Cahaya Dalam Kegelapan ( Sebuah Ketulusan)

Cahaya Dalam Kegelapan ( Sebuah Ketulusan)
Akhirnya Yang Bahagia


__ADS_3

hari demi hari, Minggu demi Minggu, bulan demi bulan. kini kandungan Sintia sudah memasuki sembilan bulan, di usia yang kehamilan yang sekarang membuat Sintia susah tidur karena tidak ada posisi yang nyaman baginya. Ilham sendiri sangat posesif pada Sintia bahkan kini pria itu menyewa seorang pelayan untuk memasak dan membersihkan rumahnya karena Ilham tidak ingin Sintia kelelahan apalagi mendekati hari kelahiran sang anak.


"mas". panggil Sintia sambil mengusap perut buncitnya sambil menghampiri suaminya yang sedang membuatkan susu hamil.


"iya sayang". jawab Ilham sambil memberikan segelas susu pada istrinya


"lapar". ucap Sintia dan menundukkan kepalanya karena tadi dia sudah makan bahkan belum ada satu jam


"lapar". ucap Ilham dan ikut duduk di samping istrinya yang meminum susunya


"hmmm anak anak Abi lapar ya". ucap Ilham sambil mengusap perut Sintia dan mendapatkan balasan tendangan dari anaknya


"aktif sekali, jangan kencang kencang menendangnya nanti bunda terkejut". ucap Ilham dan mencium perut Sintia. dulu saat Kania hamil Ilham tidak pernah melakukan kegiatan seperti ini karena dia sibuk dengan perusahaan dan waktu itu perusahaan sedang dalam pengembangan.


"makan buah saja ya tadi sudah makan yang berat". ucap Ilham dan Sintia menanggukan kepalanya


Ilham mengambil buah pir lalu di kupas dan memotong kecil kecil dan memberikan pada Sintia. Sintia langsung memakan buah itu dengan begitu cepat


"sayang makannya Pelan pelan". ucap Ilham sambil mengusap kepala istrinya yang tertutup Khimar


"Abi bunda". ucap Ilham yang menghampiri orang tuanya


"ada apa Ari". jawab Ilham


"SMA nanti Ari masuk ke pesantren di Kairo ya Abi nanti kuliah juga di sana". ucap Ari


"Ari yakin mau kesana". tanya Ilham


"iya Abi". jawab Ari yang sudah memikirkan semalaman dan juga tinggal tiga bulan lagi dia akan lulus SMP


"baiklah tapi Ari harus belajar yang rajin dan Jangan nakal di sana , jangan kamu kotori pakaian dan agamamu dengan sikap sikap yang tercela". ucap Ilham, sebenarnya ada ketakutan dalam diri Ilham jika tidak bisa memantau pertimbangan anaknya apalagi memasuki usia remaja tetapi Ilham yakin bahwa putranya bisa menjaga dirinya dan menjauhi sifat sifat buruk itu


"Ari akan berusaha tidak akan mendekati sifat atau perbuatan buruk yang akan membuat diri Ari rugi Abi Bunda". jawab Ari


"Ari mau berangkat kesana kapan nanti Abi antar sampai ke Kairo". tanya Ilham


"nanti setelah hari kelulusan". jawab Ari dan menyerahkan sebuah amplop pada abunya.


Ilham mengambil amplop itu dan membuka isinya dan Ilham terkejut.

__ADS_1


"Ari dapat beasiswa di Kairo". tanya Ilham dan Ari menanggukan kepalanya


Ari menceritakan pada Abi bahwa empat bulat yang lalu dia mencoba mengikuti tes beasiswa ke Kairo secara online. Ari melakukan itu karena dia ingin sekolah dengan usahanya sendiri walaupun dia tau bahwa Abinya bisa membiayai pendidikannya.


Sintia menghentikan makannya saat merasakan perutnya mules.


