
("Hmm semuanya pada memperebutkan Reyhan, padahal Reyhan sudah menikah dengan ku, bagaimana kalau mereka berdua ini tau kebenaran nya,aku gak bisa bayangin,bisa bisa mereka pada pingsan lagi.") bagi Nadira,ketika melihat dua sahabatnya nya ini memperebutkan suaminya.
"Ra,kenapa kamu diam terus dari tadi, perasaan kita doang yang heboh." ucap Desi.
"Nggak papa,eemm kita ke kamar dulu yuk, diskusi nya di sana aja." ucap Nadira.
"Let's go." Desi dan Susi pun mengikuti Nadira dari belakang.
Kini mereka pun sudah berada di kamar Nadira,mereka pun duduk di sofa yang berada di sana.
Namun mata Susi salah fokus pada sebuah sarung yang ada di atas meja,itu adalah sarung yang Reyhan gunakan pada saat ia menginap di kamar Nadira,waktu itu sesudah sholat isya, Reyhan sengaja tidak menyimpan nya di mushola,karena ia nyaman menggunakan sarung saat tidur.
"Ra,Ari ini sarung punya siapa? nggak mungkin kan,kalau kamu teh pake sarung laki laki." tanya Susi.
("Duh gawat nih,gue lupa lagi,itu sarung Reyhan semalem, gimana gue jelasin nya yah.") batin Nadira.
"Eemm itu sarung punya..." Nadira tampaknya bingung harus menjawab apa.
"Punya bokap loe yah?" tanya desi.
"I-iyah punya papa,hehehe." Nadira pura pura tertawa.
"Lagian loe kenapa sih pake tanya tanya segala,kan jelas di rumah ini cuma bokap nya yang pake sarung." ucap Desi pada Susi.
"Iyah juga sih." Susi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
("Hmm untung aja Desi mikir nya gitu,bisa gawat kalau gue keceplosan.") batin Nadira.
"Eh guys,gue ganti baju bentar yah,di kamar mandi kok,kalian di sini aja." ucap Nadira yang langsung mengambil baju ganti nya setelah itu masuk ke dalam kamar mandi.
"Eh,loe lihat nggak, kayaknya ada yang aneh deh sama Dira,dia kayak gugup gitu tadi,pas tadi loe tanya ini sarung siapa,dan coba loe cium baunya,loe tau nggak wangi siapa?" Desi memelankan suaranya.
"Aa Reyhan." ucap Susi terkejut ketika mencium wangi sarung tersebut,karena ia sering dekat dekat dengan Reyhan sehingga ia hafal wangi nya.
"Nah,gue sebenernya udah curiga sama Nadira dan Reyhan,tapi gue baru bisa ngomong sekarang,loe ngerti nggak maksud nya?" tanya Desi yang tau kalau Susi sedikit lemot.
__ADS_1
"Curiga gimana,yah mungkin a Reyhan numpang sholat di sini,dia kan sepupu nya jadi wajar aja." ucap Susi,mencoba berfikir positif.
"Ah,bukan itu maksud gue." Desi kesal dengan sahabat nya ini.
"Kalian ngomongin apa sih,bisik bisikan kayak gitu?" Nadira yang baru saja keluar dari kamar mandi tampaknya sedikit heran melihat dua sahabatnya ini berbisik bisik.
"Nggak,itu tadi apa,katanya Susi lapar,nggak tau tuh malu maluin aja." ucap Desi mencari alasan.
"Susi teh nggak-" mulut Susi di tutupi oleh tangan Desi.
"Nggak enak maksudnya,Susi nggak enak buat ngomong nya,makanya gue yang bantu dia buat ngomong,Iyah kan sus,hehehe." Desi melotot ke arah Susi.
"I-iyah." ucap Susi sedikit kesal.
("Duh, hampir aja ketauan.") batin Desi.
"Ya udah bentar yah,gue ke dapur dulu,siapa tau mama udah masak." ucap Nadira yang langsung keluar dari kamarnya.
"Hmmm." Desi pun menghembuskan nafas nya saat Nadira keluar dari kamarnya.
