
Sarah pun langsung berjalan menuju kamarnya, sedangkan Dani masih bergelut dengan pikirannya sendiri.
("Sepertinya aku harus bertanya sama bi Ani,karena hanya dia yang ada di rumah saat aku tak ada.") batin Dani.
Dani sengaja tidak memanggil bi Ani,ia memastikan agar Sarah tak mengetahui nya,saat dirasa cukup aman,Dani pun langsung berjalan ke belakang agar Sarah tidak curiga jika ia menanyakan hal yang membuat nya penasaran itu pada asisten rumah tangga nya itu.
"Bi." ucap Dani, membuat bi Ani yang sedang memasukkan pakaian ke dalam mesin cuci pun terkejut dengan panggilan majikan nya.
"Eh,ada apa pak?" bi Ani memegang dada nya saking terkejutnya.
"Ada yang ingin saya tanyakan." ucap Dani.
"A-ada apa pak?" bi Ani terlihat gugup.
("Aduh,ini teh ada apa yah,kenapa saya teh jadi deg degan,apa si bapak curiga sama non Sarah.") batin bi Ani.
"Selama saya nggak di rumah,apa ada yang aneh sama Sarah,saya merasa Sarah jadi sedikit aneh sekarang?" tanya Dani tanpa basa basi.
"Ng-nggak ada pak,nggak ada yang aneh." ucap bi Ani gugup.
("Sepertinya ada yang bi Ani sembunyikan, sepertinya aku harus mencari tahu nya sendiri.") batin Dani.
"Eemm baiklah kalau begitu." ucap Dani,ia tak mau mendesak asisten rumah tangga nya itu,karena ia pun tak punya bukti apapun.
("Alhamdulillah,bapak tidak bertanya lebih jauh lagi,mudah mudahan bapak tidak curiga,saya teh belum siap untuk memberitahu semua nya, apalagi non Sarah teh ngelarang saya buat jelasin sama bapak sama ibu.") batin bi Ani.
"Papa?" Sarah berteriak, memanggil Dani.
Mendengar Sarah memanggil nya,Dani pun langsung berjalan menghampiri nya.
"Papa abis dari mana?" tanya Sarah sedikit curiga saat melihat Dani datang dari belakang.
"Itu,papa abis bilang sama bi Ani,suruh masak yang enak nanti siang." ucap Dani sedikit gugup.
__ADS_1
"Oh,memang nya papa nggak berangkat kerja?" tanya Sarah.
"Papa cuma ada meeting Sebentar,abis itu nanti langsung jemput kamu ke sekolah,terus langsung pulang,kita makan siang bareng, bagaimana?" ucap Dani mengalihkan pembicaraan.
"Sarah mau pah, makasih yah,papa udah luangin waktu buat Sarah." Sarah langsung memeluk Dani,ia merasa bahagia karena ia bisa lebih lama bersama papa nya.
"Iyah sayang,kalau begitu ayo kita berangkat!" ucap Dani,ia pura pura tersenyum sambil mengambil ponselnya di dalam saku celananya.
Dani mengirim pesan chat pada bi Ani,dan menyuruh nya memasak seperti apa yang ia ucapkan pada Sarah barusan, agar Sarah tidak curiga.
"Ayo dong,kok malah pegang handphone sih pah!" ucap Sarah sedikit heran melihat papa nya malah memainkan ponselnya.
"Iyah,ayo sayang!" Dani pura pura tersenyum,ia langsung menyimpan kembali handphone nya, setelah itu ia langsung merangkul Sarah untuk berjalan keluar dari rumah nya.
***
Sementara di tempat lain, Nadira tampaknya terus memegangi perutnya saat baru saja sampai di kelas nya,karena ini haid hari pertama nya,kini perutnya terasa sakit.
("Duh sakit banget sih,jadi cewek emang kayak gini banget yah,.") batin
Beberapa saat kemudian, setelah dari kantin,Reyhan menghampiri Nadira. "Ini teh manis hangat,biar perutnya enakan." Reyhan menyimpan minuman di meja Nadira, sambil tersenyum ke arah nya.
