
"Ciara ngapain di sini,kamu kenapa lama sekali,aku khawatir kamu kenapa Napa,kamu nggak papa kan?" Dani menepuk pundak Desi. "Kamu lagi lihat apa?" Dani sepertinya penasaran.
"Nggak kok om,ayo kita ke tempat tadi." ucap Desi,ia pun langsung berjalan terlebih dahulu, Dani yang masih bingung pun melihat kanan kiri setelah itu ia mengikuti Desi dari belakang.
Beberapa saat kemudian, mereka pun kembali duduk di tempat tadi, terlihat Desi masih melamun, sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu.
("Sepertinya aku harus pulang sekarang,aku nggak mau Reyhan dan Nadira tau aku di sini, apalagi aku sedang bersama om Dani di sini.") batin Desi.
"Kayaknya aku pulang sekarang aja om." ucap Desi tiba-tiba.
"Loh,tapi kan makanan nya belum habis." ucap Dani heran.
"Maaf om,tapi aku sudah kenyang,aku harus pergi sekarang." ucap Desi,ia pun langsung berdiri.
"Tunggu sebentar,biar aku yang mengantar mu pulang." ucap Dani,ia pun langsung meninggalkan beberapa lembar uang di atas meja, setelah itu ia langsung berjalan mengikuti Desi.
Kini mereka pun sudah berada di dalam mobil,Desi hanya terdiam, membuat Dani merasa khawatir,ia takut terjadi apa apa pada Desi,karena sebelumnya wanita yang sekarang berada di samping nya ini, tampak bersikap biasa saja.
"Rumah mu di mana?" tanya Dani, sambil mengemudi kan mobilnya.
"Aku tidak pulang ke rumah om,antarkan saja aku ke RS.KARYA MEDIKA." ucap Desi.
"Rumah sakit,memang nya siapa yang sakit?" tanya Dani penasaran.
"Maaf om,tapi sekali lagi saya ingat kan,om tidak perlu tau lebih jauh tentang saya,bahkan nama asli saya sekalipun." ucap Desi tegas.
("Dengan sikap mu seperti ini, malah membuat aku semakin penasaran dengan mu Ciara, maafkan aku,jika bukan kamu sendiri yang memberi tahu ku tentang dirimu,maka aku akan mencari tahu nya sendiri.") batin Dani.
"Baiklah." ucap Dani,ia pun langsung terdiam.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian,mereka pun sampai depan rumah sakit,Desi langsung turun dari mobil.
"Terimakasih sudah mengantar,kalau begitu,saya masuk dulu ke dalam." ucap Desi,ia pun langsung berjalan menuju ke dalam rumah sakit.
"Malam sus?" Desi menyapa suster yang sedang bertugas di sana.
"Malam juga mbak." jawab suster tersebut sambil tersenyum.
Desi pun langsung masuk ke dalam ruang inap adiknya,namun ternyata diam diam Dani mengikuti Desi dari belakang,saat melihat Desi masuk,Dani pun langsung mengikuti nya.
"Maaf sus,wanita yang barusan lewat,itu dia ngapain masuk ke ruangan itu yah?" tanya Dani pada suster yang tadi.
"Oh,itu mbak Desi pak,sudah beberapa bulan ini adiknya di rawat di sini,kalau pagi,dia pulang ke rumah nya karena harus sekolah,siang nya dia kesini buat temenin adiknya,dan kalau sore sampai malam dia kerja,setelah pulang kerja,baru kesini lagi." ucap suster tersebut.
Jelas saja suster tersebut mengetahui keseharian Desi,karena suster itu yang selalu merawat adiknya,dan sudah sering mengobrol dengan Desi,jika Desi sedang menemani adiknya.
("Ternyata namanya Desi,dan ternyata dia masih melanjutkan sekolahnya.") batin Dani.
"Nggak papa sus." ucap Dani.
