Cahaya Dalam Kegelapan ( Sebuah Ketulusan)

Cahaya Dalam Kegelapan ( Sebuah Ketulusan)
Sebuah Kenyataan


__ADS_3

Sesampainya di kamar Sintia menatap Ilham dengan tajam


"mas kenapa mas mengadakan pengajian, bagaimana jika semua orang tau jika aku sudah menikah dan itu terdengar ke perusahaan beautyVes , dan aku harus membayar satu Milyar". ucap Sintia


"aku yang akan membayar uang itu" jawab Ilham


"aku tau mas bisa membayar itu tapi bagaimana perasaan mba Kania, apa mas tidak memikirkan hal itu tadi aku bicara dengan Ari dan dia mengatakan bahwa Uminya tidak tinggal di sini dan aku yakin yang membuat mba Kania pergi dari rumah adalah pernikahan kita mas". ucap Kania


"sudah lima tahun Kania tidak tinggal di rumah ini, Kania tinggal di rumahnya sendiri". jawab Ilham


"lima tahun" tanya Sintia


"nanti kamu akan ke rumah Kania kan bersama Ari, nanti kamu akan tau kenapa Kania tinggal di rumahnya sendiri dan itu bukan karena pernikahan kita". ucap Ilham


"sekarang mandi dan pakaian baju yang sudah ada di lemari, dan mulai sekarang tutup aurat mu seperti dulu aku mengenal mu Sintia". ucap Ilham


"aku bukan Sintia yang dulu, aku Sintia yang kotor banyak dosa dan tidak pantas mengunakan pakaian tertutup seperti itu, dan satu lagi aku tidak ingin mas menghancurkan hidupnya dengan mempertahankan aku yang sudah banyak dosa ini". ucap Sintia


"semua orang punya masa lalu Sintia dan kamu pantas menggunakan pakaian tertutup dan Allah akan menerima taubat mu jika kamu mau memperbaikinya, bagiku tidak masalah seperti apa jalan hidupmu tujuh tahun ini yang terpenting sekarang saat kamu bersama ku, aku ingin kamu kembali seperti dulu seperti Sintia yang mas kenal dan mas rasa kamu tau tentang agama jadi tidak ada kata terlambat untuk bertaubat". ucap Ilham menatap ke arah mata Sintia dan Sintia merasa damai saat menatap mata Ilham ada kesejukan di sana


"tapi aku sudah jauh dari agama bahkan untuk sholat saja aku sudah lupa dan mengaji juga aku sudah tidak bisa, sudah selama tujuh tahun aku meninggalkan semua itu". ucap Sintia dengan sendu


"aku akan mengajarimu semua itu dan mas yakin tidak lama bagimu untuk belajar karena sebelum kamu sudah paham, dan sekarang mulailah menggunakan pakaian tertutup". ucap Ilham


"sekarang mandilah mas ambilkan makanan dan satu lagi jika ibu mengatakan sesuatu Jangan di dengarkan". ucap Ilham

__ADS_1


"iya". jawab singkat Sintia


setelah Ilham keluar dari kamar Sintia membuka lemari dan sudah di penuhi dengan gamis, Sintia mengambil salah satu gamis itu dan seketika air matanya jatuh


"gamis ini di pegang saja sudah dingin dan nyaman apalagi di pakaian dan bodohnya aku selama ini telah meninggalkan ajaran agama karena satu malam yang berujung menjadi pemuas nafsu pribadi seseorang". monolog Sintia lalu berjalan menuju kamar mandi


Sintia berdiri di depan cermin saat menggunakan gamis tetapi belum menggunakan hijabnya. Ilham masuk membawakan sarapan, Ilham sedikit terseyum saat melihat Sintia mengunakan gamis itu ,tadi pagi Ilham memesan Liam belas gamis untuk Sintia. Ilham berjalan ke arah Sintia dan mengambil hijab yang tergeletak di atas meja.


