
"A-aku." Nadira terlihat gugup,walau bagaimanapun ia merasa bingung harus kasih alasan apa.
"Kamu kenapa sih, gugup gitu, ngomong aja!" Arfan terlihat sangat penasaran.
Nadira menghembuskan nafasnya. "Aku ingin kita mengakhiri hubungan ini." ucap Nadira tiba tiba.
"Hahahaha,kamu ini bercanda nya jangan begitu sayang,eemm aku tau, pasti kamu mau bikin kejutan kan,secara ini kan hari anniversary kita,hahaha ketahuan kan." Arfan malah tertawa terbahak bahak,ia tak menganggap serius apa yang di ucapkan Nadira.
Nadira terkejut mendengar ucapan Arfan,ia tak mengingat jika hari ini adalah hari anniversary nya dengan Arfan,namun sepertinya bukan itu yang sangat membuat nya terkejut tapi,saat ia tahu kalau Arfan menganggap ucapan nya adalah sebagai candaan.
"Aku serius fan." ucap Nadira meyakinkan Arfan kalau ucapan nya tidak main main.
"Sudahlah jangan bercanda terus,eemm aku mau mengajak mu makan malam nanti, untuk merayakan hari anniversary kita, bagaimana?" Arfan tersenyum ke arah Nadira.
("Kenapa jadi seperti ini,Arfan malah menganggap aku bercanda, padahal aku sudah sangat serius, sepertinya memang susah memutuskan Arfan saat tidak ada alasan apa apa,hmm bagaimana ini, apalagi nanti malam aku sudah ada janji dengan Desi,dan sepertinya itu lebih penting dari pada dinner bersama Arfan.") batin Nadira.
"Ra,kok malah melamun,kamu ini kenapa sih? apa kamu bosen sama aku,aku kira hubungan kita baik baik saja selama ini,mau aku ataupun kamu sepertinya kita tidak pernah ada masalah,jadi kenapa,aku pun bingung jika memang kamu beneran minta putus sementara kita tidak ada masalah apapun." ucap Arfan.
("Arfan benar,dia pun sangat kebingungan saat aku bilang putus,karena aku pun bingung harus mencari alasan apa,karena kita memang tak ada masalah,dan hanya satu alasan nya yaitu,karena aku sudah menikah dengan Reyhan,dan itu masih aku rahasiakan dari siapapun.") batin Nadira.
"Bagaimana,kamu mau kan dinner bareng?" tanya Arfan lagi.
"Maaf fan aku benar-benar lupa kalau ini hari anniversary kita,dan aku pun sudah ada janji,jadi, sepertinya aku tidak bisa ikut makan malam bersama kamu." jawab Nadira.
"Oh ya sudah kalau begitu." Arfan terlihat kecewa.
("Nadira kenapa sih, akhir akhir ini dia sedikit berbeda,tapi walau bagaimanapun aku nggak akan pernah memutuskan hubungan dengan nya,karena aku belum mendapatkan apa yang aku mau dari nya.") batin Arfan.
Arfan tak mau memaksa Nadira untuk ikut makan malam bersama nya,karena ia tahu betul sikap Nadira yang paling tidak suka jika dirinya di atur atur.
Namun sepertinya Arfan juga sudah menaruh curiga pada perubahan sikap Nadira, walaupun ia tak akan pernah melepaskan Nadira dari nya,Karana ia belum menikmati apa yang selalu ia incar dari beberapa pacarnya terdahulu yaitu merenggut kehormatan nya.
Arfan sudah memiliki sekitar empat orang mantan pacar termasuk Sarah,dari keempatnya pun arfan selalu mengincar hal itu,Namun walaupun begitu,dari dulu Arfan tak pernah memaksa pacarnya untuk melakukan itu,tapi mereka memang menginginkan nya sama sama,karena mungkin Arfan paling pandai meluluhkan hati seorang wanita.
"Kalau begitu aku pulang dulu yah,kalau memang nanti malam kamu sudah ada janji kapan kapan kita bisa atur waktu lagi." ucap Arfan, Nadira pun tidak menjawab ia hanya mengangguk.
