Cahaya Dalam Kegelapan ( Sebuah Ketulusan)

Cahaya Dalam Kegelapan ( Sebuah Ketulusan)
Kehidupan Desa Yang Nyaman


__ADS_3

orang tua Zahra mengajak Sintia untuk masuk ke dalam rumah


"maaf nak Sintia rumah kami kecil seperti ini dan hidangannya hanya sederhana". ucap ibu Sintia


"tidak apa apa tante rumahnya sangat nyaman apalagi udaranya". jawab Sintia sambil menikmati getuk


"kami sangat berterima kasih pada nak Sintia karena sudah memberikan pekerjaan untuk Zahra dan memperlakukan Zahra sangat baik saat di London". ucap ayah Zahra


"paman jangan memujiku seperti itu, aku memberikan pekerjaan pada Zahra karena kami sama sama dari Indonesia dan aku harusnya yang berterima kasih pada Zahra karena mau bekerja dengan ku dan menjadi temanku di sana apalagi sampai sekarang Zahra masih mau bekerja dengan saya". ucap Sintia


"ternyata benar apa yang di katakan Zahra bahwa nak Sintia ini sangat baik". puji ibunya Zahra dan Sintia terseyum mendengar pujian tersebut


"ibu bapak malam ini nona Sintia akan menginap disini bolehkan". tanya Zahra


"tentu saja boleh kalau begitu ibu bereskan kamar untuk nak Sintia beristirahat". ucap ibunya Zahra yang sangat senang


"Tante tidak perlu repot aku hanya satu malam disini jadi aku akan tidur bersama Zahra saja". ucap Sintia yang merasa tidak enak


Sintia mengobrol dengan orang tuanya Zahra bahkan orang tua Zahra menceritakan kelakuan Zahra waktu masih kecil bahkan Zahra pernah berkelahi dengan temannya sehingga membuat temannya masuk rumah sakit padahal temannya itu cowok entah bagaimana Zahra bisa membuatnya sampai masuk rumah sakit dan Sintia tertawa saat mendengar cerita orang tua Zahra tentang Zahra sedangkan Zahra hanya mengkrucutkan bibirnya karena malu.


setelah lama berbincang Zahra memutuskan membawa Sintia ke air terjun yang ada di belakang rumahnya, saat sampai di sana Sintia menatap takjub dan merasakan ketenangan sehingga membuat Sintia melupakan beban hidupnya.


"Zahra bagaimana kabar anak cowok yang kamu buat masuk rumah sakit itu". tanya Sintia pada Zahra, kini mereka berdua duduk di batu besar yang menghadap ke arah air terjun

__ADS_1


"aku tidak tau nona setelah kejadian itu dia bersama orang tuanya pindah ke Jakarta karena orang tuanya takut aku menghajarnya". jawab Zahra


"tapi kenapa kamu menghajarnya Zahra". tanya Sintia dan Zahra menggaruk kepalanya


"hmmm Sebenarnya aku bukan mengajarkannya, aku hanya ingin dia bisa berkelahi dan menghindari pembullyan yang terjadi pada dirinya tetapi waktu itu aku lepas kendali karena dia tidak mau membalas pukulan ku jadi aku hajar habis habisan hehehe". jawab Zahra sambil cengengesan


"jadi kamu bukan berkelahi dengannya". tahu Sintia dan Zahra menganggukan kepalanya


"tapi yang meraka tua aku berkelahi dengan dan aku juga yang di tuduh suka membully dia di sekolah dan aku di keluarkan dari sekolah karena itu". jawab Zahra dengan santai


"preman juga dirimu". ucap Sintia lalu turun dan bermain air


Zahra yang melihat itu langsung ikut bermain air, Mereka berdua nampak bahagia ketika bermain air mereka sudah Seperti saudara kandung, mereka tertawa lepas di sana. tanpa mereka sadari ada seseorang yang memperhatikan mereka dari balik pohon dan terseyum saat melihat seseorang yang dia cari selama ini.


"Zahra kamu lihat apa". tanya Sintia


"tadi aku seperti melihat seseorang dari balik pohon itu nona". jawab Zahra dan Sintia melihat kearah yang di tunjuk Zahra


"tidak ada apa apa di sana". ucap Sintia


"nona ini sudah sore sebaiknya kita pulang saja takut ada hewan buas". ajak Zahra sambil menatap ke arah yang dia lihat tadi


"ayo". jawab Sintia

__ADS_1


mereka berdua segera kembali ke rumah setelah sampai di rumah mereka membersihkan diri mereka. saat adzan magrib mereka semua melakukan sholat berjamaah kecuali Sintia, dia berasalan sedang datang bulan. Sintia. terseyum saat Zahra dan keluarganya melakukan sholat.


Setelah sholat mereka semua duduk di atas tikar untuk melakukan makam maka, walaupun menu yang tersaji hanya sederhana membuat Sintia merasakan memiliki keluarga bahkan Sintia makan dengan lahap, Zahra yang melihat itu terseyum karena ada kebahagiaan di mata Sintia yang Zahra lihat.


"semoga saja binar bahagia itu selalu ada dalam dirimu nona". ucap Zahra dalam hati


setelah selesai makan Sintia membantu membereskan piring dan sisa makanan walaupun sudah di larang.


"nona sebaiknya kembali ke ruang tamu saja biar aku yang mencuci piringnya". ucap Zahra


"tidak apa apa Zahra lagian aku akan melakukan apa di sini". jawab Sintia tetap membantu Zahra mencuci piring


setelah selesai mencuci piring mereka berdua duduk di teras sambil menikmati singkong goreng dan teh hangat karena cuaca di malam hari terasa dingin. penglihatan Zahra tertuju ke satu rumah


"rumah itu lampunya menyala apa dia kembali ke desa ini atau rumah itu di jual ke orang lain". monolog Zahra dari dalam hati


"rasanya enak tinggal di sini, aku berharap suatu hari nanti bisa tinggal di sini jika semuanya Kontrak model sudah selesai". ucap Sintia


"kenapa nona mau tinggal di sini, di sini jauh dari mall dan pasar juga jauh untuk mencari makanan sulit jika kita tidak menanam sendiri bahkan orang orang di sini ke pasar dua Minggu sekali untuk menghemat ongkos kecuali mereka yang terbilang kaya di desa ini". tanya Zahra


"karena di sini sangat nyaman Zahra". jawab Singkat Sintia


saat mendengar adzan isya' mereka masuk ke dalam rumah, kali ini Zahra melakukan sholat di dalam kamarnya sedangkan Sintia menunggu di atas ranjang, sembari menunggu Zahra selesai sholat Sintia memainkan ponselnya. dan orang tua Zahra sedangkan ada kumpulan di rumah pak RT untuk membahas gotong royong pembangunan sekolah SMA agar anak anak di desa itu tidak perlu jauh jauh ke kota untuk sekolah SMA. karena biaya yang tidak di miliki orang tau anak untuk hidup di kota maka banyak anak anak yang hanya lulus SMP saja, sedangkan Zahra dia anak yang beruntung mendapatkan beasiswa di salah satu SMA di kota dan bisa melanjutkan kuliah di London dengan beasiswa juga.

__ADS_1


__ADS_2