
pagi pagi sekali Sintia sudah di repotkan dengan si kembar yang sudah masuk usia tiga bulan.
cup
cup
cup
cup
"jangan nangis semua ya anak anak bunda cup cup". Sintia menenangkan si kembar yang semakin menangis
"anak anak Abi kenapa menangis semua hmmm". Ilham yang baru saja selesai mandi menghampiri kedua anak yang menagis
"tidak tau mas dari tadi nangis terus di kasih ASI juga tidak mau". jawab Sintia
Ilham menepuk nepuk kedua bayi itu secara bergantian dan membacakan sholawat sehingga membuat bayi itu diam kembali.
"lihat bunda kalian ketakutan karena kalian terus menangis". ucap Ilham
"sudah jangan menagis mereka baik baik saja". ucap Ilham sambil menghapus air mata Sintia
"aku hanya takut mereka kenapa kenapa soalnya dari bangun nangis terus". jawab Sintia
"sekarang mandilah biar mas yang jaga". ucap Ilham dan Sintia menanggukan kepalanya kemudian turun dari ranjang
Ilham yang melihat kedua anaknya yang diam langsung memakai pakaiannya lalu meletakkan handuknya di gantungan. Ilham menghampiri anak anaknya dan mengajaknya bercanda sehingga membuat bayi itu tertawa.
"mas yakin tidak membawa apa apa untuk ke Kairo". tanya Sintia yang sudah selesai mandi
"tidak karena setelah mengantarkan Ari mas akan langsung pulang". jawab Ilham sambil mencium kedua anaknya
"apa tidak capek nanti mas". tanya Sintia yang sudah ikut duduk bersama suaminya di ranjang
"tidak, mas takut ninggalin kamu sendirian di sini, nanti kerepotan mengurus si kembar apalagi mereka semakin aktif". jawab Ilham
"tapi yakin mas akan meninggalkan Ari di sana secepat itu apalagi Ari masih SMA". ucap Sintia yang mengkhawatirkan Ari
"tidak perlu khawatir sayang karena pesantren yang Ari pilih di sana ada teman mas jadi mas bisa meminta tolong padanya untuk menjaga Ari". jawab Ilham dan terseyum
"ayo sarapan dulu dan setalah itu mas akan mengantarkan Ari". ucap Ilham
"nanti aku ikut ke bandara ya untuk mengantarkan mas dan Ari". tanya Sintia
"tidak usah sayang nanti siapa yang mengantarkan kamu pulang, jika mau pakai taxi mas khawatir terjadi sesuatu dengan mu apalagi membawa si kembar". ucap Ilham sambil mengelus pipi istrinya
__ADS_1
karena kini mereka hanya tinggal berdua bersama anak anak sedangkan orang tua Ilham sudah kembali satu minggu yang lalu karena ada pekerjaan yang harus mereka urus
"tunggu mas di rumah saja, mas hanya dua hari saja perginya". sambung Ilham
"di rumah juga ada bibi nanti ada yang bantuin jaga si kembar". ucap Ilham
"iya mas". jawab Sintia
Sintia meletakan si kembar di troli bayi, Ilham dan Sintia berjalan menuju ruang makan disana sudah ada Ari yang menunggu. mereka makan dengan tenang.
"keperluan Abang sudah di masukkan koper semua". tanya Ilham pada sang putra
"sudah Abi kemaren di bantuin bunda". jawab Ari
"sekarang sebaiknya ambil kopermu dan kita berangkat". perintah Ilham
"iya Abi". jawab Ari lalu masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil kopernya
taxi yang mereka pesan sudah berada di depan rumah.
