Cahaya Dalam Kegelapan ( Sebuah Ketulusan)

Cahaya Dalam Kegelapan ( Sebuah Ketulusan)
Surat Dari Kania


__ADS_3

sepanjang penggajian berlangsung Sintia Hanya menundukkan kepalanya karena tatapan beberapa orang yang menurutnya tidak menyukai dirinya serta bisik bisik para ibu ibu yang terdengar oleh Sintia. Sintia meremas tangannya karena merasa tidak nyaman tetapi saat ada tangan kecil yang memegang tangannya membuat Sintia sedikit merasa nyaman, Sintia terseyum melihat Ari yang duduk di sampingnya.


"Bunda jangan takut ada Ari di sini nanti biar Ari marahin orang yang membicarakan bunda". bisik Ari


"jangan, tidak boleh seperti itu biarkan saja mereka". ucap Sintia


"Bunda akan tinggal di sini kan tidak seperti umi yang punya rumah sendiri". ucap Ari


"Apa Ari senang jika bunda tinggal di sini". tanya Sintia


"senang karena Ari juga akan merasakan apa yang di rasakan oleh teman teman Ari bahkan beberapa teman teman Ari mengatakan bahwa Ari tidak bisa merasakan di sayang oleh umi karena umi ada di dalam tanah". ucap Ari dan matanya sedikit memerah


"sudah jangan sedih sekarang ada bunda tapi Ari harus janji pada bunda jangan sampai melupakan umi, bagaimana". tanya Sintia dan Ari menanggukan kepalanya


interaksi antara Ari dan Sintia tidak luput dari pandangan Ilham serta kedua orang tuanya Kania yang terseyum saat melihat cucunya begitu bahagia


"mas aku harap Ari mendapatkan kasih sayang seorang ibu dari Sintia dan apa yang tidak bisa Kania berikan Sintia dapat memberikannya". ucap Fatimah


"iya mas juga berharap seperti itu". jawab Wijaya


selain itu Ning Aida juga menatap interaksi Ari dan Sintia


"kenapa model seksi itu bisa mudah akrab dengan Ari, selama ini aku berusaha mendapatkan perhatian Ari sangat sulit". monolog Ning Aida dalam hati


Sintia bernafas lega saat acaranya sudah selesai, Fatimah menghampiri Sintia yang sedang mengusap kepala Ari karena anak itu tidur di pangkuan Sintia.


"sepertinya Ari begitu nyaman dengan mu". ucap Fatimah dan Sintia menatap wanita di depannya dengan bingung


"iya Tante" jawab Sintia


"jangan bingung seperti itu saya mamanya Kania dan neneknya Ari juga". ucap Fatimah yang mengerti akan kebingungan yang di alami Sintia


"maaf tante saya tidak tau jika tante mamanya mba Kania". ucap Sintia


"tidak apa apa ini juga pertama kali kita bertemu, saya hanya ingin meminta padamu sayangi Ari seperti anakmu sendiri dan berikan kasih sayang padanya yang tidak pernah Ari dapatkan dari Kania". ucap Fatimah

__ADS_1


"Kania meninggal tepat saat Ari di lahirkan bahkan Kania tidak sempat melihat wajah anaknya sendiri". sambung Fatimah


"jadi mba Kania meninggal saat melahirkan Ari". tanya Sintia untuk memastikan apa yang dia dengar tadi dan Fatimah menanggukan kepalanya.


Sintia menatap sendu pada Ari yang tidur begitu pulas di pangkuannya. Ilham mengahampiri Sintia dan mama mertuanya.


"ma". ucap Ilham dan mencium tangan mamanya


"maafkan Ilham ma Ilham menikah lagi". ucap Ilham


"tidak apa apa Ilham dan mama yakin Kania bahagia di atas sana melihat mu menikah lagi dengan wanita yang tepat". ucap Fatimah


Fatimah sendiri tau siapa Sintia di masa laku yaitu calon istri Ilham sebelum akhirnya putrinya menggantikannya.