"Terus loe mau bilang apa? loe mau bilang kalau kita ngomongin Dira sama Reyhan,nggak mungkin kan." ucap Desi.
"Ya udah Iyah,lagian Susi teh sebenarnya juga beneran lapar ini teh, hehehehe." Susi tertawa kecil.
"Nah,gue pinter kan, makanya loe harus nurut sama gue." ucap Desi.
"Iyah." ucap Susi.
Beberapa saat kemudian,Nadira kembali lagi ke kamar,ia membawa aneka cemilan yang lumayan banyak.
"Eemm masakannya belum Mateng,ngemil dulu nggak papa kan?" ucap Nadira menyimpan cemilan nya di atas meja.
"Nggak papa kok, Makasih yah Ra,jadi ngerepotin." ucap Desi, yang langsung mengambil cemilan tersebut lalu memakannya.
"Nggak papa." ucap Nadira heran ketika malah Desi yang antusias.
__ADS_1
("Katanya tadi Susi yang lapar,tapi kok malah Desi yang makan.") batin Nadira,ia merasa ada yang di sembuhkan dari dua sahabatnya itu.
Setelah mereka berdiskusi dan juga sudah tau tentang apa saja yang akan mereka beli di pasar besok pagi,dia Sahab Nadira pun langsung pamit untuk pulang karena sudah sore.
Setelah mereka pulang, Nadira pun menghembuskan nafasnya,ia menghempaskan tubuhnya ke atas sofa,ia melihat sarung yang sempat di pakai oleh Reyhan waktu menginap di kamar nya.
"Wangi Reyhan,eemm kenapa wangi nya masih nempel sampai sekarang?" ucap Nadira saat ia memegang sarung tersebut.
Nadira menengadahkan kepalanya sambil bersandar pada sofa, tiba-tiba ia membayangkan waktu kejadian malam itu.
("Kenapa aku merasa adem yah saat sholat berjamaah sama dia,apalagi saat ia sedang mengaji,suaranya sangat menyejukkan hati,sampai menusuk ke lubuk hati yang paling dalam,apa yang sebenarnya aku rasakan sekarang,apa aku coba terima dia saja sebagai suamiku,hmm sepertinya memang seharusnya seperti itu, walaupun aku tak tau sekarang perasaan ku terhadap nya seperti apa.") batin Nadira.
***
Sementara di tempat lain, seperti biasanya,ini adalah jadwal Arfan main ke rumah Sarah,dan karena ini sudah sore,bi Ani pun pamit untuk pulang ke rumah nya.
"Non,bibi teh pulang dulu yah,jangan lupa nanti pintunya di kunci!" ucap bi Ani.
"Iyah Bi,tenang aja." ucap Sarah.
"Den Arfan masih mau di sini?" tanya bi Ani.
"Eh Iyah Bi, tanggung soalnya," jawab Arfan.
"Ya sudah,nanti kalau udah selesai langsung pulang yah, bibi pamit dulu kalau gitu." ucap Bi Ani yang langsung keluar dari rumah Sarah.
Saat merasa sudah aman, mereka pun langsung mengunci pintu nya setelah itu langsung ke kamar Sarah yang tak jauh dari ruang tamu.
"Ayo sayang,aku sudah tak sabar." ucap Arfan yang melihat Sarah sedang mengunci pintu kamar nya.
"Iyah sayang sabar." Sarah pun langsung mendekati Arfan.
Mereka melanjutkan aksinya,hanya terdengar suara erangan nikmat yang terdengar sampai ruang tamu, mereka tak memperdulikan nya,yang penting mereka sama-sama puas.
Sementara di luar,bi Ani menghentikan langkahnya saat baru saja berjalan beberapa langkah dari gerbang.
__ADS_1
"Ya ampun,Handphoneku ketinggalan lagi di dapur,bisa gawat kalau sampe nggak ke bawa,aku balik lagi dulu ah, mumpung belum jauh." ucap bi Ani yang langsung kembali lagi ke rumah Sarah.