
Mau tidak mau, Nadira pun mengikuti Reyhan karena ia tak mau kalau Reyhan berpikiran kalau ia cemburu,saat di dalam Reyhan pun langsung membawa Nadira ke kamar nya,setelah ia masuk ia pun menutup pintu nya kembali.
Namun pada saat lewat tadi,Sarah melihat Reyhan dan Nadira masuk ke dalam kamar, membuat nya semakin penasaran, sebenarnya ada apa Antara mereka berdua,namun Sarah mencoba untuk berpikir positif,karena wajar saja,jika sepupu nya Reyhan masuk ke dalam kamar nya.
Nadira melihat sekeliling kamar Reyhan,karena ia baru pertama kali ke kamar suaminya itu,namun ia sedikit gugup,kenapa Reyhan membawa nya ke kamar.
"Ke-kenapa harus di kamar?" Nadira gugup.
"Aku tak mau ada yang mendengar perkataan kita, lagian kita kan sudah menikah jadi tidak apa apa kan,kalau kita di kamar berdua." ucap Reyhan.
"I-iyah." ucap Nadira gugup.
"Kita duduk!" ucap Reyhan.
Mereka pun duduk di sofa yang berada di dalam kamar Reyhan,namun pada saat Nadira duduk,celana pendeknya malah terangkat sehingga memperlihatkan pahanya yang putih mulus,Reyhan hanya menelan Saliva nya melihat istrinya itu,namun untuk Nadira,ia sudah biasa seperti itu,jadi ia tidak merasa aneh lagi.
"Kenapa kau melihat ku seperti itu?" tanya Nadira heran.
"Apa kau sengaja menggoda suami mu?" tanya Reyhan.
Nadira pun melihat ke arah paha nya,kemudian ia bergegas menarik sarung yang ada di meja untuk menutupi paha nya.
"A-aku tidak sengaja." ucap Nadira gugup.
"Aku tau,eemm boleh aku jelaskan sekarang?" tanya Reyhan, Nadira pun mengangguk.
"Jadi,semalam aku melihat Sarah sedang berada di tepi jembatan sedang menangis sendirian,saat aku semakin mendekat,aku terkejut,karena sepertinya dia ingin melompat dari jembatan ke sungai,aku pun langsung menarik tangan nya, untung saja aku tepat menolong nya." ucap Reyhan.
"Jadi,Sarah mau bunuh diri?" tanya Nadira tak percaya.
"Sepertinya begitu,tapi saat aku akan mengantarkan dia pulang,dia tidak mau,jadi dengan terpaksa aku membawa nya ke rumah,maafkan aku jika tidak memberitahu mu dulu,aku tidak berniat apapun,kau tidak marah kan?" tanya Reyhan.
"Bu-buat apa aku marah." Nadira gugup.
"Kau harus tau,jika aku hanya berniat menolong nya,aku tidak ada maksud apa pun." ucap Reyhan,ia tau jika Nadira sempat salah paham tadi.
__ADS_1
"Aku mengerti,kalau begitu,aku pulang dulu." ucap Nadira gugup,ia pun langsung berdiri.
Namun Reyhan menarik tangan nya, sehingga Nadira kembali duduk di sebelah nya, kemudian Reyhan mendekat kan wajahnya, semakin dekat dengan wajah Nadira.
("Reyhan mau ngapain sih,kenapa aku jadi deg degan gini.") batin Nadira.
Nadira memejamkan matanya,Reyhan pun tak mau menunggu lebih lama lagi,ia langsung menempelkan bibirnya.
Cup
Reyhan mengecup bibir merah Nadira. "Aku mencintaimu istri ku." ucap Reyhan dengan lembut.
Nadira membuka matanya,Pipi Nadira bersemu merah,ia tersipu malu,apalagi Reyhan mengatakan hal yang membuat nya merinding.
Nadira merasakan hal yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, tubuhnya terasa tersengat listrik,ada getaran hati yang membuat nya tak bisa berkata apa-apa.
"Kenapa diam,apa kau marah,maafkan aku,jika aku sudah lancang,tapi aku hanya laki laki biasa, yang tak bisa menahan nya." ucap Reyhan.
