
Ilham dan Sintia masuk ke sekolah Ari mereka menuju tempat pentas seni, ketika memasuki ruangan para orang tua melihat ke arah Sintia karena mereka baru mengetahui bahwa ayahnya Ari baru menikah. bahkan mereka berbisik bisik yang tidak tidak tentang Sintia apalagi mereka tau bahwa Sintia adalah seorang model seksi walaupun sekarang sudah berpakaian tertutup tetapi mereka masih memandang Sintia sebelah mata.
"jangan dengarkan mereka, ayo duduk di tempat yang sudah di siapkan". ucap Ilham sambil mengusap punggung tangan Sintia yang melingkarkan di lengannya dan Sintia tersenyum
Ari terseyum senang saat melihat orang tuanya yang sudah datang ke sekolah untuk melihat dirinya tampil, Ari akan berusaha sebagus mungkin agar orang tuanya bangga kepadanya. saat drama di mulai Ilham dan Sintia begitu bangga kepada Ari yang memainkan drama dengan bagus. Sintia mengabdikan momen itu. tepuk tangan yang begitu meriah menggema di ruangan itu saat pertunjukan sudah selesai.
"Abi bunda". panggil Ari dan berlari ke arah orang tuanya
"anak Abi keren dan sudah berani tampil di panggung". ucap Ilham sambil mengusap kepala putranya itu
"iya dong Abi, Ari anak laki laki jadi Ari harus berani". jawab Ari
Sintia tersenyum saat melihat percakapan Antara ayah dan anak itu. Sintia memegang perutnya dan berharap dia juga bisa hamil bukan Sintia tidak bersyukur sudah memiliki Ari tetapi dia juga seorang perempuan bagaimanapun dirinya juga ingin merasakan hamil dan melahirkan.
tujuh tahun kemudian
Sintia yang berada di dalam kamar mandi sedang memejamkan matanya sambil memegang sebuah benda
"aku mohon kali ini hasilnya positif". ucap Sintia dan membuka matanya secara perlahan
Sintia menjatuhkan tespeck itu dan tubuhnya jatuhnya di lantai serta air matanya yang ikut membasahi pipinya
"hasilnya negatif lagi, kenapa negatif lagi". ucap Sintia sambil terkekeh
"kenapa do'aku tidak terkabulkan, kenapa ujian apalagi yang harus aku lewati apa kurang cukup ujian yang lalu dengan membuat hidupku menderita selama tujuh tahun". ucap Sintia sambil memandangi tespeck yang bergaris satu di lantai itu
setiap bulan Sintia selalu membeli tespeck untuk mengecek apa dirinya hamil, apalagi bulan ini dia telat dua minggu dan berharap ada nyawa yang tumbuh di rahimnya tapi ternyata hasilnya nihil.
tok
__ADS_1
tok
"sayang kenapa kamu lama di dalam, buka pintunya". ucap Ilham
"sayang". panggil Ilham
Sintia menghapus air matanya dan mengambil tespeck itu lalu membuang ke teman sampah , tidak hanya tespeck yang barusan dia pakai yang dia buang tetapi beberapa tespeck yang belum di pakai juga Sintia buang begitu saja. setelah membuka pintu kamar mandi
"hey ada apa kamu habis menangis ya, cerita sama mas ada sayang jangan buat khawatir mas". ucap Ilham saat melihat wajah sembab Sintia
Sintia langsung memeluk Ilham dan menumpahkan tangisannya sedangkan Ilham mengusap punggung istrinya untuk membuat istrinya itu tenang
"cerita sama mas ya". bisik Ilham
"hiks hiks hasilnya negatif lagi mas hiks hiks". ucap Sintia yang masih setia memeluk Ilham
"sudah tujuh tahun tapi kenapa hasilnya selalu negatif hiks hiks, apa aku tidak pantas untuk menjadi seorang ibu hiks hiks, apa aku bukan ibu yang baik sehingga aku tidak kunjung hamil hiks". sambung Sintia
"tapi aku capek mas setiap bertemu dengan orang mereka selalu menanyakan kapan aku hamil bahkan ada yang mengatakan bahwa aku tidak akan bisa hamil". ucap Sintia
"hey kamu bisa hamil sayang kita sudah sering periksa ke dokter dan hasil kamu baik baik saja, mungkin Allah belum memberikan itu untuk menguji kesabaran dan Iman kita apa kita bisa sabar untuk menunggu itu hmm". ucap Ilham dan menghapus air mata Sintia yang terus mengalir
