Bukan Pacar Rahasia

Bukan Pacar Rahasia
49.Untuk Adit


__ADS_3

Tok...tok...tok...


"Dira,Reyhan, makanan nya udah siap,ayo kita makan bareng!" suara Nadin terdengar dari luar.


"Iyah mah,kita keluar." ucap Nadira sedikit keras. "Eemm Kita keluar,ma-makan." Nadira terlihat salah tingkah.


Reyhan pun hanya mengangguk, kemudian ia berjalan mengikuti Nadira dari belakang, mereka berjalan ke arah meja makan,di sana sudah ada Nadin yang menunggu.


"Nah,ayo makan dulu!" ucap Nadin,saat Reyhan dan juga Nadira duduk bergabung.


"Iyah mah." ucap Reyhan sambil tersenyum.


"Eemm oh Iyah,mama,papa,sama orang tua kamu Rey,nanti malam mau mengajak kalian makan di luar,gimana,kalian mau kan,kita belum pernah makan bersama bukan?" tanya Nadin.


"Malam ini mah?" tanya Nadira.


"Iyah." jawab Nadin.


"Boleh Tante,Iyah kan Ra?" ucap Reyhan.


"I-iyah mah." ucap Nadira ragu.


("Aduh,kenapa pake acara makan malam di luar segala sih,aku belum siap kalau harus ngadain acara keluarga begini.") batin Nadira.


Setelah keduanya mengiyakan,Mereka pun langsung makan bersama,Nadin terlihat sangat antusias untuk menunggu malam tiba,ia berharap rencana untuk semakin mendekatkan Nadira dengan Reyhan bisa berhasil.


***


Sementara di tempat lain,Desi baru saja sampai di rumah sakit,ia langsung masuk ke dalam ruangan di mana adik nya di rawat.


Saat masuk,ia melihat adik nya sedang duduk sendirian.


"Kakak!" ucap Adit,adik Desi,ia terlihat senang saat Desi datang.

__ADS_1


"Hai sayang, bagaimana keadaan mu sekarang?" Desi menutup pintu nya, kemudian menghampiri Adit.


"Jauh lebih baik kak." ucap Adit, wajah nya terlihat sangat pucat.


Adit adalah seorang anak berusia sekitar enam tahun,namun sayang sekali,ia memiliki penyakit kanker darah,dan harus di rawat di rumah sakit untuk memulihkan kondisi nya.


Desi yang kini hanya mempunyai adik nya saja setelah kedua orang tuanya meninggal,kini ia harus mengurus adik nya dengan baik, walaupun ia harus mengorbankan kehormatan nya, untuk membiayai adik nya.


"Kamu sudah makan sayang?" tanya Desi.


"Udah kak,tadi suster yang menyuapi Adit." ucap nya.


"Anak pintar." Desi mengusap kepala Adit.


"Kak?" panggil Adit tiba-tiba.


"Iyah sayang." Desi menatap wajah adiknya penuh kasih sayang.


"Lebih baik Adit pulang aja yah kak." Adit terlihat sedih.


"Tapi kayaknya Adit nggak bakalan sembuh kak,udah beberapa bulan di rawat di sini,Adit masih aja begini,Adit nggak mau ngerepotin kakak,kakak pasti capek,harus sekolah sambil kerja buat biayain rumah sakit." Adit melihat ke arah Desi.


"Sutttt,Adit nggak boleh ngomong gitu yah,kakak yakin,Adit pasti sembuh, pokonya Adit nggak usah mikirin apa-apa, yang paling penting adalah Adit sembuh,oke." Desi memeluk Adit,ia menahan tangisnya,ia tak mau Adit menjadi sedih bila melihatnya menangis


"Maafin Adit kak,Adit selalu nyusahin kakak." ucap Adit.


"Nggak sayang,kamu adalah satu satu nya yang kakak punya,jangan ngomong gitu lagi yah!" Desi mengusap punggung Adit sambil memeluk nya.


("Kakak akan berusaha untuk membuat kamu sembuh sayang, walaupun kakak tau cara ini salah,tapi tak ada jalan lain lagi untuk saat ini, setelah kamu sembuh nanti,kakak janji akan berhenti dari pekerjaan ini,dan akan mencari pekerjaan lain yang lebih baik.") batin Desi.


