Cahaya Dalam Kegelapan ( Sebuah Ketulusan)

Cahaya Dalam Kegelapan ( Sebuah Ketulusan)
Kuat Tidak Kuat harus Berdiri


__ADS_3

"ketika aku ingin menyerah kenapa aku masih di berikan kesempatan untuk hidup dan apa maksud dari mimpi yang sering menghampiri ku itu, siapa wanita itu lalu pria dan anak laki laki itu juga siapa, dan kenapa aku juga mengendong seorang bayi". monolog Sintia dalam hati lalu menerima suapan dari Zahra


Zahra sendiri tidak tau apa yang terjadi pada Sintia karena saat dia memasuki apartemen dan masuk ke kamar Sintia, Sintia sendiri sudah dalam keadaan seperti itu.


"nona minum obatnya dulu". ucap Zahra dan menyerahkan obat pereda nyeri


Sintia mengambil obat itu lalu meminumnya, sejak bangun Sintia hanya diam saja dan tidak banyak bicara, keadaan Sintia membuat Zahra sangat khawatir


"sebaiknya nona istirahat dan jika membutuhkan sesuatu nona bisa memanggil saya". ucap Zahra dan Sintia hanya menanggukan kepalanya


setelah Zahra keluar, Sintia merebahkan dirinya dan memiringkan badannya lalu menggunakan tangannya sebagai bantal, Sintia sudah tidak bisa membendung air matanya, tujuh tahun lamanya Sintia bersikap baik baik saja dihadapan semua orang.


sedangkan di kantor Bagaskara uring uringan atas penolakan Sintia dan hari ini untuk pertama kalinya Sintia menolak dirinya bahkan meninggikan suaranya, Bagaskara memijat dahinya


"siapa yang telah membuat mu berubah Sintia". monolog Bagaskara


"tuan". panggil Jhon


"ada apa". jawab Bagaskara


"maaf tuan bukan ikut campur urusan tuan hanya saja saya ingin mengatakan sesuatu, mungkin penolakan nona Sintia terhadap tuan karena nona ingin hidup seperti yang lain apalagi nona masih berumur dua puluh tujuh tahun pasti ada keinginan hidup berumah tangga dan nona tidak ingin menghabiskan hidupnya sebagai Simpanan". ucap Jhon


"tapi aku tidak pernah menganggapnya sebagai Simpanan Jhon". ucap Bagaskara


"saya tau tuan selama ini tuan sangat membantu nona Sintia tetapi semua itu nona Sintia balas dengan melayani tuan tanpa adanya ikatan pernikahan sehingga membantu nona berpikir dirinya sebagai Simpanan ataupun menjual dirinya untuk apa yang tuan berikan untuknya". ucap Jhon


"tuan pikirkan jika itu terjadi pada putri tuan bayangkan saja tuan saya tau tuan tidak memiliki anak perempuan, bagaimana perasaan tuan dan bagaimana perasaan putri tuan". sambung Jhon


"tuan sebaiknya biarkan nona Sintia menemukan kebahagiaan dan sudah cukup selama tujuh tahun ini nona hidup dalam kegelapan yang mengikuti kemanapun dia pergi". ucap Jhon


Bagaskara diam saat mendengar ucapan Jhon dan memejamkan matanya.


"sebaiknya kamu keluar Jhon". perintah Bagaskara dan Jhon keluar dari ruangan tuannya

__ADS_1


Bagaskara memikirkan apa yang di ucapkan Jhon tetapi di satu sisi dia tidak rela jika Sintia meninggalkannya dan apa yang di katakan Jhon ada benarnya menurut Bagaskara.


"argh". umpat Bagaskara lalu meninggalkan mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang


"hallo tuan". jawab Zahra di seberang telepon


"bagaimana keadaan Sintia". tanya Bagaskara


"keadaan baik baik saja tetapi sejak nona siuman nona tidak berbicara satu katapun tuan". jawab Zahra dan Bagaskara memijat dahinya saat mendengar jawaban Zahra


"hmmm jika ada apa apa hubungi saya dan beritahu setiap harinya tentang Sintia". ucap Bagaskara


"baik tuan". jawab Zahra


setelah menanyakan keadaan Sintia Bagaskara mematikan sambungan teleponnya dan keluar dari ruangannya dengan perasaan gundah gulana.


