
Ilham mengeliat badannya dan secara perlahan membuka matanya, Ilham menyesuaikan cahaya yang ada di dalam kamarnya. Ilham terseyum saat melihat istrinya yang masih tertidur di pelukannya. Ilham melihat jam pada dinding yang menunjukkan pukul empat pagi.
"sayang bangun yuk sudah jam empat pagi". bisik Ilham dan menepuk pipi istrinya
"istri ku ayo bangun hmmm siap siap sholat subuh sayang, nanti keburu Ari bangun". ucap Ilham
Sintia membuka matanya lalu terseyum pada suaminya, tangan Sintia terulur untuk mengusap pipi Iham. rasanya seperti mimpi bagi Sintia mendapatkan Kebahagiaan seperti ini dan kebahagiaan itu Sintia dapat dari Ilham yaitu laki laki yang dulu hampir menikah dengannya. takdir tidak ada yang tau mereka sudah terpisah selama tujuh tahun lamanya dan kini mereka di persatukan dalam sebuah ikatan pernikahan
"rasanya seperti mimpi" ucap Sintia dan Ilham terkekeh mendengar perkataan Sintia
"aku tidak ingin bangun karena aku tidak ingin kebahagiaan ini hilang". sambung Sintia
"ini nyata sayang dan kebahagiaan ini juga nyata". ucap Ilham lalu mencium tangan Sintia
Sintia yang di perlakukan seperti itu langsung tersipu malu dan langsung menenggelamkan kepalanya di dada bidang milik Ilham. Ilham mencium puncak kepala Sintia.
"Sudah yuk bangun dan siap siap untuk sholat subuh jangan sampai telat". ucap Ilham
mereka tidak perlu terburu buru karena selama mereka langsung mandi setelah menyelesaikan ibadah panjang mereka. Sintia langsung menjauh kepala dan turun dari ranjang. setelah terdengar adzan subuh Ilham mengajak Ari untuk sholat di masjid sedangkan Sintia sholat di rumah. Sintia mulai bisa melakukan sholat sendiri setelah di ajari oleh suaminya sendiri dan tinggal belajar membaca Al Qur'an yang benar.
setelah selesai sholat Sintia mengangkat kedua tangannya
"ya Allah terima kasih engkau telah memberikan sebuah cahaya kepada hamba mu ini yang telah lalai dari ajaran mu dan terima taubat hamba mu ini, hamba tau dosa yang telah hamba perbuat selama tujuh tahun ini dan terima kasih engkau telah memberikan hamba kembali ke jalan yang benar melalui suami hamba dan terima kasih telah mengirimkan seorang laki laki yang tidak mempermasalahkan keburukan hamba, dan hamba mohon berikan kebahagiaan dan kelimpahan rezeki dan nikmat sehat pada pernikahan kami, ya Allah dan bukakan pintu hati ibu mertua hamba agar bisa menerima hamba sebagai menantunya"
Sintia memanjatkan sebuah do'a dan Sintia tidak lupa mendo'akan Kania almarhum istri pertama suaminya, Sintia tau bahwa Kania terlibat dalam kejadian malam itu, Sintia tau karena tidak sengaja membaca surat yang Sintia tulis untuk Ilham, Sintia menemukan surat itu sewaktu membantu Ilham membereskan kamarnya bersama Kania.
Sintia sempat marah saat membaca surat tersebut tapi akan percuma jika marah dia akan marah pada siapa. Sintia akhir memilih Berdamai dan memaafkan Kania agar tidak memberatkan Kania di atasnya sana.
Sintia melipat mukenah yang dia pakai dan meletakan pada tempatnya. setelah itu Sinta berjalan ke arah dapur untuk menyiapkan sarapan.