Tak terasa,siang pun berganti malam, seperti biasanya,Desi pamit kepada Adit untuk bekerja, walaupun Desi tak jujur apa pekerjaannya pada adiknya itu,tapi ia harap,jika suatu nanti Adit mengetahui nya, Adit tak akan kecewa dengan langkah yang ia pilih.


Berbeda dengan malam malam sebelumnya, biasanya Desi selalu ke klub terlebih dahulu untuk menunggu klien yang mau mengajak nya bersenang senang,tapi kali ini,ia di ajak oleh seseorang untuk bertemu di sebuah restoran yang cukup mewah.

__ADS_1


Kini,Desi sudah tampil cantik dengan menggunakan dress selutut berwarna merah marun, membuat kulit putihnya terlihat lebih cerah,ia sedang duduk menunggu di tempat yang sudah mereka sepakati.


"Hai Ciara." ucap pria yang baru saja sampai,pria yang terbilang sudah tidak muda lagi itu terlihat sangat senang bertemu dengan Desi lagi.


Namun walaupun usia pria itu sudah tidak muda lagi,namun ia terlihat masih sangat tampan, tampilan nya yang modis, membuat ia terlihat lebih muda.


Pria tersebut adalah orang yang pertama kali merenggut kehormatan Desi,ia pun tak membayar nya dengan murah,pria tersebut membayar Desi waktu itu dengan sebuah cek satu milyar,dan Desi menggunakan uang sebanyak itu untuk operasi Adit waktu itu.


Dan rupanya,pria itu ingin kembali merasakan kenikmatan yang pernah ia rasakan sebelumnya, bayangan cinta satu malam itu terus terbayang bayang di ingatan nya, walaupun ia sadar kalau ia masih memiliki istri.


"Bagaimana kabar mu?" tanya pria tersebut.


"Baik om." jawab Desi.


"Syukurlah,kamu terlihat sangat cantik malam ini." pria tersebut mencium tangan Desi.


"Terimakasih." ucap Desi,ia pura pura tersenyum.


"Pertemuan singkat malam itu membuat aku terus kepikiran padamu,kenapa malam itu kamu langsung pergi, padahal aku belum sempat memperkenalkan nama ku." ucap pria tersebut.


"Aku rasa itu tidak terlalu penting om, identitas bukanlah hal yang penting dalam hubungan kita yang seperti ini." ucap Desi.


"Tapi bagiku itu sangat penting,aku tau kau pun memakai nama samaran,jadi bolehkah aku tau identitas asli mu?" tanya pria tersebut.


"Maaf,tapi sepertinya om lebih baik mengenal saya dengan nama Ciara saja, menurut ku itu sudah cukup." ucap Desi.


"Kau membuat ku semakin penasaran,tapi izinkan saya untuk memperkenalkan diri saya secara,kita sudah dua kali bertemu,eemm nama saya Dani." Pria tersebut mengulurkan tangannya.


Yah, pria tersebut adalah Dani,papa kandung Sarah,waktu itu Dani sedang kalut pikiran nya, sehingga ia memutuskan untuk membeli kehormatan Desi.


Saat itu Dani sedang hancur,karena ia melihat istrinya berselingkuh dengan pria lain, sehingga ia menjadi hilang akal,dan mengambil jalan pintas yang ia juga sadar bahwa itu sebuah kesalahan.


Namun ternyata,dari kesalahan nya itu membuat nya candu pada Desi, walaupun sebenarnya ia tahu bahwa apa yang ia lakukan juga salah,namun untuk mengobati luka hati nya,ia sampai berani melakukan hal tersebut.

__ADS_1


*Flash back on*


Pada hari itu,kondisi Adit sangat kritis, sehingga mengharuskan untuk operasi,saat itu Desi sangat bingung,karena ia tak punya cukup biaya untuk membayar operasi tersebut,pada akhirnya Desi terpaksa untuk pergi ke suatu tempat yang seharusnya tidak ia kunjungi, namun ia tak punya pilihan lain lagi.


__ADS_2