Bukan Pacar Rahasia

Bukan Pacar Rahasia
61.Tak Sadarkan Diri


__ADS_3

"Lepaskan!" Desi menghempaskan tangan nya. "Jangan pernah ganggu aku lagi!" Desi menunjuk ke depan wajah Arfan sambil menatap nya dengan tajam, setelah itu ia langsung pergi dari tempat tersebut.


Arfan terdiam melihat tatapan mata Desi yang sangat tajam,sepertinya dia menyimpan kemarahan yang besar padanya,sampai Arfan pun tidak bisa berkutik lagi.


Arfan hanya melongo melihat kepergian Desi, setelah sadar ia pun berpikir sejenak.


("Eemm,kenapa Desi,Reyhan dan wanita itu ada di sini juga,apa mereka baru saja ketemuan,tapi wanita yang bersama Reyhan tadi nggak mungkin Dira kan,tadi sore Dira kan bilang kalau ia ada urusan,nggak mungkinlah dia bela belain lebih memilih ketemu sama mereka dari pada ngerayain anniversary kita.") batin Arfan.


Arfan terus memikirkan dan menebak nebak atas apa yang baru saja terjadi,namun sepertinya ia tak menemukan jawaban yang tepat,oleh karena itu,ia pun langsung pergi dari tempat tersebut,dan kembali ke asal tujuan nya, yang berniat untuk bertemu dengan sahabat nya.


***


Sedangkan di dalam mobil, Nadira masih saja terdiam, seketika ia meneteskan air matanya membayangkan apa yang sudah terjadi tadi.


("Kenapa harus kamu Des,aku sangat tidak menyangka kamu melakukan itu, sekarang aku tak tau harus bagaimana, yang jelas aku masih kecewa sama kamu.") batin Nadira.


Tiba-tiba Nadira menyenderkan kepalanya di bahu Reyhan yang sedang menyetir, Nadira menangis terisak, Reyhan sangat cemas melihat Nadira seperti itu, Reyhan refleks menghentikan mobilnya karena ia rasa Nadira butuh waktu untuk bersandar dengan nyaman.


"Aku tak akan bertanya apa yang terjadi antara kamu sama Desi tadi, jika kamu masih belum mau menceritakan nya,tapi,jika kamu mau menangis, menangis lah,jika itu bisa membuat mu lebih tenang!" ucap Reyhan dengan pelan,ia mengelus rambut Nadira dengan lembut.


"Hiks hiks hiks." Nadira menangis terisak di pelukan Reyhan,ia tak memikirkan apapun kali ini,ia hanya butuh sandaran yang bisa membuat hati nya lebih tenang.


Setelah cukup tenang, Nadira pun menghapus air matanya, kemudian ia membenarkan posisi duduknya. "Ayo kita pulang!" ucap Nadira.


"Iya,kita pulang yah." jawab Reyhan dengan lembut, Reyhan pun melajukan mobilnya kembali.

__ADS_1


***


Sementara di tempat lain, terlihat Desi sedang menunggu taksi di tepi jalan, matanya sembab, tubuhnya lemas, pikiran nya tak terarah,ia bingung harus bagaimana setelah semuanya sudah ia ungkapkan.


Saat ia sedang menunggu taksi, tiba-tiba ada sebuah mobil yang membunyikan klakson tepat di depannya,Desi pun terkejut mendengarnya, lamunannya tersadarkan oleh suara klakson mobil tersebut.


"Ciara,kamu sedang apa di sini?" Dani keluar dari mobilnya.


"A-aku." Desi bingung harus menjawab apa.


Melihat Desi yang sepertinya sedang terpuruk,Dani pun langsung memakaikan jas milik nya ke tubuh Desi agar ia tak kedinginan, setelah itu ia membawa Desi masuk ke dalam mobilnya.


Saat ini Desi pun tak tau harus bagaimana,ia hanya pasrah dengan apa yang akan terjadi,di dalam mobil ia hanya melamun,Dani cemas melihat kondisi Desi seperti ini.


