Cahaya Dalam Kegelapan ( Sebuah Ketulusan)

Cahaya Dalam Kegelapan ( Sebuah Ketulusan)
Kebimbangan


__ADS_3

hujan sedang menguyur kota Jakarta pagi itu sehingga membuat Sintia masih betah berada di bawah selimut.


drt


drt


drt


Sintia menutup telinganya dengan bantal karena sejak tadi ponselnya berdering.


drt


drt


drt


"ishh pasti itu om Bagaskara, kenapa coba menelpon sepagi ini". monolog Sintia lalu melemparkan bantal yang dia gunakan untuk menutupi telinga tadi dan Sintia langsung bangun kemudian menggaruk tengkuknya


drt


drt


drt


dengan malas Sintia mengambil ponselnya yang berada di atas nakas dan Sintia mengkerutkan dahinya saat layar ponsel menampilkan nama Alex.


"kenapa ini Alex menelpon ku". monolog Sintia sambil menggeser tombol untuk mengangkat panggilan tersebut


"hallo Lex". jawab Sintia sambil menguap


"Sintia kamu sudah ada di Indonesia kan". tanya Alex


"sudah". jawab Sintia singkat


"bagus, nanti Jhon akan menjemput mu". ucap Alex


"menjemput ku, untuk apa dan mau kemana". tanya Sintia


"ke rumah Ku". jawab Alex


"ke rumah mu untuk apa". tanya Sintia

__ADS_1


"aku butuh bantuan mu nanti aku jelaskan". ucap Alex langsung mematikan ponselnya


"mau apa dia menyuruhku untuk ke rumahnya bukannya dia sudah menikah, Alex tidak akan mengajakku tidur bersamaan jika iya wah sudah gila ini Alex". monolog Sintia lalu turun dari ranjang dan mengambil handuknya.


setelah selesai mandi Sintia berjalan menuju dapur untuk mengambil selembar roti dan susu, Sintia memakan roti itu dengan tenang. setelah selesai makan Sintia bersiap siap


ting


tong


Sintia mengambil tas dan ponselnya lalu membuka pintu apartemen dan menampilkan Jhon


"mari nona tuan Alex sudah menunggu". ucap Jhon


Sintia mengikuti langkah Jhon dan masuk ke dalam mobil, beberapa menit akhirnya mobil yang mereka tumpangi memasuki halaman rumah Alex, Sintia turun dari mobil dan saat sampai di ruang tamu Sintia melihat Alex sedang duduk di sofa


"ada apa". tanya Sintia


Alex menjelaskan pada Sintia bahwa Alex membutuhkan bantuan Sintia yaitu Alex ingin Sintia dan dirinya bermesraan di depan istrinya agar istrinya merasa hancur dan tersakiti.


"what kamu sudah gila Lex, untuk apa kamu menikahi dia jika ingin membuatnya sakit". tanya Sintia


"kamu tidak perlu tau dan ikuti saja perintah ku". ucap Alex.


Alex langsung menarik Sintia dan mencium Sintia sehingga membuat Sintia terkejut dengan tindakan Alex dan dengan buru buru Alex membuka kancing kemeja Sintia, Sintia berusaha memberontak tetapi kalah tega. saat itu juga Sintia melihat seorang perempuan masuk dan berhenti saat melihat Sintia dan Alex sedang berciuman bahkan Alex bermain dengan buahnya. Sintia diam saat melihat perempuan itu, Sintia dapat melihat perempuan itu sangat cuek dengan pemandangan yang dia lihat dan naik ke atas begitu saja . setelah perempuan itu naik Alex menghentikan kegiatannya.