Nadira malah memandangi Reyhan,ia tak menyangka Reyhan akan melakukan hal tersebut.
"Ma-makasih." ucap Nadira,ia langsung mengambil minuman tersebut lalu meminumnya.
"Kalau perutnya masih sakit, mending kamu istirahat aja di UKS,biar aku antar." ucap Reyhan sedikit khawatir.
"Nggak papa kok,udah agak enakan." ucap Nadira.
"Syukurlah." Reyhan tersenyum,lalu ia duduk kembali di bangku nya.
Saat Nadira dan juga Reyhan sedang curi curi pandang, tiba-tiba Desi dan juga Susi masuk ke dalam kelas,berbeda dengan Susi yang terlihat ceria saat masuk,sementara Desi terlihat sangat murung,ia hanya berjalan menunduk lalu duduk di bangku nya.
__ADS_1
"Euleh euleh,ini dua sepupu teh lagi ngapain berdua Duan di kelas,hehehe." Susi terkekeh melihat Nadira juga Reyhan duduk sebelahan, sementara teman yang lain nya belum ada yang masuk kelas.
"Nadira perut nya lagi sakit." ucap Reyhan.
"Kenapa Ra?" Susi belum paham.
"Biasalah namanya juga cewek." ucap Nadira.
"Oh,Iyah Iyah." Susi mengerti dengan jawaban Nadira.
Nadira memperhatikan sikap Desi yang menurut nya sedikit aneh hari ini,tak biasa nya Desi bersikap seperti itu.
"Desi kenapa?" Nadira berbisik kepada Susi.
"Nggak tau,dari tadi dia murung, kayaknya lagi ada masalah." ucap Susi pelan.
Karena penasaran, Nadira pun langsung menghampiri Desi,karena setelah minum teh hangat tadi, perutnya menjadi lebih enakan, sementara Susi menghampiri Reyhan dan mengajak nya mengobrol.
"Des?" panggil Nadira,ia menarik satu bangku agar duduk lebih dekat dengan Desi.
"I-iyah." jawab Desi dengan gugup,ia pura pura tersenyum.
"Kamu kenapa?" tanya Nadira,ia yakin kalau Desi sedang ada masalah.
("Maafin aku Ra,aku nggak bisa ngasih tau kamu sekarang,aku merasa malu,aku nggak pantes jadi sahabat kamu,aku udah menghianati persahabatan kita,kamu pasti gak akan percaya kalau aku sudah tidur dengan pacar mu semalam,aku wanita yang sangat jahat Ra,aku jahat sama kamu.") batin Desi.
Melihat Desi yang malah terdiam saat ia tanya, Nadira pun merasa heran,ia tak pernah melihat Desi berperilaku seperti ini sebelumnya,ia sangat penasaran,apa yang sebenarnya terjadi.
Namun Nadira pun tak mau egois,ia tak mau memaksa Desi,jika memang Desi masih belum siap untuk menjelaskan semuanya.
"Aku tak akan memaksamu,aku hanya berharap,apapun yang sedang terjadi,semoga kamu bisa melaluinya,kamu harus tau Des,kamu nggak sendirian,ada aku,aku akan selalu ada buat kamu,kamu yang kuat yah." Nadira mengusap pundak Desi lalu berdiri dan kembali duduk di bangku nya.
Desi melihat ke arah pundak nya yang baru saja di pegang oleh Nadira, hatinya merasa semakin hancur saat mendapati perlakuan Nadira yang membuat hati nya mereka semakin bersalah.
__ADS_1
Ingin rasanya ia berteriak atas apa yang telah terjadi,ia sangat merasa bersalah karena sudah menghianati sahabat sebaik Nadira,seseorang yang selalu baik padanya.
("Kenapa kamu harus sebaik ini Ra, apakah kamu tau,itu semakin membuat ku merasa bersalah padamu.") batin Desi,hatinya menangis sambil melihat ke arah Nadira yang sedang mengobrol dengan Reyhan juga Susi.