"sayang ada apa". tanya Ilham saat melihat di wajah istrinya sudah di penuhi dengan keringat


"mules mas". jawab Sintia sambil menarik nafasnya lalu membuangnya


"ayo ke rumah sakit". ajak Ilham


"Ari ambil tas besar yang ada di kamar Abi". perintah Ilham pada putranya untuk mengambil perlengkapan bayi dan Ari langsung berlari ke kamar Abinya


Ilham langsung membawa Sintia ke rumah sakit. di dalam ruangan Ilham berada di samping Sintia. Ilham menyeka keringat di dahinya Sintia


"pasti kamu bisa sebentar lagi kita akan bertemu di anak anak kita". bisik Ilham


"iya mas, aku sudah tidak sabar tapi ini rasanya sakit". jawab Sintia


"pembukaan sudah pas Bu, ikuti instruksi saya ya". ucap dokter dan Sintia menganggukkan kepalanya


dokter memberikan instruksi dan Sintia mengikuti arahannya. Sintia semakin mengeratkan pegangannya pada suaminya.


"ayo Bu dorong kepalanya sudah terlihat" perintah dokter


"arghhh".


Sintia dan Ilham bernafas lega saat terdengar suara bayi yang sayang nyaring. dokter memberikan bayi berjenis kelamin perempuan itu pada Ilham dan Ilham langsung meneteskan air mata dan langsung mengadzani putranya itu.


"Bu sudah siap untuk yang satu lagi". tanya dokter dan Sintia menanggukan kepalanya


Sintia lagi lagi mengikuti intruksi dari dokter tetapi rasanya tenaganya sudah tidak sanggup lagi


"Bu jangan tutup matanya". ucap dokter


"sayang pasti kuat". ucap Ilham dan mengelus kepala istrinya, Sintia berusaha untuk melahirkan satu bayinya lagi


dokter mengangkat bayi berjenis kelamin perempuan itu. Ilham langsung mencium kening istrinya sedangkan Sintia yang sudah kehabisan tenaga hanya terseyum saat melihat Kedua anaknya yang di bersihkan oleh dokter.

__ADS_1


"mas sebaiknya mas hubungi ibu, aku yakin kejadian waktu itu ibu tidak sengaja dan aku juga penyebab ibu marah". ucap Sintia yang kini sudah di pindahkan di ruang nginap


"pasti ibu senang dengan kehadiran cucunya". sambung Sintia sambil melihat kedua anaknya yang terlelap di dalam box sedangkan Ari sejak tadi pandangannya tidak terlepas dari adiknya


"ayah dan ibu sedang dalam perjalanan". jawab Ilham


ceklek


pintu terbuka dan masuklah orang tua Ilham. Ilham langsung menghampiri orang tuanya dan menyalimi tangan yang di ikuti oleh Ari. Marwah menghampiri Sintia


"maafkan ibu jika selama ini perlakukan ibu kurang baik dan maaf juga sudah membuat mu keguguran". ucap Marwah


"tidak Bu, jangan meminta maaf selama ini Sintia juga belum bisa menjadi menantu yang ibu inginkan, kita lupakan saja yang sebelumnya ya Bu". ucap Sintia sambil memegang tangan mertuanya dan Marwah menanggukan kepalanya


"boleh ini gendong cuci ibu". tanya Marwah dan Sintia menanggukan kepalanya


Marwah mengedong bayi perempuan sendangkan Umar mengendong bayi laki laki.


"cantiknya cucu nenek seperti bundanya". ucap Marwah sambil menciumi pipi sehingga membuat bayi itu mengeliat


"siapa namanya". tanya Marwah pada putranya dan menantunya


"yang laki laki Ehsan Muhammad Kabir dan yang perempuan Eshal Latifah Shanum". jawab Ilham


"assalamualaikum Ehsan Eshal". ucap Marwah


di ruangan itu terpancar binar bahagia dalam setiap orang. Sintia melihat mertuanya dan juga Ari yang sedang bercanda dengan si kembar lalu Sintia terseyum pada suaminya yang berada di sampingnya.


"takdir yang engkau berikan begitu indah ternyata di balik semua itu ada akhir yang bahagia seperti ini". monolog Sintia


"terima kasih mas sudah menerima ku dan memberikan kebahagiaan seperti ini". ucap Sintia


"mas yang harus berterima kasih padamu sayang karena sudah melengkapi hidup mas". ucap Ilham lalu mencium seluruh wajah istrinya


...visual baby Ehsan dan Eshal...



...Tamat...

__ADS_1


~mau Boncap gak nih


__ADS_2