
Setelah selesai menyirami mawarnya Sintia masuk ke dalam mansion dan berjalan ke arah dapur mengambil susu kotak dalam kulkas
"ternyata nona ada di sini". ucap Zahra yang sejak tadi mencari Sintia
"ada apa". tanya Sintia sambil menyandarkan tubuhnya di kulkas
"itu nona sejak tadi tuan Bagaskara menelpon terus dan mencari nona". ucap Zahra
"owh biarkan saja". jawab Sintia
"tapi nona jika nona tidak mengangkat telepon dari tuan maka tuan akan marah pada nona". ucap Zahra dengan cemas
karena Zahra pernah melihat tuan Bagaskara memarahi Sintia tiga tahun lalu karena Sintia tidak mengangkat teleponnya karena sedang pemotretan dan hukuman yang di berikan oleh tuan Bagaskara adalah tuan Bagaskara memaksa Sintia melayaninya bahkan jeritan Sintia yang kesakitan terdengar jelas oleh Zahra di mansion itu kenapa Zahra bisa mendengarkan karena Bagaskara melakukan kegiatan itu bukan di kamar melainkan di ruang tv sedangkan Zahra yang ada di dapur hanya bisa membekap mulutnya saat mendengar jeritan Sintia dan Zahra yakin tuan Bagaskara menyalurkan nafsunya dengan kasar tidak ada kelembutan.
setelah tidak terdengar jeritan kesakitan Sintia, Zahra mencoba melihat ke ruang tv dan di sana tidak sudah tidak ada tuan Bagaskara, Zahra langsung menghampiri Sintia dan saat sampai di sofa Zahra meneteskan air matanya saat melihat Sintia dengan keadaan polos dan banyak tanda di tubuhnya bahkan di muara Sintia sedikit terluka dan Zahra yakin tuan Bagaskara melakukan tanpa pemanasan terlebih dahulu. Zahra langsung mengambil selimut dan menutupi tubuh Sintia bahkan disana Sintia hanya diam saja dengan air mata yang terus mengalir, setalah kejadian itu Sintia mengalami demam selama tiga hari bahkan jadwal pemotretan harus di tunda dan untung saja pihak produsen bisa memaklumi keadaan Sintia.
"saya takut tuan akan berbuat kasar kepada nona". sambung Sintia sambil meremas jarinya
Sintia tau jika Zahra trauma dengan apa yang dia dengar pada malam ini dan saat Bagaskara datang memarahinya serta memaksanya lantaran Sintia tidak mengangkat teleponnya dari Bagaskara, Zahra berada di dapur sedang membuatkan minuman untuk dirinya, malam itu Sintia berusaha memberitahu Bagaskara jika Zahra berada di dapur dan meminta Bagaskara melakukan kegiatan di kamar yang kedap suara terapi Bagaskara yang sudah diselimuti amarah tidak mendengarkan yang Sintia bicarakan bahkan tidak mendengarkan jika Sintia tidak mengangkat teleponnya karena sedang pemotretan.
"Zahra kamu tidak perlu khawatir lagian om Bagaskara masih berada di Jakarta dan akan kembali dua Minggu lagi nanti akan aku hadapi setalah om Bagaskara kembali dari Jakarta, dan sekarang aku ingin menikmati hidupku tanpa ada om Bagaskara kan lumayan dia minggu tanpanya". ucap Sintia dengan terseyum dan mengusap pundak Zahra
__ADS_1
ya selama Sintia tinggal di London hampir setiap hari Sintia tinggal bersama Bagaskara tanpa adanya ikatan, Bagaskara akan tinggal di mansionnya sendiri ketika Sintia mendapatkan tamu bulan ataupun Bagaskara sedang di sibukkan dengan urusan kantor. tetapi Sintia sekarang bersyukur om Bagaskara tinggal bersamanya hanya dua hari dalam seminggu selama dua tahun ini karena kesibukan yang di miliki om Bagaskara, apalagi om Bagaskara sering bolak balik London Jakarta entah apa yang sedang dia urus dan Sintia tidak mau tau itu.