Ilham berdiri di depan Sintia dan memakainya hijab itu, Sintia merasakan ke damaian saat itu juga beda saat waktu dia di paksa. jantung kedua berdetak dua kali lipat saat mereka saling mengunci tatapan, seperti saat pertama kali mereka bertemu. Sintia merasakan jantungnya yang berdebar lagi seperti waktu Ilham mengutarakan niatnya untuk menikahinya.


"sudah, mas harap kamu jangan melepasnya kecuali di depan mas". ucap Ilham


Sintia menatap dirinya yang mengunakan pakaian yang tertutup, sudut bibirnya sedikit terseyum karena di bisa memakai pakaian ini lagi


"apakah ini secerah harapan untuk akan sebuah kebahagiaan tapi apakah aku harus bahagia di deritanya orang lain dan bahagia bersama suami orang lain". monolog Sintia dalam hati


Ilham juga belum mengurus surat surat pernikahannya untuk KUA karena Ilham belum meminta data data diri milik Sintia.


setelah selesai makan Sintia berjalan ke dapur, Sintia membantu ibu mertuanya sedangkan Marwah hanya diam saja karena memang dia membutuhkan bantuan untuk membuat berapa hidangan untuk acara nanti malam.


tak terasa pukul sebelas siang Sintia dan ibu mertuanya sudah menyelesaikan kue kue untuk hidangan nanti malam dan untuk makanan berat Ilham memilih memesan.


"assalamualaikum bunda Ari sudah pulang". ucap Ari ketika berada di depan dapur dan menyalami tangan Sintia


"wa waalaikumussalam Ari". sedikit gugup saat akan menjawab salam dari Ari

__ADS_1


"assalamualaikum nenek". ucap Ari dan melakukan yang sama pada Sintia


"waalaikumussalam cucu nenek, mentang mentang punya bunda sekarang yang di sapa bundanya dulu". goda Marwah pada cucu laki lakinya dulu


"Ari ganti baju dan makan dulu ya". ucap Sintia


"siap bunda setelah itu baru ke teman Umi". jawab Ari


Ari langsung berlari ke kamarnya sedangkan Marwah menatap sinis Sintia lalu meninggalkan Sintia.


"Ari mau makan apa". tanya Sintia saat Ari sudah duduk


"ayam kecap saja bunda, hmm Ari mau di suapin bunda". ucap Ari


"baiklah". jawab Sintia


Ari merasakan kebahagiaan saat Sintia menyuapinya karena selama ini Ari hanya mendengar teman temannya jika makan di suapi oleh ibunya


"jadi seperti ini rasanya di suapi benar kata teman teman Ari jika makan di suapi akan lebih nikmat rasanya". ucap Ari dan Sintia menatap Ari dengan tatapan aneh


"memangnya Umi tidak pernah menyuapi Ari makan". tanya Sintia dan Ari hanya mengelengkan kepalanya


Ilham terseyum saat melihat binar bahagia di mata putranya itu, selama ini Ari mengatakan rasanya tidak nikmat jika Abinya yang menguapi itu dan Ari sering bilang dia iri pada anak anak lainnya.


setelah selesai makan Ari mengajak Sintia ke rumah Uminya, Sintia mengikuti langkah Ari dan saat masuk ke sebuah gerbang jantung Sintia berdetak saat membaca tulisan tempat pemakaman umum dan terus mengikuti langkah Ari yang semakin masuk ke dalam. Sintia diam mematung ketika membaca sebuah nisan Kania Larasati

__ADS_1


"ini rumahnya Umi bunda". ucap Ari dan Sintia menatap Ari dengan mata yang berkaca-kaca apalagi saat mengingat Ilham mengatakan bahwa Kania tinggal di rumahnya sendiri sudah lima tahun dan sekarang umur Ari adalah Lima tahun berarti Kania meninggalkan Ilham dan putranya saat Ari masih bayi.


__ADS_2