__ADS_1
"assalamualaikum". ucap Ilham dan Ari secara bersamaan
"waalaikumussalam". jawab Sintia menghampiri suaminya dan mencium tangan suaminya yang mendapat balasan ciuman kening oleh Ilham
Sintia mensejajarkan tubuhnya dengan Ari yang terlihat diam dan murung
"kenapa sedih hmm". tanya Sintia
"bunda marah sama Ari ya, apa Ari nakal sehingga membuat Bunda marah dengan Ari, Ari janji tidak akan nakal lagi tapi bunda jangan marah atau hanya diam saja saat Ari bertanya". ucap Ari
"bunda tidak marah, maafkan bunda ya kemarin bunda hanya diam saja karena kemarin bunda sedang lelah jadi maafkan bunda yang sudah membuat Ari sedih". ucap Sintia
"jadi bunda tidak marah". tanya Ari dan di anggukan oleh Sintia
Ari langsung memeluk Sintia dan Sintia membalas pelukan Ari, Ilham yang melihat itu terseyum
"Ari sayang bunda jadi jangan tinggalkan Ari yang bunda, jika bunda pergi Ari juga ikut". ucap Ari
"sekarang Ari siap siap untuk sekolah nanti bunda antar setelah sarapan". perintah Sintia dan Ari langsung masuk ke dalam kamarnya
"terima kasih sudah menyayangi Ari dan tidak membencinya karena perbuatan Kania, aku tau kamu membaca surat itu". ucap Ilham
"untuk apa membencinya, mungkin yang terjadi pada ku adalah takdir ku mas, dan sekarang takdir itu mempersatukan kita walaupun kita tidak pernah berkomunikasi bahkan kita sangat jauh dan takdir itu membawa ku kembali padamu". ucap Sintia dan mengalungkan tangannya di leher Ilham dan Ilham yang gemas melihat Sintia langsung mencium hidung Sintia dan mengacak acak hijab yang di gunakan oleh Sintia
"sudah mas juga sebaik bersiap siap mas akan mengajar bukan". ucap Sintia
"hari ini mas tidak mengajar tapi mas mau ke kantor ada meeting". jawab Ilham
"kantor". tanya Sintia
__ADS_1
"iya selain mengajar aku punya sebuah kantor tapi aku jarang datang ke kantor kecuali ada meeting karena mas lebih suka mengajar". jawab Ilham
"jadi selain mengajar mas punya perusuhan". tanya Sintia yang masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan
apa yang dia dengar membuat pikirkan Sintia berputar saat Ilham mampu membayar uang pinalti dirinya dengan perusahaan BeautyVes yang jumlahnya tidak hanya sedikit.
"pantas mas bisa membayar uang pinalti itu". ucap Sintia
"nanti kita antar Ari bersama sama dan setelah itu kamu ikut mas ke perusahaan". ucap Ilham
"mas yakin mau mengajak aku". tanya Sintia dan Ilham menanggukan kepalanya
"Abi bunda ayo sarapan Ari sudah siap". ucap Ari
"kita tunggu Abi dulu ya lihat Abi belum siap siap". ucap Sintia
"kita sarapan saja nanti mas berangkat seperti ini saja". beritahu Ilham
"mas yakin mau meeting pakai sarung dan baju Koko". tanya Sintia
"tidak sayang nanti mas ganti di kantor saja Karena dia sana ada beberapa baju kerja yang mas tinggal". jawab Ilham dan Sintia menanggukan kepalanya
keluarga kecil itu menikmati sarapan dengan nikmat dan sesekali mendengar Ari yang berbicara padahal Ilham sudah sering memperingati Ari jangan bicara ketika sedang makan. setelah makan mereka mengantarkan Ari dan memastikan Ari masuk ke dalam kelasnya. Ilham menjalankan mobilnya menuju kantor, saat mobil itu memasuki sebuah gedung Sintia menatap suaminya
"mas ini perusahaan mu". tanya Sintia dan Ilham menanggukan kepalanya
"jadi mas adalah Master I". tanya Sintia dan lagi lagi Ilham menanggukan kepalanya
perusahaan Al-Janah adalah perusahaan terbesar kedua setelah perusahaan milik Tuan Alex yang mendapatkan julukan sang rajanya bisnis dan Al-Janah adalah perusahaan yang berjalan di bidang pakaian Muslim dari pakaian perempuan dan laki-laki baik dari anak anak sampai dewasa. banyak orang yang tau jika. pemilik perusahaan Al- Janah adalah Misteri I Karen Ilham sendiri tidak ingin banyak yang tau tentangnya.
__ADS_1
sebelum turun Ilham memakaikan istrinya cadar karena dia tidak ingin Sintia di lihat oleh banyak orang dan tidak lupa Ilham juga menggunakan masker, selama ini tidak ada yang tau seperti apa wajah misteri I karena saat melakukan meeting Ilham menanggukan masker dan rekan bisnis tidak mempermasalahkan itu.