
("Kayaknya Iyah juga sih,kalau aku nunggu angkot lebih lama lagi bakal kesiangan,tapi masa harus ikut dia sih,ini juga kenapa sih tiba tiba nggak ada angkot yang lewat.") batin Desi.
"Ayo naik!" ucap pria tersebut.
"Ba-baik om." Desi sedikit gugup,namun ia tak ada pilihan lain lagi.
Yah,pria tersebut adalah Dani, kebetulan ia berniat untuk berangkat ke kantor,namun,ia tak sengaja melihat Desi sedang berdiri di tepi jalan, dengan begitu ia pun langsung menghampiri nya tadi.
Entah apa yang telah Tuhan rencana kan untuk mereka,tapi pada kenyataannya mereka selalu di pertemukan dalam keadaan yang tidak di sangka sangka.
("Om dani kaget gak yah,saat tau aku pakai seragam sekolah,dia pasti nggak tau kalau aku masih anak sekolah.") batin Desi.
"Kamu sekolah di mana?" tanya Dani,saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"SMAN 1 BINA BANGSA om." jawab Desi, sebenar ia tak mau memberi tahu sedikit pun tentang apapun itu tentang masalah pribadinya pada Dani, namun karena ia darurat,Desi pun terpaksa harus memberi tahu di mana alamat sekolah nya.
Deg
Jantung Dani terasa berhenti saat Desi mengatakan nama sekolah tersebut,karena ternyata Desi bersekolah di tempat yang sama dengan Sarah, putri kandungnya.
"Kamu kelas berapa sekarang?" tanya Dani penasaran.
"Kelas dua belas om" jawab Desi,ia menjawab hanya karena menghargai Dani yang sudah mau mengantarkan nya.
Dani lebih terkejut ketika mendengar jawaban Desi barusan,ia benar benar tidak menyangka,jika ternyata dunia ini sempit,namun hanya satu yang Dani khawatirkan sekarang, yaitu,Dani takut jika putri nya tau kalau ia dekat dengan Desi yang sudah pasti Sarah mengenal nya,karena mereka satu sekolah,bahkan satu angkatan.
"Kenapa om,kok kayak kaget gitu?" tanya Desi,saat melihat ekspresi Dani.
"Hah,oh,enggak kok." ucap Dani gugup.
Sepanjang perjalanan Dani hanya terdiam,Desi pun sedikit heran,karena biasanya Dani sangat enak di ajak bicara namun saat ini ia terlihat lebih pendiam,dan itu di mulai saat Desi memberi tahu nama sekolah nya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, mereka pun sampai di dekat sekolah tersebut,Desi sengaja tak mau berhenti di depan gerbang,karena ia tak mau orang orang tau kalau ia di antar oleh om om dan Dani pun mengerti akan hal itu,dan memberhentikan mobilnya agak jauh dari gerbang sekolah,saat mobil berhenti Desi pun langsung turun dari mobil Dani.
"Makasih yah,om sudah mau mengantar." ucap Desi.
"Tak usah sungkan,saya senang,kamu tak menolak untuk saya antar ke sekolah,kalau begitu saya berangkat dulu." Dani tersenyum,Desi pun hanya mengangguk.
Desi memperhatikan mobil Dani yang mulai menjauh dari pandangannya. "Duh aku lupa, Sebentar lagi bel masuk,aku harus cepat cepat." Desi menepuk jidatnya sambil melihat jam di tangan nya.
Tanpa pikir panjang,Desi pun langsung berlari ke arah gerbang, untung saja gerbang nya masih terbuka sedikit,menandakan jika memang tinggal Sebentar lagi waktu nya bel masuk,karena jika bel sudah berbunyi, gerbang pun akan di tutup total.
Tet...tet...tet...
Dan benar saja,saat Desi baru saja menginjakkan kaki nya di pintu masuk,bel pun langsung berbunyi,jelas saja,itu membuat sahabat dekatnya,Reyhan,Nadira, Susi,dan juga Suci heran,karena tak biasa nya Desi datang terlambat.