Diapartement Sintia duduk di atas ranjang sambil melihat keluar jendela, saat tadi dirinya tertidur mimpi yang sama terus menghampiri dirinya sehingga membuat tidur Sintia tidak tenang


"dunia nyata hidup seperti ini saat tidur terus bermimpi yang sama kenapa tidak ada ketenangan sama sekali". monolog Sintia dalam hati sambil melihat sepasang burung yang sedang singgah di pohon


"Bunda". teriak seorang anak laki laki sehingga membuat Sintia membuka matanya


"jika seperti ini terus aku bisa gila kenapa setiap aku memejamkan matanya mimpi itu menghampiri ku". ucap Sintia


"nona ternyata ada di sini". ucap zahra


"ada apa Zahra". tanya Sintia


"tidak ada nona hanya khawatir saja saat tidak melihat nona di dalam kamar". jawab Zahra


"Zahra buat janji dengan dokter Vivi". ucap zahra


"dokter Vivi". tanya zahra dan di anggukan oleh Sintia

__ADS_1


"kenapa nona ingin menemui dokter Vivi, apa nona merasa sedang tidak baik baik saja". monolog Zahra sambil mengirimkan pesan pada dokter Vivi


"nona baik baik sajakan". tanya Zahra


"aku baik baik saja hanya ingin berkonsultasi saja pada dokter Vivi". jawab Sintia


dulu saat awal awal berada di London Sintia sering berkonsultasi pada dokter Vivi karena tidak merasakan ketenangan dan trauma akan apa yang terjadi pada dirinya, lima bulan Sintia selalu berkonsultasi pada dokter Vivi yaitu seorang psikiater hingga akhirnya Sintia bisa menerima kenyataan dalam hidupnya. sekarang Sintia merasakan kegelisahan itu datang kembali sehingga dia ingin melakukan konsultasi kembali.


"kata dokter Vivi besok nona bisa menemuinya karena hari ini dokter Vivi baru tiba di Indonesia". ucap Zahra dan Sintia menanggukan kepalanya


dokter Vivi sering bolak balik Indonesia London karena pekerjaannya, sebenarnya dokter Vivi tinggal di London hanya saja beberapa bulan sekali dokter Vivi ke Indonesia.


"Zahra tinggalkan aku sendirian". ucap Sintia


"baiklah nona dan jangan melakukan perbuatan yang akan merugikan nona". ucap Zahra lalu meninggalkan Sintia


Setelah kepergian Zahra, Sintia masuk ke dalam kamarnya lalu membuka lemarinya dan mengambil hijab yang beberapa hari yang lalu dia temukan di lemarinya.


"apa masih pantaskah diriku memakai ini dan menjalani hidup seperti dulu bahkan aku sudah lupa bagaimana cara sholat dan mungkin saja aku sudah tidak bisa membaca ayat suci Al-Quran". monolog Sintia lalu terkekeh


"sangat lucu bukan takdir ini, dulu aku seorang guru yang mengajari anak anak mengaji dan tata cara sholat tetapi sekarang aku tidak bisa melakukan semua itu bahkan meninggalkan kewajiban itu selama tujuh tahun ini dan melakukan sebuah dosa yaitu zina". ucap Sintia


"argh". teriak Sintia sambil menjambak rambutnya


"seberapa kotornya diriku ini sekarang hiks hiks". tangis Sintia


"argh".


pyaar


pyaar


pyaar

__ADS_1


Sintia melemparkan semua alat alat makeupnya sehingga membantu semua barang barang itu pecah. Sintia menjatuhkan dirinya di lantai dan menumbuhkan semua matanya dengan memeluk jilbab pemberian ustadz Ilham. sedangkan Zahra yang berada di balik pintu yang sedikit terbuka ikut menetaskan air matanya saat melihat Sintia yang sangat rapuh.


"aku yakin nona adalah wanita kuat sehingga memberikan ujian seperti ini pada nona dan aku yakin saat nona dapat melewati ujian ini maka akan ada kebahagiaan untuk nona". ucap Zahra lalu meninggalkan kamar itu karena tidak sanggup melihat Sintia yang begitu rapuh


__ADS_2