
malam hari Sintia duduk di balkon kamarnya dan meletakan handuk di bangku yang ada di sana, Sintia meminum coklat panas yang telah di sediakan oleh Zahra. coklat panas itu dapat menghangatkan tenggorokannya. Sintia menatap langit malam London itu dengan perasaan yang tidak bisa dia jabarkan, Sintia mengencangkan tali piayama tidurnya yang berbahan satin itu yang panjangnya hanya dua jengkal dari pinggangnya yang ramping.
"jalan hidup yang akan kita lalu tidak ada yang tau seperti apa kedepannya". monolog Sintia sambil melepas kelopak mawar yang dia pegang
"dulu hidup dalam kesederhanaan tetapi membuat jiwa tenang dan sekarang hidup di kelilingi dengan kemewahan tetap tidak ada kebebasan berada hidup di sangkar emas". sambung Sintia sambil meniup kelompok mawar yang telah dia cabut dan tersenyum miring
"cincin Berlin dan kalung berlian bahkan barang barang limited edition telah membalut tubuhku sehingga membuat banyak orang iri dengan ku tetapi mereka tidak tau karena barang barang itu aku harus membayar dengan sesuatu". monolog Sintia lalu melemparkan tangkai mawar itu ke sembarang arah lalu memejamkan matanya dan membiarkan angin malam menerpanya
"apa suatu saat aku bisa merasakan hidup berkeluarga tapi siapa yang mau menerima ku bahkan para pria menatapnya karena ingin merasakan kemolekan tubuhku". monolog Sintia lagi dan satu tetes air mata jatuh begitu saja lalu Sintia buru buru menghapus air mata tersebut karena baginya tidak ada gunanya membuang buang air matanya dan itu tidak akan membuatnya kembali seperti dulu.
Sintia mengusap lengannya yang terasa dingin tetapi tidak membuatnya ingin masuk kedalam kamar karena malam ini dia hanya ingin menikmati malam yang sunyi ini seperti hidupnya dan Sintia juga telah mematikan ponselnya karena dia tidak ingin menerima telepon dari om Bagaskara karena setiap malam saat Bagaskara tidak ada bersamanya maka Bagaskara selalu menelponnya dan mengajaknya berbincang. saat sedang menikmati udara malam itu Zahra menghampirinya.
"nona tuan Bagaskara ingin bicara kepada nona dan tuan Bagaskara mengatakan kenapa ponsel nona tidak bisa di hubungi". ucap Zahra yang habis menerima telepon dari Bagaskara karena Bagaskara sudah mencoba menghubungi tetapi ponselnya tidak aktif
"katakan saja aku sudah tertidur karena malam ini aku ingin merilekskan pikiran dan tidak ingin di ganggu oleh siapapun". jawab Sintia yang masih setia menutup matanya
__ADS_1
ponselnya Zahra berdering kembali dan Zahra langsung mengangkat panggilan dari Bagaskara kemudian Zahra mengatakan seperti apa yang di minta oleh Sintia tetapi Bagaskara tidak percaya begitu saja sehingga melakukan sambung Vidio call, mau tidak mau Zahra mengangkat panggilan itu dan mengarahkan kamera ke Sintia yang sedang memejamkan matanya.
Bagaskara yang melihat itu sedikit emosi karena melihat Sintia yang tertidur di luar dan Bagaskara menyuruh Zahra untuk membangunkan Sintia untuk pindah ke kamarnya. setelah sambungan telepon mati Zahra ingin menyuruh Sintia pindah tidak tega karena melihat wajah Sintia yang damai tidak ada beban saat menutup matanya itu dan meninggalkan Sintia di balkon sendiri, Zahra juga mengambil handuk Sintia yang terletak di bangku dan meletakan kembali handuk itu pada tempatnya. Zahra mengambil selimut dan menyelimuti tubuh Sintia agar tidak kedinginan.
setelah kepergian Zahra Sinta membuka matanya dan mengeratkan selimutnya, Sintia mendengar apa yang Bagaskara bicarakan dengan Zahra. Bagaskara memang memberikan apapun kepada Sintia, kemewahan hingga dia bisa menjadi model terkenal karena campur tangan dari Bagaskara. tujuh tahun di London dia tidak mendengar kabar kakaknya karena kakaknya Sintia menjadi seperti ini.