"Saya bangga banget sama mbak Desi pak, walaupun kedua orang tuanya sudah meninggal,tapi dia sangat bekerja keras untuk membiayai adiknya." ucap suster tersebut.
"Kalau saya boleh tau, adiknya sakit apa yang sus?" tanya Dani.
"Kangker darah pak,dan walaupun sudah menjalani operasi beberapa bulan lalu,tapi kondisi nya masih tetap sama." ucap suster tersebut.
"Kalau begitu, terimakasih yah sus atas infonya." ucap Dani.
"Iyah pak,kalau begitu saya permisi dulu." suster tersebut pun langsung pergi dari tempat tersebut.
__ADS_1
("Aku tidak menyangka,gadis itu mengalami hal yang sangat berat dalam hidupnya,entah kenapa mengetahui cerita hidup nya seperti itu,malah membuat aku semakin ingin mengenal nya lebih jauh lagi.") batin Dani.
Setelah mengetahui beberapa hal tentang wanita yang akrab ia sapa dengan nama Ciara,Dani pun langsung pergi dari tempat tersebut,ia tak mau kalau nanti Desi melihat kalau ia membuntuti nya.
Dani pun langsung mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah nya,namun di Sepenjang perjalanan, pikiran nya tak lepas dari wanita tersebut.
Beberapa saat kemudian,Dani pun sampai di rumah nya,namun ketika ia masuk, ternyata Sarah sedang duduk sambil nonton TV di ruang tamu.
"Sayang,kamu belum tidur?" tanya Dani,ia langsung duduk di sebelah Sarah.
"Papa dari mana aja seharian,papa bilang tadi mau jemput aku ke sekolah,tapi kenapa papa malah baru pulang jam segini?" Sarah terlihat kecewa.
"Maafin papa nak,papa ada urusan yang harus di selesaikan,kamu jangan marah yah!" ucap Dani,ia merasa bersalah karena sudah ingkar janji pada putrinya.
"Papa mu memang suka begitu,kamu tidak usah heran." ucap Sari, tiba-tiba ia duduk bergabung di sana.
("Sari,kapan dia pulang?") batin Dani.
"Maksud mama apa sih ngomong kayak gitu?" ucap Dani,ia tak terima dengan ucapan istrinya.
"Memang kamu sudah biasa kan seperti itu,selalu ingkar janji." ucap Sari seperti tak suka.
"Apa,kamu bilang aku yang ingkar janji, bukan nya selama ini kamu yang terlalu sibuk sehingga kamu tak pernah ada waktu buat kita,kamu jangan egois seperti itu." Dani terlihat marah.
"Kamu bilang,kamu ingin memperbaiki rumah tangga kita,tapi ketika aku pulang, kamu selalu sibuk sendiri, padahal sebelumnya kamu bilang akan kualiti time bersama." ucap Sarah.
Yah, biasanya memang selalu seperti ini,saat Dani dan Sari bertemu, mereka selalu saja bertengkar, Sari selalu menganggap Dani ingkar janji, padahal kenyataannya Sari yang terlalu sibuk sehingga saat ada waktu untuk keluarga nya dan itu pun sangat jarang, Dani selalu ada pekerjaan mendesak yang tidak bisa ia tinggalkan.
"Apa kamu nggak salah ngomong,bukan nya kamu yang terlalu sibuk,coba kamu tanya Sarah,siapa yang lebih sering pulang,aku atau kamu?" Dani terlihat sangat marah.
__ADS_1
"Cukup! aku sudah capek mendengar kalian selalu bertengkar seperti ini saat sedang ada di rumah,apa kalian nggak bisa,sekali aja bicara baik baik,apa kalian nggak sadar,aku stress mendengar kalian berteriak teriak seperti ini terus,hiks hiks hiks." Sarah berdiri sambil berteriak kemudian ia duduk kembali, kemudian ia meneteskan air matanya.
Dani dan Sari langsung terdiam,baru kali ini mereka mendengar Sarah berteriak seperti itu pada mereka.