung masuk kedalam,untung saja,ia mempunya kunci cadangan yang biasa ia bawa setiap hari saat pagi pagi masuk ke dalam rumah tersebut.
Saat masuk ke dalam rumah,bi Ani celingukan ke kanan dan kiri,namun ternyata sepi,Arfan dan juga Sarah sudah tak ada di ruang tamu,bi Ani pun pelan pelan masuk ke dalam,ketika ia berada di ruang tamu ia heran, karena buku yang mereka pakai untuk belajar tadi,masih berserakan di bawah,belum mereka rapi kan sama sekali.
Namun yang membuat bi Ani terkejut adalah,ketika ia mendengar suara yang aneh di balik pintu kamar Sarah,dengan hati hati ia pun semakin mendekat ke arah pintu,karena penasaran.
Bi Ani terkejut saat ia mendengar suara rintihan yang sudah tak asing lagi baginya,karena ia pun sangat paham suara apa yang ia dengar,bi Ani tak menyangka mereka akan melakukan perbuatan seperti itu.
"Astaghfirullah,mereka sedang,aduh bagaimana ini." bi Ani memelankan kan suaranya.
Bi Ani pun bingung,kalau ia langsung dobrak pintu kamar tersebut,ia pun akan merasa tidak enak, apalagi sepertinya mereka sedang dalam proses pertarungan yang sangat sengit,bi Ani pun merasa tidak sopan kalau harus melihat kejadian di dalam nya.
Namun,jika dia diam saja,itu tandanya,ia sudah membiarkan mereka melakukan hal yang tidak seharusnya mereka perbuat,bi Ani pun menjadi bingung sendiri.
"Gimana yah,aduh bibi teh bingung,kenapa mereka melakukan itu yah,atau jangan-jangan setiap den Arfan kesini mereka selalu melakukan nya, kayaknya bibi teh harus tegur mereka,tapi tidak sekarang,kalau di biarkan mereka akan terus melakukan nya dan itu akan menjadi masalah besar nantinya." gumam bi Ani.
Bi Ani pun langsung pergi dari sana,ia mengambil handphone nya di dapur, setelah itu,ia langsung keluar dari rumah tersebut,ia akan menegurnya nanti,saat waktu yang tepat.
Sementara di kamar, tampaknya mereka sudah selesai melakukan pertempuran nya, seperti biasa,Arfan pun beristirahat sejenak,lalu ia pamit untuk pulang,Sarah pun mengantar Arfan sampai ke depan.
__ADS_1
"Mau pulang sekarang?" tanya Sarah saat melihat Arfan sedang memakai bajunya yang,masih berada di kamar nya.
"Iyah." ucap Arfan.
"Aku antar sampai depan." ucap Sarah yang juga memakai pakaian nya.
Mereka pun langsung keluar dari kamar tersebut,namun pada saat mereka ingin membuka pintu rumah,mereka heran karena pintu nya tidak terkunci.
"Eemm,tadi sebelum kita ke kamar,kita kunci dulu kan pintu ini?" tanya Arfan dengan sangat bingung.
"Iyah,memangnya kenapa?" tanya Sarah heran.
"Pintu nya tidak di kunci,tuh lihat." Arfan langsung membuka pintunya tanpa membuka kunci terlebih dahulu.
"Kenapa bisa?" Sarah sepertinya mulai panik.
"Tapi siapa?" tanya Arfan.
"Yang punya kunci rumah cadangan ini cuma bi Ani,nggak ada orang lain lagi." ucap Sarah.
"Jadi,tadi bi Ani balik lagi kesini?" Arfan pun ikut panik.
"Aku juga nggak tau." Sarah mengigit jarinya.
"Bagaimana,kalau sampai bi Ani tau,lalu menceritakan semuanya pada orang tuamu,kita harus bagaimana?" Arfan benar benar panik.
"Aku akan bicara besok pada bi Ani,aku yakin dia mendengar kita tadi di kamar, apalagi dia pasti melihat mobil mu masih terparkir di depan,jadi seperti tidak ada yang bisa kita lakukan kecuali kita cegah bi Ani untuk menceritakan nya kepada siapapun,termasuk orang tuaku." ucap Sarah.
"Aku serahkan semuanya padamu, pokonya aku nggak mau kalau sampai kita ketahuan apalagi oleh orang tua mu." ucap Arfan.
__ADS_1
"Iyah aku juga nggak mau kalau sampai mereka tau." Sarah mengigit bibirnya.
"Ya sudah kalau begitu aku pulang dulu,jangan lupa kau pikirkan bagaimana cara nya agar bi Ani tidak bocor." ucap Arfan.
"Iyah." ucap Sarah yang masih panik,ia pun sebenarnya sangat ketakutan, walaupun memang ini kesalahan ia dan juga Arfan tapi baru kali ini mereka ketahuan, walaupun mereka sudah sekitar tiga bulan melakukan hal terlarang nya.
Setelah melihat Arfan pergi dari rumahnya,Sarah pun kembali menutup pintunya,lalu ia ke kamar,ia membersihkan dirinya ke kamar mandi.
Setelah selesai,ia pun langsung duduk,ia termenung sejenak, pikiran nya sudah kemana mana,ia sangat takut semuanya akan terbongkar.
Walaupun mungkin ia kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya,ia pun tak bisa mengalahkan mereka, karena ini adalah kesalahan nya bersama kekasihnya itu.
"Aku harus Bagaimana,aku tak mau papa sama Mama sampai tau,hmm semoga saja bi Ani bisa di ajak kompromi,aku sangat berharap padanya,dia harus bisa menyimpan rahasia ini baik baik." gumam Sarah.
***
Sementara di tempat lain, terlihat Reyhan sedang membantu Ambu nya menyiapkan bahan bahan kue yang akan di buat nya untuk besok,Ambu sengaja menyiapkan nya malam hari supaya besok ia bisa langsung membuat nya,jadi tidak banyak memakan waktu.
"Ambu,jadi kita akan buat apa saja?" tanya Reyhan.
"Eemm kayaknya yang gampang aja yah,risol,dadar gulung,pisang coklat, lumpia goreng,sama kue cucur, bagaimana?" tanya Ambu.
"Reyhan mah terserah Ambu aja,kan cuma bantuin doang,tapi kayaknya makanan yang Ambu sebut tadi menarik juga,pasti nanti kue kue yang ibu bikin paling laris manis di bazar amal besok." ucap Reyhan.
"Eemm anak Ambu ini teh paling bisa kalau bikin Ambu nya semangat,ayo atuh ah kita siapkan bahan-bahan,biar besok teh nggak terlalu ribet." ucap Ambu.
"Iyah Ambu, Reyhan bantu apa dulu?" tanya Reyhan.
"Ini aja, tolong ayak tepung nya, supaya nanti pas di bikin adonan gampang mencampur nya." ucap Ambu memberikan instruksi pada putra nya.
__ADS_1