Cahaya Dalam Kegelapan ( Sebuah Ketulusan)

Cahaya Dalam Kegelapan ( Sebuah Ketulusan)
Bukan Keinginanku


__ADS_3

setelah pulang dari lokasi pemotretan Sintia mengajak sopirnya untuk mendatangi suatu tempat dan di sinilah Sintia berada di pinggir jalan dari dalam mobil Sintia mengamati sebuah bangunan yang pernah ada dalam hidupnya.


"ternyata tempat ini masih sama bahkan bangunan tidak ada yang berubah hanya warna catnya saja dan anak anak yang mengaji saja yang berubah". monolog Sintia dari dalam hati , ya entah dorongan darimana mana Sintia mendatangi tempat dia mengajar dulu.


saat Sintia sedang asik melihat bangunan itu bibirnya tersenyum saat melihat anak anak keluar dan berhamburan untuk pulang dan saat itu juga Sintia melihat Ilham yang keluar dari tempat mengaji itu dan di ikuti wanita bercadar serta anak yang menabraknya kemarin dan terlihat seperti keluarga bahagia.


"pasti itu istrinya". monolog Sintia dan menutup kaca mobil


"pak kita kembali ke apartemen". ucap Sintia dan menyandarkan badannya sedangkan Zahra sejak tadi hanya diam saja.


"seperti tadi itu Sintia". monolog Ilham dalam hati saat tidak sengaja melihat Sintia yang menutup kaca mobil


"ustadz Ilham dan Ning Aida sudah seperti sepasang suami-istri". goda salah satu ibu ibu yang menjemput anaknya


"bisa saja ibu ini". jawab Ning Aida dengan malu malu


"sebaiknya cepat di halalin Ning Aida ustadz Ilham, nanti keburu di ambil orang dan Ari juga butuh sosok ibu". sambungnya sedangkan Ilham hanya bisa menghela nafasnya karena banyak ibu ibu yang mengatakan untuk segera menikahi Ning Aida


"maaf Bu jangan seperti itu nanti takut akan jadi gosip dan tidak baik untuk saya ataupun Ning Aida, dan saya juga belum ada pikiran untuk menikah lagi". ucap ustadz Ilham


"saya permisi dulu assalamualaikum". sambung ustadz Ilham


"waalaikumussalam". jawab ibu ibu itu dan Ning Aida secara bersamaan


Ning Aida hanya bisa menatap punggung ustadz Ilham yang berjalan bersama anaknya.


"Ning Aida sudah cocok Lo jadi ibunya Ari". ucap ibu ibu tadi


"do'akan saja semoga saya dan ustadz Ilham segera menikah". jawab Ning Aida

__ADS_1


"iya Ning dan saya yakin ustadz Ilham pasti tidak akan menolak Ning karena Ning lulus Kairo Hafizh quran dan seorang anak pemilik pesantren". ucap ibu tadi


"ibu bisa saja, sudah ya Bu saya pulang dulu takut di tungguin Abah dan ummah". ucap Ning Aida


"assalamualaikum bu". sambung Sisa


"waalaikumussalam"


Ning Aida segera pulang karena tadi abahnya mengirimkan pesan karena ada hal penting yang ingin Abah sampaikan dan Ning Aida juga akan menggunakan kesempatan ini untuk berbicara pada abahnya bahwa dia mencintai ustadz Ilham dan akan meminta Abahnya untuk menjodohkannya dengan ustadz Ilham, dan Ning Aida yakin jika abahnya yang meminta ustadz Ilham pasti tidak akan bisa menolak. dengan hati yang senang Aida melangkah kakinya menuju pesantren.


sebenarnya bisa saja Ning Aida mengajar mengaji di lingkungan pesantren tetapi karena dia ingin berdekatan dengan ustadz Ilham maka Ning Aida ikut menjagar di tempat ustadz Ilham mengajar mengaji. ustadz Ilham sendiri selain mengajar di pesantren dia juga mengajar mengaji di tempat yang dia bangun sepuluh tahun yang lalu, dulu ustadz Ilham membangun tempat mengaji itu bersama teman kuliahnya dengan tujuan untuk mengajar mengaji untuk anak anak yang tidak memiliki biaya dan sampai sekarang tempat itu masih berjalan.