"jadi jangan sedih dan selalu berdo'a, jika kita sudah di berikan kepercayaan maka disini akan tumbuh buah hati kita". ucap Ilham sambil mengusap perut Sintia
"tujuh tahun tidak kunjung hamil , mungkin itu karma dia apa yang pernah dia lakukan dulu". ucap ibunya Ilham yang sejak tadi mendengar percakapan mereka
"ibu". tegur Ilham
"ibu benar Ilham, andai dulu kamu bukan menikah dengan perempuan ini dan menikah dengan Ning Aida maka Ari sudah memiliki dua adik sekarang". sambung Marwah sambil menatap menantunya itu dengan sinis apalagi setelah tau bahwa dulu Sintia menjadi pemuas nafsunya yang di ketahui sebagai manager Sintia saat menjadi model bahkan selama tujuh tahun Sintia Menjadi pemuas nafsu
__ADS_1
"dan ibu rasa itu adalah karma dia yang telah melakukan zina selama tujuh tahun bahkan menggunakan KB agar tidak hamil dari hasil zina". ucap Marwah
"ibu cukup". bentak Ilham
"kamu bentak ibu". ucap Marwah
"maaf, Ilham tidak akan membentak ibu jika ibu tidak mengatakan apapun tentang istri Ilham dan jangan bawa bawa Ninh Aida karena Ning Aida sudah bahagia bersama anak dan suaminya". ucap Ilham
ya kini Aida sudah memiliki dua orang anak yaitu yang pertama seorang putra berusia empat tahun dan seorang putri berusia tiga tahun ya karena setelah melahirkan anak pertama di bulan ke lima Ning Aida Hamil lagi. bukan hal mudah awalnya bagi Aida untuk menjalani pernikahannya di saat di masih mencintai orang lain tapi dengan kesabaran Gus Maulana akhirnya Aida bisa menerima pernikahannya.
"dan ibu tidak berhak untuk mengomentari pernikahan kami karena aku yakin saat ini kami diberikan waktu untuk menghabiskan waktu berdua sebelum kami harus mengurus buah hati kami nantinya".
"Ilham mohon ibu berhenti menyudutkan Sintia Bu, bahkan ibu tau apa yang terjadi dengan Sintia bukan sepenuhnya kesalahan Sintia, ibu saja bisa memanfaatkan dan menerima orang yang telah membuat Sintia berada di lingkaran itu lalu kenapa sekarang ibu tidak bisa menerima Sintia dan ini sudah tujuh tahun". sambung Ilham
"bela terus istrimu itu". ucap Marwah
"dia istriku dan aku pasti akan membela serta melindunginya". jawab Ilham
"Bu jika tadi yang ibu katakan di dengar oleh ayah bagaimana perasaan ayah Bu saat tau istrinya tidak bisa menjaga lisannya". ucap Ilham
"Bu Sintia tidak pernah menganggu ibu jadi jika memang ibu belum bisa menerima Sintia, Ilham hanya mohon jangan menyudutkan Sintia di dalam segala hal". sambung Ilham
Marwah yang kesal langsung keluar dari kamar putranya karena Marwah tidak mau suaminya tau apa yang dia katakan jika sampai tau suaminya tidak segan segan menghukumnya karena tidak bisa menjaga lisannya.
"jangan di masukkan hati yang di katakan ibu, karena tidak ada hubungannya dengan apa yang terjadi padamu selama tujuh tahun itu, dia belum hadir karena dia masih memberikan kita untuk menghabiskan waktu bersama karena jika dia hadir waktu pasti tersita hanya untuknya, nanti aku cemburu". ucap Ilham lalu mencium pipi Sintia
"masak cemburu dengan anak sendiri". ucap Sintia
"tentu saja mas akan cemburu jika kamu tidak punya waktu untuk mas apalagi mas tidak bisa bermanja dengan mu hmm". goda Ilham dan itu membuat Sintia terkekeh
__ADS_1
Ilham lalu membawa Sintia ke dalam pelukannya dan tidak lupa Ilham mencium puncak kepalanya Sintia
"ya Allah jangan kamu berikan ujian lagi lady istriku karena ujian yang engkau berikan padanya saat menjalani hidup di lingkaran hitam itu sudah sangat berat jadi hamba mohon jangan engkau berikan ujian lagi". do'a Ilham sambil mengusap punggung Sintia yang masih dia peluk