saat malam semakin sunyi Sintia masuk ke kamarnya dan menutup pintu balkon dan tidak lupa menguncinya, setalah itu Sintia membuka tasnya dan mengambil obat tidur lalu meminumnya setelah meminum obatnya Sintia langsung membaringkan tubuhnya di ranjang, semenjak kakinya menginjak London di situlah Sintia minum obat tidur agar bisa tidur nyenyak dan agar saat keesokan paginya Sintia bisa menghadapi dunia dengan kuat dan mental yang hebat. untung saja di London ini tidak ada yang tau apa yang terjadi dengan Sintia sehingga tidak ada cemoohan yang dia terima melainkan pujian yang selalu dia terima.
pagi hari Sintia masih setia di bawah selimut dan pagi ini tidak ada jadwal pemotretan sehingga membuat bermalas malas di ranjang yang menjadi saksi selama tujuh tahun ini apa yang terjadi di ranjang itu. Zahra masuk ke kamar Sintia dan melihat Sintia yang masih tertidur membuat kasihan untuk membangunkan Sintia karena Zahra tau selama ini Sintia selalu tertidur Larut malam dan akan bisa tertidur setelah meminum obat tidur tetapi Bagaskara yang sudah meneleponnya sejak tadi membuat mau tidak mau membangun' Sintia. Zahra berjalan menghampiri Sintia yang masih terlelap
"nona bangun". bisik Zahra
"hmm". erang Sintia lalu tangan mencari ponsel di atas nakas lalu mengaktifkan ponselnya
setelah ponsel itu aktif Bagaskara langsung menelpon dan Sintia mengangkat panggilan itu dengan malas serta mata yang masih terpejam.
__ADS_1
"hallo om". jawab Sintia dengan suara serak ciri khas orang bangun tidur
"kenapa ponselnya tidak aktif bukannya saya sudah mengatakan kepadamu jangan mematikan ponselmu" ucap Bagaskara di seberang telepon
"maaf om Sintia hanya ingin istirahat dengan tenang". jawab Sintia dengan malas
"Ingat jangan lupa untuk memasang KB karena saya tidak pernah pakai pengaman selama ini dan saya tidak ingin sampai kamu hamil". ucap Bagaskara dan Sintia mendengus sebal
"Sintia ingat om jadi jangan selalu mengingatkan Sintia tentang itu dan Sintia juga tidak ingin hamil di luar nikah karena Sintia tidak ingin anak Sintia menjadi bahan cemoohan orang orang saat tau dia anak lahir dari zina". ucap Sintia lalu mematikan sambungan teleponnya begitu saja dan melemparkannya ponsel itu ke sembarang arah.
saat ponselnya berbunyi lagi Sintia mengabaikan panggilan tersebut hingga panggilan itu sudah tidak terdengar lagi. Sintia merasa sebal karena Bagaskara selalu meningkatkan dirinya untuk memasang KB padahal Sintia selalu ingat jadwal dia untuk memasang KB lagi setelah tiga bulan.
"dasar tua Bangka menyebalkan". umpat Sintia sambil menutupi telinga dengan bantal
"aku tau kau menyelamatkan mu dari madam Ela tapi kau juga mengambil keuntungan dari ku bahkan sudah tujuh tahun". sambung Sintia
__ADS_1
setelah tidak mendengar nada telepon Sintia membuka bantalnya dan turun dari ranjang kemudian menuju balkon dan melihat langit pagi yang sangat cerah.
"pagi yang cerah tapi tidak secara hidupku". monolog Sintia sambil melihat pelayan yang sedang menyirami bunga mawar miliknya itu , Sintia hampir memenuhi mansion ini dengan bunga mawar agar terlihat berwarna tidak suram seperti hidupnya lagian Bagaskara sudah mempercayakan kepadanya mau di dekorasi seperti apa Mansion ini saat mereka tiba di mansion ini. notabennya Sintia yang menyukai bunga mawar langsung meminta Bagaskara untuk memesan bunga mawar yang banyak dan tanpa pikir panjang Bagaskara langsung membeli mawar yang diminta Sintia