Setelah sampai apartemen Sintia langsung masuk ke kamarnya sedangkan Zahra masuk ke dapur untuk memasak makanan. di dalam kamar Sintia membuka lemarinya dan mengambil handuk baru saat itu juga jatuh sebuah kain berwarna putih, Sintia mengambil kain itu dan ternyata sebuah jilbab.


"inikan jilbab yang aku pakai di dalam mimpi itu". monolog Sintia


"dan ini jugakan jilbab yang mas Ilham berikan saat mengkhibah ku waktu itu". ucap Sintia saat dia meneliti jilbab itu


Sintia melihat ke dalam lemari mencoba berpikir kenapa jilbab itu ada di dalam lemari, ingatan Sintia berputar saat dirinya mengemasi barang barang dan pindah ke apartemen ini, pada saat itu yang membereskan pakaiannya bukan dirinya tetapi pekerja yang di tugaskan oleh Om Bagaskara karena pada saat itu dia hanya melamun meratapi hidupnya.


secara perlahan Sintia melangkahkan kakinya menuju meja rias dan dengan tangan yang sedikit gemetar Sintia menggunakan hijab itu.


"nona cantik saat memakai itu". ucap Zahra yang masuk ke dalam kamar Sintia dan Sintia langsung melepaskan hijabnya


"nona ini jusnya aku letakkan di meja". ucap Zahra


"iya Zahra letakan di sana saja, aku mau mandi lebih dulu". jawab Sintia dan masuk ke dalam kamar mandi


setelah Sintia masuk Zahra mengambil jilbab yang tergeletak di lantai dan meletakan di tas ranjang milik Sintia.

__ADS_1


"aku dapat melihat di hatimu ada rasa ingin kembali di kehidupan mu yang dulu nona tetapi tidak ada keberanian dalam dirimu untuk memberontakan, dan aku berdo'a semoga saja nona bisa sedikit berani terdapat tuan Bagaskara agar tidak memanfaatkan tubuh nona sehingga nona bisa terlepas dari dunia yang tidak nona inginkan". monolog Zahra lalu meninggalkan kamar Sintia


sedangkan Sintia yang berada di bathtup dan memejamkan matanya terbayang saat hari harinya dia habiskan untuk mengajar anak anak mengaji.


"Bu enak ya jadi guru ngaji". ucap salah satu murid Sintia


"kenapa Cia bilang enak". tanya Sintia pada saat itu


"karena kita bisa berbagi ilmu dan saat Cia sudah besar Cia ingin seperti Bu Sintia". jawab Cia


"dan Cia akan membagikan ilmu yang Cia dapatkan pada anak anak yang ingin belajar mengaji". sambung Cia dan Sintia terseyum


"semoga Cia selalu jadi anak Sholeh dan semakin dewasa Cia dan semakin bertambah ilmunya dan bermanfaat untuk orang lain". ucap Sintia sambil mengusap kepala Cia


"aamiin, Cia pulang dulu ya Bu soalnya harus bantu ibu jualan". ucap Cia


"assalamualaikum Bu guru cantik". ucap Cia


"waalaikumussalam hati hati di jalan". jawab Sintia


Cia adalah salah satu muridnya yang setelah mengaji langsung pulang terlebih dahulu karena harus membantu ke-dua orang tuanya, setelah kepergian Cia , Sintia melanjutkan mengajar ngaji pada anak anak lainnya dan Sintia tersenyum saat melihat antusias anak anak dalam belajar


Sintia membuka matanya saat bayang bayang itu berputar di pikirannya, Sintia mengusap wajahnya dengan kasar, sejak menginjak kaki di Indonesia Sintia selalu terbayang bayang kehidupannya yang dulu


"apa aku salah mengambil keputusan kembali ke sini ya, sejak aku di sini seakan akan kehidupanku yang dulu selalu menghantuiku". monolog Sintia


"ayolah Sintia kamu bahagia dengan kehidupan mu yang sekarang please jangan mengingat hidup mu yang dulu". sambung Sintia


Sintia melilitkan handuk dan keluar kamar mandi, setelah selesai memakai pakaian Sintia mengambil ponselnya dan begitu banyak pesanan dan panggilan dari om Bagaskara tetapi Sintia tidak berniat untuk membalas ataupun menghubungi Om Bagaskara. Sintia memasukkan ponselnya ke dalam laci dan meminum jusnya

__ADS_1


"semoga saja om Bagaskara lama di Balinya". ucap Sintia sambil menatap langit langit kamarnya.


__ADS_2