__ADS_1
Arfan pun langsung pergi dari tempat tersebut,ia langsung pulang dengan mengendarai mobilnya.
Nadira masih memperhatikan mobil Arfan yang mulai menjauh dari pandangannya, seketika ia dikejutkan dengan suara panggilan dari seseorang.
"Dira?" panggil Nadin.
"I-iyah mah." ucap Nadira terkejut.
"Itu kayaknya mobil Arfan,tumben udah pergi aja tuh anak." ucap Nadin.
"Nggak tau mah." Nadira terlihat bingung.
"Sebaiknya kamu agak jaga jarak sama dia,walau bagaimanapun kamu kan sudah menikah sama Reyhan,mama nggak enak sama keluarga Reyhan kalau mereka tau kamu dekat dengan laki laki lain, apalagi rumah suami kamu kan deket jadi dia pasti tau kalau Arfan sering kesini." ucap Nadin memperingatkan.
"Iyah mah Dira tau kok,nanti Dira cari alasan yang tepat buat mutusin Arfan,karena Dira pun bingung harus kasih alasan apa, secara kita nggak ada masalah apa pun." ucap Nadira.
"Ya udah,kamu masuk gih,udah mau gelap tuh bentar lagi malam!" ucap Nadin, Nadira pun hanya mengangguk kemudian ia masuk ke dalam rumah.
***
Sebenarnya Reyhan tidak pernah berniat untuk menjual lukisan nya,namun karena banyak sekali peminatnya yang menyukai hasil karya Reyhan, lukisan nya pun sudah terjual banyak, sampai sampai langganan nya yang ada di Bandung pun beberapa kali masih memesan lukisan nya,dan Reyhan pun mengirimkan nya lewat jasa ekspedisi.
"Rey,kamu teh masih di sini?" tanya Ambu,ia masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Eh Iyah Ambu,kenapa?" tanya Reyhan,ia langsung menyimpan kuas di tempat nya.
"Kamu nggak denger adzan Maghrib?" Ambu merasa heran.
"Astaghfirullah,maaf Ambu,mungkin Reyhan terlalu fokus." Reyhan mengusap wajahnya.
"Terlalu fokus,atau sedang melamun?" tanya Ambu.
"Eemm dua dua nya kali yah." Reyhan nyengir kuda.
"Ya udah sana sholat dulu,Ambu mau tutup gorden nya." Ambu langsung berjalan ke arah jendela.
__ADS_1
"Iyah Ambu." Reyhan langsung berdiri, kemudian ia berjalan ke arah kamar nya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Malam Hari
Reyhan, Nadira dan juga Desi sudah ada di tempat yang mereka sepakati, Nadira sengaja memesan private room agar mereka bisa bebas membicarakan sesuatu yang hanya ingin di ketahui oleh mereka saja.
Desi melihat ke arah Nadira dan juga Reyhan yang juga sedang memperhatikan nya, sepertinya ia sedang memikirkan cara yang tepat untuk menyampaikan apa yang ingi ia katakan.
"Sebenarnya apa yang mau kamu bicarakan Des?" tanya Nadira.
"Sebenarnya aku..." Desi masih belum melanjutkan ucapannya.
"Kamu bicara pelan pelan saja,kita nggak akan maksa kamu jika memang kamu belum siap." ucap Reyhan.
("Tidak tidak,aku tidak boleh menunggu waktu lagi untuk membicarakan ini,aku hanya ingin semuanya baik baik saja, apalagi aku sangat khawatir dengan Nadira,aku ingin Nadira tau bagaimana sifat asli Arfan,karena aku yakin Nadira pun belum mengetahui nya.") batin Desi.
Desi mengembuskan napasnya. "Sebenarnya aku tau kalau kalian sudah menikah." ucap Desi tiba-tiba.
Nadira dan Reyhan membulatkan matanya, mereka saling menatap.
__ADS_1