"A-aku pulang dulu." Nadira langsung keluar dari kamar tersebut,ia sedikit berlari, takut jika Reyhan akan mengejar nya lagi.
Sementara Reyhan,ia tersenyum melihat tingkah Nadira. "Apa dia marah yah." Reyhan memegang bibir nya.
Reyhan pun langsung keluar dari kamarnya,ia berjalan ke arah meja makan,ia pun langsung duduk bergabung di sana yang sepertinya sudah selesai sarapan nya.
"Kenapa Dira pulang buru buru Rey?" tanya Ambu heran,karena ia tadi melihat Nadira seperti sedikit berlari saat keluar dari kamar Reyhan.
"Itu Ambu,dia mau siap siap,kita kan mau pergi ke Dufan nanti." ucap Reyhan sedikit berbohong.
"Ke Dufan?" tanya Sarah.
"Iyah,kamu mau ikut?" tanya Reyhan.
"Memang nya boleh?" tanya Sarah.
"Siapa yang melarang? Arfan juga kayaknya ikut." ucap Reyhan.
__ADS_1
Deg
Sarah langsung terdiam mendengar nama Arfan. ("Sepertinya aku tidak perlu ikut jika ada Arfan,aku masih kecewa dengan nya,tapi sebenarnya aku juga malas untuk pulang sih,hmm bagaimana yah.") batin Sarah.
"Bagaimana?" tanya Reyhan.
"Ya sudah,aku ikut saja." ucap Sarah.
"Ya udah Rey,kamu teh makan dulu,abis itu langsung siap siap,yah." ucap Ambu.
"Iyah Ambu." ucap Reyhan,entah kenapa sejak kejadian di kamar tadi,ia sangat tak sabar untuk bertemu lagi dengan Nadira.
Sementara Nadira,ia baru saja sampai di rumah nya,ia buru buru masuk ke dalam rumah nya.
"Ra,kamu kenapa?" tanya Nadin heran, melihat ekspresi anaknya.
"Nggak apa apa mah,Dira ke kamar dulu yah." ucap Nadira.
"Eh Sebentar,itu kata papa,kamu jadi pinjem mobil papamu,katanya kalau jadi,dia mau pake mobil kamu?" tanya Nadin.
"Mobil? buat apa mah?" tanya Nadira, sepertinya ia masih Belum fokus.
"Loh,katanya semalam kamu izin ke papa pinjem mobil buat jalan jalan ke Dufan,masa kamu lupa sih,jadi kan?" tanya Nadin heran dengan putri nya ini.
("Aduh,kenapa aku sampai lupa yah, gara gara kejadian tadi sama Reyhan,aku jadi lupa kalau hari ini mau jalan jalan,terus nanti aku ketemu lagi dong sama Reyhan,aduh gimana yah,mana masih canggung lagi kalau nanti harus ketemu,tau ah jadi pusing gini.") batin Nadira.
"Ra,kenapa malah ngelamun,kamu kenapa sih sayang?" Nadin semakin heran.
"Hah,Iyah mah jadi, Nadira mau siap siap dulu." ucap Nadira, membuyarkan lamunan nya.
"Tapi kamu sarapan dulu yah,mama udah siapin di meja." ucap Nadin.
"Iyah mah." jawab Nadira sambil berjalan ke arah kamar nya.
Nadira pun masuk ke dalam kamar nya,ia menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur,ia membayangkan kejadian tadi,saat Reyhan mencium bibir nya lalu mengatakan kalau ia mencintai nya.
__ADS_1
"Rey,kenapa aku tidak bisa menolak mu." Nadira memegang bibir nya.
("Walaupun aku merasa deg-degan,tapi kenapa aku merasa senang yah di perlakukan seperti itu oleh Reyhan,apa aku sudah mulai jatuh cinta padanya,pada suami ku sendiri,hmm tapi rasanya malu sekali,kalau aku harus bertatap muka langsung dengan nya lagi nanti.") batin Nadira,ia menutup wajahnya dengan bantal,ia merasa dilema.