"itu istrimu". tanya Sintia dan Alex menanggukan kepalanya


"Lex sudah gila ya kamu". tuding Sintia sambil membenarkan kancingnya


"kenapa protes dulu saja kita melakukan lebih dari ini". ucap Alex sehingga membuat Sintia memukul lengan Alex


"itu dulu dan sekarang kamu sudah menikah, aku tidak ingin ikut dalam rencana gila mu itu". ucap Sintia


"mau tidak mau kamu harus membantu mu jika tidak aku akan menyebarkan Vidio mu di atas ranjang bersama ayah". ancam Alex


"Lex kamu sudah gila ingin membuat ayahmu malu". ucap Sintia


"aku tidak akan membuat ayah malu, aku bisa mengedit Vidio itu". jawab Alex


"bagaimana Sintia mau ikut rencana ku atau karir mu sebagai model hancur". ancam Alex

__ADS_1


"oke fine akan aku membantu tapi aku tidak ingin kamu meniduri ku". ucap Sintia


"baiklah itu gampang". jawab Alex sambil menatap langit langit


"dengar Lex aku tidak tau apa tujuan mu menikahinya dan menyakitinya , hanya satu hal yang ingin aku sampaikan padamu jangan sampai kamu menyesal melakukan ini padanya dan yang aku lihat istrimu itu gadis baik". ucap Sintia sambil menatap Alex dan Sintia dapat melihat ada dendam yang begitu membara di mata Alex


"aku tidak butuh nasehat dari mu". ucap Alex dengan dingin karena tadi Alex sempat melihat Laura tidak terpengaruh sama sekali dengan pemandangan yang dia lihat


"oke, aku pergi dulu, jangan sampai menyesal". ucap Sintia lalu meninggalkan rumah Alex


Sintia lebih memilih memesan taxi online daripada di antara oleh Jhon, di dalam taxi Sintia melamun.


"mba kita mau kemana". tanya supir taxi


"antar ke taman saja ya pak". jawab Sintia


supir taxi itu mengantarkan Sintia ke sebuah taman setelah sampai di taman Sintia memakai maskernya lalu membayar taxi itu. Sintia memilih duduk di sebuah kursi. senyum Sintia mengembang saat melihat sebuah keluarga kecil


"mungkin jika dulu aku jadi menikah pasti aku juga sudah memiliki anak sebesar itu, aku dan mas il..". Sintia menghentikan ucapannya lalu mengelengkan kepalanya


"Sintia jangan mengingat masa lalu, dia sudah bahagia bersama istrinya". ucap Sintia tapi saat mengatakan itu Sintia ingat dimana hari yang seharusnya menjadi hari pernikahan tetapi posisinya di gantikan oleh perempuan lain, Sintia menghapus air matanya yang mengalir tiba tiba


Sintia terkejut saat ada tangan mungil yang memberinya sebuah tisu dan gambar terseyum, saat Sintia melihat anak laki laki itu dan anak tersebut terseyum kemudian lari meninggalkan Sintia.


"jangan sedih, jika menginginkan sesuatu maka berdo'a lah pada sang pencipta Tante"


Sintia terseyum miris saat membaca surat yang tertulis pada gambar tersenyum


"aku rasa do'aku tidak akan terkabulkan karena aku sadar diri ini sudah tidak bersih dan kotor". monolog Sintia


tanpa Sintia sadari dia sudah lama berada di taman itu dan saat mendengar suara adzan jantung Sintia berdebar lalu membuat Sintia diam mematung


"sudah lama aku tidak mendengar suara adzan ini bahkan aku sendiri sudah lupa bagaimana caranya sholat". kekeh Sintia lalu berdiri dan tanpa Sintia sadari langkah berjalan menuju ke masjid yang ada di dekat taman.


saat sampai di depan masjid Sintia berhenti dan melihat orang orang yang masuk ke dalam masjid.


"neng ayo masuk sebentar lagi sholatnya akan di mulai". ajak ibu ibu pada Sintia


"eh iya Bu". jawab Sintia dengan gugup


"ayo neng". ajak ibu ibu itu saat Sintia tidak beranjak dari tempatnya

__ADS_1


"ibu duluan saja, saya lagi tidak sholat". jawab Sintia


setelah ibu ibu itu masuk ke dalam masjid, Sintia memundurkan langkahnya dan berjalan menjauh dari masjid. Sintia berjalan dengan pikiran yang tidak bisa di jabarkan. Sintia menghentikan jalannya saat melihat mobil berhenti di depannya, Sintia menghembuskan nafasnya dengan kasar saat melihat om Bagaskara keluar dari mobil. Sintia berjalan menghampiri Bagaskara dan masuk ke dalam mobil yang di ikuti oleh Bagaskara. Di dalam mobil Sintia hanya dia saja ketika mobil melaju bukan ke arah apartmentnya.


__ADS_2