"sayang mas berangkat dulu, jaga di baik baik dan satu lagi jangan terima tamu laki laki". ucap Ilham
"iya mas". jawab Sintia
"Ehsan Eshal jangan rewel dan membuat bunda repot ya, Abi berangkat dulu". ucap Ilham lalu mencium kedua anaknya
"adik adik Abang, Abang pasti bakalan kangen dengan kalian berdua". ucap Ari lalu mencium kedua adiknya
"pasti nanti saat Abang pulang kalian sudah besar". sambung Ari
"bik selama saya tidak ada bibi tidur di sini saja ya bik". ucap Ilham pada bibi Darmi
"iya den". jawab bik Darmi
Ilham mencium kening Sintia dan Sintia mencium punggung tangan suaminya sebelum masuk ke dalam mobil. Sintia menatap taxi yang mulai menjauh dari rumah. setalah taxi tidak terlihat Sintia membawa anak anaknya masuk ke dalam rumah.
"terasa sepi rumahnya". ucap Sintia
keesokan harinya
drt
drt
"assalamualaikum mas". jawab Sintia
__ADS_1
"waalaikumussalam sayang, bagaimana kabar kalian si kembar tiga rewelkan". tanya Ilham
"Alhamdulillah tidak mas, Ari bagaimana di sana mas, apa dia bisa bersosialisasi dengan teman temannya". tanya Sintia
"bisa sayang lihat dia sedang mengobrol dengan teman temannya". ucap Ilham sambil mengarahkan kameranya ke Ari dan Sintia yang melihat itu terseyum lega bahwa Ari bisa beradaptasi dengan cepat
"sayang sudah dulu ya ada beberapa berkas yang harus mas urus". ucap Ilham
"iya mas". jawab Sintia
setelah sambungan telepon di matikan Sintia bercanda dengan anak anaknya, Sintia sangat suka mencolek colek pipi anak anaknya
hampir lima hari Ilham juga belum pulang sehingga kini membuat Sintia menggulingkan badannya di ranjang
"kata dua hari, sekarang sudah lima hari tapi belum pulang juga, mana ponselnya di hubungi juga tidak bisa". ucap Sintia dengan kesal
"Abi kalian ingkar janji". ucap Sintia pada anak anaknya
"katanya dua hari tapi sudah lima hari belum pulang juga". sambung Sintia dan mengkerutkan bibirnya
"maaf sayang". ucap seseorang di telinga Sintia bahkan orang itu memeluk Sintia
"mas". ucap Sintia dan membalikkan badannya
"maaf sayang mas baru pulang dan ternyata banyak yang harus di urus sebelum Ari masuk sekolah dan masalah mas tidak menghubungi mu Karena ponsel ilang sayang". jawab Ilham dan mencium Sintia tapi itu malah membawa sinta menangis
"hey hey kenapa malah menangis". tanya Ilham
"kangen tau mas rasanya tidak sanggup di tinggal lama lama, besok besok lagi aku ikut saja". ucap Sintia
"uluh uluh ternyata istri mas tidak bisa jauh dari mas ya hmmm". ucap Ilham
"bagaimana bisa jauh Kalau mas selalu membuat ku nyaman dan bahagia seperti ini rasanya aku ingin menghentikan waktu agar tidak berubah". jawab Sintia dan memeluk suaminya
"sudah itu air matanya di lap, tidak malu dengan si kembar hmm". ucap Ilham
"enggak soalnya si kembar tidak lihat". jawab Sintia
"siapa bilang, lihatlah si kembar terbangun". ucap Ilham dan Sintia melihat ke arah box bayi , Sintia melihat anak anaknya yang sudah terbangun
"sejak kapan Mereka bangun mas". tanya Sintia
"sejak istri mas menangis". jawab Ilham
"ishh kenapa gak di kasih tau". ucap Sintia
__ADS_1
"bagaimana mas ngasih tau kamu saja malah menangis". ucap Ilham dan membawa Sintia dalam pelukannya
Meraka saling pandang dan tertawa karena merasa begitu bahagia dengan kehidupan yang mereka jalani, Sintia memejamkan matanya saat Ilham mencium keningnya.