"nona ingin sarapan sekarang, nona mau di buatkan apa". tanya Zahra
"tidak, saya mau mandi dulu kalau kamu sudah lapar sarapanlah Zahra tidak perlu sungkan sudah hampir lima tahun tinggal bersamaku masih sungkan saja, biar nanti saya bikin sarapan sendiri saja". ucap Zahra sambil tersenyum
"bagaimana kuliahmu". tanya Sintia
"sebentar lagi selesai nona". jawab Zahra
"rencana setelah selesai kuliah mau bagaimana". tanya Sintia
"Jakarta ya". tanya Sinta dan Zahra menganggukan kepalanya
"baiklah nanti kita pulang bersama saja ke Jakartanya". ucap Sintia
"nona ingin kembali ke Jakarta". tanya Zahra dan dianggukan oleh Sintia
"tapi bagaimana dengan karir model nona Sedangkan disini karir nona sedang melejit". ucap Zahra
"kamu tenang saja Zahra, saya yakin saat saya kembali ke Jakarta saya akan mendapatkan tawaran pemotretan yang banyak karena kemarin saat saya buka Instragram banyak DM dari produsen dari Indonesia bahkan ada yang menawari saya main film". jawab Sintia
__ADS_1
"hmm nona apakah boleh saya tetap menjadi asisten nona saat di Jakarta nanti". ucap Zahra
"jika kamu mau tetap boleh". jawab Sintia dan Zahra terseyum lalu langsung memeluknya Sintia
"saya senang nona bekerja dengan nona saya serasa memiliki seorang kakak perempuan yang sangat baik". ucap Zahra di pelukan Sintia dan Sintia mengusap bahu Zahra
"saya juga senang Zahra dapat mengenalmu apalagi kamu mau tinggal di mansion ini jadi saya tidak sendirian". ucap Sintia
"sudah saya mau mandi dan kamu jika ingin sarapan silahkan sarapan saja". ucap Sintia
drt
drt
ponsel Zahra berdering dan menampilkan nama tuan Bagaskara , Zahra langsung menatap Sintia.
"angkat dan katakan padanya bahwa selama dua minggu ini saya tidak ingin di ganggu, dan aku akan menuruti apapun yang dia mau jika dua minggu ini dia tidak mengangguku". ucap Sintia dan Sintia berkata seperti itu hanya ingin merasakan damai setidaknya hanya dua Minggu saja bahkan selama dua minggu ini Sintia tidak menerima tawaran pemotretan.
setelah mengatakan itu Sintia meninggalkan Zahra dan Zahra langsung mengangkat panggilan dari Bagaskara lalu menyampaikan apa yang di minta oleh Sintia tadi, Zahra dapat mendengar suara gebrakan meja dan Zahra yakin tuan Bagaskara berusaha menahan emosi tetapi setalah itu Bagaskara mengatakan dia tidak akan menghubungi Sintia selam dua minggu itu dan Bagaskara berpesan kepada Zahra agar Sintia bersiap siap saat dirinya sudah berada di London dan juga Sintia jangan sampai lupa memasang KB. setelah ponsel di matikan Zahra duduk di kursi dan memikirkan apa yang akan di perbuat oleh tuan Bagaskara kepada Sintia.
"semoga saja tuan Bagaskara tidak menyakiti nona seperti tiga tahun lalu, dan aku berdoa semoga nona bisa mendapatkan kebahagiaan suatu hari nanti". ucap Zahra lalu mengambil selembar roti dan mengolesi dengan coklat lalu memakannya dengan susah payah karena masih merasa cemas kepada Sintia. setelah selesai sarapan Zahra membawa makanan untuk Thomas selaku supir yang di tugaskan tuan Bagaskara untuk mengantarkan Sintia serta menjadi bodyguard dan melaporkan apa saja yang di lakukan Sintia pada hari itu dan apakah ada pria yang berani mendekati Sintia bahkan Zahra juga pernah melihat tuan Bagaskara menghajar habis habisan seorang pria yang mendekati Sintia dan mencoba merayu Sintia.
__ADS_1