Beberapa saat kemudian, mereka sampai di depan rumah Desi,Dani yang melihat keadaan Desi pun merasa cemas,saat di jalan Dani merasa bingung karena ia tak tau rumah Desi,namun waktu itu ia teringat pernah bertemu dengan Desi di depan sebuah saat Desi akan berangkat sekolah.


"I-iyah om, terimakasih sudah mengantar." ucap Desi dengan pelan,ia pun langsung keluar dari mobil tersebut.


Dani hanya memperhatikan langkah Desi,ia tak ingin bertanya apa yang sudah terjadi padanya karena ia tahu jika Desi selalu menolak untuk memberikan informasi tentang nya.


Namun saat Dani memperhatikan langkah Desi,ia sedikit heran saat Desi menghentikan langkahnya,karena merasa ada yang aneh,Dani pun langsung keluar dari mobil,dan benar saja,saat Dani keluar, tiba-tiba tubuh Desi akan ambruk ke tanah, untung saja Dani sigap menangkap nya.


"Ciara bangun Ra!" Dani memeluk tubuh Desi yang sudah tak sadarkan diri.


Melihat kondisi sekitar yang sangat sepi,karena di sekitar sana hanya ada beberapa rumah saja,Dani pun memutuskan untuk membawa Desi masuk ke dalam rumah nya,ia pun langsung menggendong tubuh Desi dengan lembut.

__ADS_1


"Kunci rumah nya mana yah?" Dani mencoba untuk mencari kunci pintu rumahnya di dalam tas milik Desi,dan untung saja dia menemukan nya.


Tanpa pikir panjang,Dani pun langsung membuka kunci pintu rumah sambil memegang tubuh Desi yang lemas, setelah selesai membuka pintu nya,ia pun langsung menggendong Desi kembali dan membawa nya ke dalam rumah.


Dani membawa Desi ke sebuah kamar, yang ia sendiri pun tak tau itu kamar siapa,Dani hanya ingin memastikan jika Desi bisa berbaring dengan nyaman jika ia di baringkan di atas tempat tidur.


"Syukurlah,aku yang bertemu dengan mu,jika saja orang lain yang menemukan mu tadi,aku nggak tau apa yang akan terjadi." gumam Dani,ia sangat khawatir dengan keadaan Desi.


Karena tadi mobil Dani ada di sisi jalan,ia pun berniat untuk memarkirkan dulu mobilnya ke garasi rumah Desi yang kebetulan tidak ada mobil di dalamnya,tanpa pikir panjang ia langsung melakukan nya.


Selesai memarkirkan mobilnya,Dani pun kembali ke kamar Desi,ia melihat Desi yang masih tidak sadarkan diri, dengan begitu ia pun langsung mencari kayu putih agar Desi bisa segera siuman.


Saat Dani baru saja mengoleskan minyak kayu putih di bawah hidung Desi,tak lama kemudian Desi pun langsung sadar,ia membuka matanya perlahan.


"Aku di mana?" tanya Desi,ia mencoba untuk bangkit dari tidurnya.


"Kamu ada di rumah,maafin aku agak lancang membuka pintu rumah mu,kamu pingsan tadi,jadi aku ambil kunci pintu nya dari tas mu." ucap Dani menjelaskan.


"Terimakasih,aku yang harus nya minta maaf sudah merepotkan om." ucap Desi.


"Eemm tunggu sebentar,biar aku ambilkan minum untuk mu!" ucap Dani,ia langsung berjalan ke dapur.


Dani mengambil satu gelas air lalu memberikan nya pada Desi,ia mengerti jika Desi sepertinya dehidrasi di lihat dari bibirnya yang terlihat kering.


"Terimakasih om." Desi menyimpan gelas bekas minum nya di atas meja.

__ADS_1


"Sama sama Des,yang penting kamu nggak papa kan." Dani merasa lega melihat kondisi Desi sekarang.


"Des? dari mana om tau nama asliku?" tanya Desi,ia merasa heran karena Dani tau nama aslinya.


__ADS_2