Cahaya Dalam Kegelapan ( Sebuah Ketulusan)

Cahaya Dalam Kegelapan ( Sebuah Ketulusan)
Masih Mampu Membelikan Yang Baru


__ADS_3

"kenapa mas membelikan aku ponsel". tanya Sintia


"agar mas bisa menghubungi mu kapanpun". jawab Ilham


"ayah sama ibu sudah berangkat mas". tanya Sintia


"sudah". jawab Ilham


"mas ganti baju dulu dan aku akan menyiapkan makan untuk mas". ucap Sintia


"iya". jawab Ilham


setelah Ilham masuk ke kamar mereka, Sintia berjalan ke dapur untuk menyiapkan makan siang. Sintia melihat ke arah pintu tetapi Ilham belum kembali juga.


"kenapa mas Ilham dan Ari belum turun juga, ini makan sudah tersaji semuanya". ucap Sintia


Sintia melepas apronnya dan berjalan menaiki tangga dan setelah sampai di depannya kamarnya Sintia langsung masuk dan tidak melihat suaminya


"mas mas Ilham di kamar mandi ya, makannya sudah siap". ucap Sintia


tok


tok


tok


"mas mas Ilham". Sintia mencoba memanggil suaminya


"kenapa tidak ada Jawaban dan tidak ada tanda tanda ada orang di dalam kamar mandi". ucap Sintia

__ADS_1


Sintia memegang handle pintu dan secara perlahan membukanya ternyata tidak ada siapa siapa


"kemana mas Ilham, apa di kamar Ari ya". monolog Sintia


Sintia bergegas keluar dari kamar dan akan menuju ke kamar Ari tetapi saat keluar Sintia melihat pintu kamar sebelahnya sedikit terbuka, dengan rasa penasaran Sintia melangkahkan kakinya ke depan pintu itu dan sedikit membuka pintu tersebut, Sintia melihat foto pernikahan Ilham dan Kania yang terpasang di dinding kamar itu dan juga foto foto lainnya. Sintia melihat Ilham yang sedang berdiri menghadap ranjang dan Sintia melihat Ilham memegang foto Kania


"apa mas Ilham merindukan mba Kania". monolog Sintia


sedangkan Ilham belum menyadari kehadiran Sintia yang berada di belakangnya, Ilham mengusap foto itu dan Kemudian memasukkan foto itu ke dalam kardus


"mas kenapa Fotonya di masukan kedalam kardus" ucap Sintia


Ilham yang terkejut mendengar suara Sintia langsung membalikan badannya


"maaf aku masuk ke kamar ini tadi aku mencari mas di kamar tidak ada aku pikir ada di kamar Ari dan saat aku lihat pintu kamar ini terbuka sedikit dan aku melihat mas ada di sini, maaf". ucap Sintia karena merasa tidak enak telah masuk ke kamar milik Ilham dan Kania


"tidak apa apa, aku hanya mau membereskan barang barang Kania dan akan aku letakkan di gudang, aku akan mengosongkan kamar ini". jawab Ilham


"di kamar Ari sudah ada foto Kania dari dia mengandung Ari dan melahirkan Ari, dan sudah saat aku membereskan barang barang ini, dan untuk baju baju Kania akan mas berikan pada orang orang yang membutuhkan dan foto foto Kania akan mas letakan di gudang". jawab Ilham sambil memasukkan foto foto yang lain dan Sintia melihat beberapa kardus yang sudah terisi dengan baju Kania


"mas ingin membuka lembaran baru dengan mu jadi sudah saatnya ini di bereskan dan kamar ini akan kosongkan, bukan maksud mas untuk menghilangkan atau melupakan Kania karena Kania tetap ada di hati mas di tempatnya dan juga dengan mu Sintia kamu juga ada di hatiku, aku tidak ingin kamu merasa minder atau kurang percaya diri dengan kata kata ibu tadi pagi, dan mas berharap kamu Jangan mikir jika dirimu tidak pantas menikah dengan ku". ucap Ilham sambil menatap Sintia