"Des,kamu nggak papa kan yah?" tanya Susi dengan logat Sunda nya.
"Nggak papa kok." Desi mengelap keringat di dahinya sambil menghembuskan nafas.
("Kenapa akhir akhir ini Desi agak aneh yah,atau itu hanya perasaan ku saja.") batin Nadira.
"Eh,eemm,Iyah,aku bangun kesiangan tadi." ucap Desi sedikit gugup saat Nadira yang bertanya.
("Dira,kenapa kamu nggak ngasih tau kita sih kalau kamu udah nikah sama Reyhan, padahal kita kan sahabat dekat kamu? tapi walaupun pertanyaan itu terus muncul di pikiran ku,aku bisa lebih tenang karena kamu jatuh ke tangan orang yang benar.") batin Desi.
Desi memandangi Nadira,namun itu malah membuat Nadira menjadi heran.
"Des,kamu kenapa ngelihatin aku kayak gitu?" Nadira merasa heran.
"Pagi Anak anak?" ucap Bu Neni tiba tiba,sapaan itu membuat keduanya terkejut pun terkejut.
Mereka pun tak melanjutkan ucapannya, sekarang mereka pokus pada pelajaran karena mereka sangat tau bahwa ketika memang sudah waktunya belajar,maka harus mengikuti aturan yang berlaku.
__ADS_1
"Pagi Bu." jawab murid dengan serentak.
"Silahkan buka buku halaman seratus dua puluh enam." ucap Bu Neni, kini mereka pun memulai pembelajaran.
***
Sedangkan di tempat yang sama namun di ruang kelas yang berbeda, terlihat Sarah tidak terlalu pokus saat pelajaran sedang di mulai,ia hanya terlihat memutar mutar pulpen nya sambil sesekali mencoret buku di depan nya.
("Sepertinya aku tak sanggup menerima kenyataan ini, akhir akhir ini,aku sudah stress dengan kehamilannya ku,belum lagi dengan kedua orang tua ku yang selalu bertengkar,lalu apa yang harus aku lakukan sekarang,tak ada lagi tempat untuk aku bersandar, apalagi perutku sudah mulai terlihat perubahannya nya jika aku tak memakai korset pelangsing di perut ku.") batin Sarah.
"Sarah,bisa kamu pahami apa yang baru saja ibu jelaskan?" tanya Bu Ida.
"Hah apa Bu?" Sarah terkejut saat namanya di panggil.
"Kamu ini niat belajar nggak sih,kenapa kamu melamun di kelas?" Bu Ida tampak tak senang dengan tingkah Sarah.
"Maaf Bu,saya kurang enak badan." ucap Sarah,memang wajah nya pun terlihat pucat.
"Kalau begitu kenapa kamu harus masuk sekolah kalau nggak enak badan?" Bu Ida memang terkenal dengan galak nya, walaupun sebenarnya ia hanya bersikap tegas.
"Maaf Bu,saya harus tetap masuk karena sebentar lagi ujian." jawab Sarah.
"Tapi percuma saja,kalau di sekolah kamu malah nggak pokus, sekarang begini saja,mending kamu istirahat di UKS,Arfan antar Sarah ke ruang UKS!" titah bu Ida.
"Loh,kenapa harus saya Bu?" Arfan merasa keberatan.
"Memang nya kenapa? ayo cepat antar Sarah sekarang!" Bu Ida tampak marah.
("Duh,kenapa harus gue sih,males banget harus anter dia.") batin Arfan.
"Nggak usah Bu,Sarah bisa jalan sendiri kok!" Sarah pun sepertinya merasa keberatan jika harus di antar oleh Arfan.
__ADS_1
"Jangan jangan,nanti kamu pingsan lagi di jalan, lihat,muka mu pucat begitu,ayo cepat Arfan kenapa masih duduk saja!" Bu Ida tampak khawatir.
"I-iyah Bu." jawab Arfan,mau tidak mau ia pun harus menurut.