"Ilham ini ada surat dari Kania, dia tulis sebelum melahirkan dan dia berpesan berikan kepadamu saat kamu sudah menikah, dan mama rasa saat kamu tau isi dari surat ini". Ucap Fatimah dan Ilham menerima surat itu


"tapi kenapa menunggu sampai aku menikah". tanya Ilham


"kamu akan tau setelah membaca surat itu". jawab Fatimah


"kenapa tidak menginap saja pa ma di sini banyak kamar". ucap Ari


"iya Wijaya kenapa tidak menginap saja ini juga sudah malam". ucap Umar


"tidak apa apa Umar karena besok ada pekerjaan yang tidak bisa saya tinggalkan juga begitu Fatimah". jawab Wijaya


Fatimah menghampiri Marwah yang duduk jauh dari mereka


"Marwah aku tau kamu belum bisa menerima Sintia". ucap Fatimah


"bagaimana aku bisa menerimanya dia itu wanita kotor Fatimah bahkan di melakukan hubungan dengan seorang pria tanpa ikatan pernikahan". jawab Marwah


"Marwah apa yang terjadi padanya dulu kita tau betul dia di jual oleh kakaknya, dulu Kania bercerita soal ini bukan jadi itu bukan salahnya". ucap Fatimah


"aku tau yang itu lalu bagaimana dengan kehidupan dia yang tujuh tahun ini sebagai model yang seksi dan tidak mungkin dia menjaga dirinya pasti sudah banyak pria yang menidurinya untuk menaikkan karirnya". ucap Marwah

__ADS_1


"Ilham pasti bisa membawa Sintia kembali seperti Sintia yang dulu, dan aku rasa mereka berdua adalah jodoh, Marwah cobalah kamu ingat dulu Sintia gadis yang bagaimana dan mungkin saja hidup yang di jalankan selama tujuh tahun ini adalah ujian untuknya". ucap Fatimah


Marwah masih ingat seperti apa Sintia dulu sehingga membuatnya setuju jika Sintia menikah dengan Ilham hingga kejadian itu membuat Marwah merubah pandangannya tentang Sintia di tambah pengakuan kakaknya jika Sintia menjual dirinya untuk mendapatkan uang yang banyak dan hidup mewah.


"bukankah kita sudah tau kebenaran dari yang di alami Sintia". ucap Fatimah dan Marwah menanggukan kepalanya.


"dan kamu bisa lihat kan jika Ari sangat bahagia dengan kehadiran Sintia". sambung Fatimah


Marwah diam memikirkan apa yang di katakan oleh Fatimah bahwa Ari sangat bahagia


"tapi rasanya sulit untuk menerimanya, aku hanya ingin putranya ku mendapatkan wanita sebaik Kania". ucap Marwah


"Kania juga pernah melakukan kesalahan mawar tapi kamu bisa memaafkannya kenapa dengan Sintia tidak". tanya Fatimah dan Marwah diam saja karena bingung


setelah lama berbincang akhirnya Wijaya dan Fatimah memutusakan untuk pulang, setelah kepergian orang tua Kania Ilham mengangkat Ari


"Abi malam ini Ari ingin tidur bersama Abi dan bunda". ucap Ari sambil menahan kantuknya


Ilham membawa Ari ke dalam kamarnya dan di ikuti oleh Sintia. Ilham membaringkan Ari di ranjang. sedangkan Sintia menggantikan bajunya.


"tidurlah dulu bersama Ari, aku akan membantu ayah melipat tikar di depan". ucap Ilham


"iya". jawab Sintia dan menaiki ranjang


Ari yang melihat bundanya terseyum


"Ari ingin dipeluk dan di puk puk bunda". ucap Ari


"iya bunda akan melakukan apa yang Ari inginkan". jawab Ari


Sintia menuruti ke ingin Ari, Sintia melihat wajah damai Ari yang tertidur pulas, Sintia yang sudah mengantuk akhirnya ikut tertidur.


setelah selesai melipat tikar Ilham berjalan ke arah kamarnya bersama Kania, Ilham memegang surat yang di berikan oleh mama mertuanya


"kenapa Kania menulis surat ini, apa yang dia tulis". monolog Ilham dan duduk di ranjang

__ADS_1


Ilham membolak-balik surat itu, Ilham membuka amplop itu


__ADS_2