"mas tau setiap malam kamu terbangun dan menyalahkan dirimu telah masuk ke pernikahan ku dan Kania lalu kamu menyalahkan dirimu karena tidak pantas berada di samping ku karena masa lalu, dengar kita di pertemukan kembali itu adalah takdir apalagi kita dipertemukan saat diriku adalah seorang duda Sintia, mungkin inilah jalan takdir kita". ucap Ilham sambil memegang pundak Sintia


"tapi tujuh tahun aku melakukan zina mas bahkan melakukan hubungan tanpa Ikatan pernikahan, kamu bisa mendapatkan perempuan yang jauh lebih baik daripada aku, dan kehadiran mu membuat hubungan mu dan ibu sedikit rengang". ucap Sintia


"tidak ada yang baik di dunia ini kecuali diri kita mau memperbaikinya dan soal ibu kamu tidak usah di pikirkan nanti cepat atau lambat akan bisa menerima mu, dan sekarang Jangan melihat kebelakang tapi lihat ke depan bersama ku". ucap Ilham sambil terseyum dan mencubit pipi Sintia


"sudah jangan di pikirkan sekarang bantu mas memasukan semua ini". perintah Ilham

__ADS_1


Sintia membantu Ilham memasukkan barang barang Kania ke dalam kardus, rencana Ilham Sendal atau sepatu, tas, jilbab dan gamis milik Kania akan di berikan pada orang yang membutuhkan. sedangkan untuk Sintia , Ilham akan membeli yang baru dan Ilham tidak akan membiarkan Sintia memakai barang barang bekas milik Kania.


alasan Ilham membereskan barang barang milik Kania adalah saat dia mengantar orang tuanya Ilham sempat berdebat pada ibunya karena ibunya melarang Ilham untuk membelikan Sintia baju ataupun barang barang lainnya dan ibunya menyuruh Ilham untuk memberikan bekas Kania tentu saja Ilham menolak hal itu karena Ilham masih sanggup membelikan barang barang barang untuk Sintia.


kenapa ibunya melarang Ilham membelikan barang barang baru karena setelah menikah dengan Sintia ibunya tau bahwa Ilham telah mengeluarkan banyak uang yaitu untuk membayar untuk pinalti dari perusahaan BeautyVes dan juga memberikan uang pada seseorang dan entah darimana ibunya tau hal itu.


Ilham memberikan barang barang Kania pada orang lain karena takut saat ibunya kemari akan memaksa Sintia memakai barang Kania dan berujung hinaan dari ibunya. tadi ibunya mengatakan pada Ilham bahwa bulan depan ibunya akan berkunjung lagi padahal dulu saat dia bersama Kania ibunya datang kemari sapa Kania hamil. karena masa lalu Sintia membuat ibunya tidak menyukainya Sintia padahal ibunya tau bahwa penyebab Sintia seperti ini adalah Kania, saat Kania mengakui perbuatannya ibunya sama sekali tidak marah ataupun membenci Kania.


tin


tin


tin


"Sintia tolong kamu lakban kardus yang berisi baju, sepatu, tas itu, mas mau menemui orang yang akan membawa barang barang ini". ucap Ilham saat mendengar klakson mobil


"iya mas". jawab Sintia


setelah Ilham keluar, Sintia mengambil lakban dan merekat pada lima kardus itu dengan benar agar tidak terbuka di perjalanan.


"sudah selesai". tanya Ilham


"sudah mas". jawab Sintia


Ilham menumpuk tiga kardus dan mengangkatnya


"mas aku bantuin ya". ucap Sintia saat melihat suaminya yang kesusahan


"tidak perlu sebaiknya kamu tunggu di sini". ucap Ilham lalu keluar dari kamar itu

__ADS_1


Sintia melanjutkannya membereskan foto foti yang tersisa karena di kamar itu banyak foto mereka berdua


"seperti mas Ilham dan mba Kania sudah mengenal sejak di bangku sekolah". ucap Sintia saat melihat foto Ilham dan Kania menggunakan seragam yang sama


__ADS_2