Cahaya Dalam Kegelapan ( Sebuah Ketulusan)

Cahaya Dalam Kegelapan ( Sebuah Ketulusan)
Mimpi Yang Sama


__ADS_3

ustadz Ilham berjalan di sebuah pinggir danau dan ustadz Ilham mengikuti sebuah cahaya yang sangat terang. saat sampai di sisi danau ustadz Ilham menghentikan langkahnya saat melihat punggung seorang wanita yang menggunakan gaun putih. secara perlahan ustadz Ilham memajukan langkahnya menuju perempuan itu.


"Sintia". ucap ustadz Ilham saat sampai di samping Sintia sedangkan Sintia terseyum manis ke arah ustadz Ilham


"mas akhirnya kamu datang juga aku selalu menunggu disini". ucap Sintia


"menunggu Ku". beo ustadz Ilham


"iya menunggu mu untuk menjemput ku". ucap Sintia sambil tersenyum lebar pada ustadz Ilham sedangkan ustadz Ilham terpaku dengan senyum milik Sintia


"menjemput mu bagaimana". tanya ustadz Ilham dengan bingung


"mas apa kamu tidak ingin membawa pulang , apa mas juga rela jika istri mas ini diambil orang". ucap Sintia


"istri". pekik ustadz Ilham


"Abu Bunda". teriak Ari menghampiri ustadz Ilham dan Sintia


"Ari kenapa manggilnya Bunda". tanya ustadz Ilham pada putranya


"lalu Ari harus manggil apa umi sebutan umikan untuk Umi kania jadi Ari manggil Bunda Sintia ya Bunda lah Abi". jawab Ari


"bukan itu maksud Abi, dia bukan siapa siapa kita". ucap ustadz Ilham


"apa Abi lupa Abikan sudah menikah dengan Bunda Sintia". ucap Ari


"menikah". pekik ustadz Ilham sambil memegangi dahinya


"mas". panggil Sintia berusaha memegang pundak ustadz Ilham


"jangan menyentuh ku". ucap ustadz Ilham


"kenapa aku tidak boleh menyentuh mu mad, aku ini istrimu". ucap Sintia


ustadz Ilham memundurkan langkahnya sambil mengelengkan kepalanya dan mencerna semuanya


"tidak mungkin". beo ustadz Ilham


nafas ustadz Ilham terengah-engah dan ustadz Ilham langsung menyenderkan tubuhnya di kepala ranjang.


"ternyata hanya mimpi". monolog ustadz Ilham


ustadz Ilham turun dari ranjang saat melihat jam menunjukkan pukul dua dini hari, ustadz Ilham berjalan menuju kamar mandi dan mengambil wudhu. dengan khusyuk ustadz Ilham melakukan solat malam setelah selesai ustadz Ilham berdo'a dan tidak lupa mendo'akan almarhum istrinya

__ADS_1


"maafkan mas Kania sudah beberapa hari ini mas memimpin wanita lain, semoga kamu tenang di sana Kania dan mas tidak akan mengantikan posisimu karena mas sudah berjanji untuk menjadikan mu satu satunya sebagai balasan apa yang tidak pernah kamu dapatkan dari mas dari satu tahun pernikahan kita, kamu sangat sabar sehingga akhirnya membuat mas jatuh cinta pada mu Kania, mas berdo'a kamu di tempatkan yang terbaik di sana". do'a ustadz Ilham


dan saat ustadz Ilham mengusapkan tangannya di wajahnya ustadz Ilham Melihat Sintia yang terseyum padanya sambil mengendong bayi serta Ari yang ada di samping Sintia


"astaghfirullah". ucap ustadz Ilham lalu membuka matanya bahkan jantungnya berdetak dua kali lipat


"ada apa ini kenapa aku selalu memimpikan yang sama beberapa hari ini dan setiap selesai sholat saat aku menutup do'aku, aku melihat Sintia yang terseyum padaku dan mengedong bayi lalu Ari juga ada di samping Sintia". monolog ustadz Ilham sambil memegang dadanya yang berdetak sangat cepat, ustadz Ilham menarik nafasnya lalu mengeluarkan agar jantung tidak berdetak terlalu cepat tetapi usaha sia dia jantung tetap berdetak sangat cepat seperti saat dirinya mengkhitbah Sintia dulu


"kenapa berdetak seperti ini". monolog ustadz Ilham


ustadz Ilham meraih Al-Qur'an dan memilih untuk mengaji sembari menunggu adzan subuh, saat mengaji detak jantung ustadz Ilham masih berdetak dengan cepat tetapi secara perlahan detak jantungnya kembali normal. saat subuh tiba Ari yang sudah siap dengan baju Koko, dan peci masuk ke kamar ustadz Ilham.


"Abi Ari sudah siap ayo ke masjid sebentar lagi adzan subuh". ucap Ari dan ustadz Ilham mengakhiri mengajinya


"wah anak Abi semakin pintar dan rajin". puji ustadz Ilham pada putranya


"iya dong Abi sebaiknya sholat itu harus tepat waktu jadi Ari harus sholat tepat waktu". jawab Ari


"anak yang pintar". ucap ustadz Ilham


"ayo berangkat Abu agar bagian shaf depan". ajak Ari


"ayo". jawab ustadz


"ustadz Ilham Ari anak yang rajinnya, anak anak yang lain jam segini masih tidur tetapi Ari sudah ada di masjid". ucap pak Karyo


"terima kasih pak agar anak bisa rajin sholat ataupun melakukan hal yang positif lainnya sebenarnya tergantung bagaimana orang tuanya mendidiknya". jawab ustadz Ilham


saat tiba waktunya sholat Ari mengikuti gerakan imam, setelah selesai sholat ternyata Ari tertidur dan ustadz Ilham yang melihat itu tersenyum, ustadz Ilham mengedong putranya karena ini hari Minggu jadi ustadz Ilham tidak membangunkan Ari. setelah sampai di rumah ustad Ilham membaringkan Ari di ranjangnya. ustadz Ilham mengambil foto Kania yang selalu Ari peluk setiap ingin tidur.


"ayah tau kamu juga ingin seperti anak anak lainnya yang ingin merasakan kasih sayang seorang ibu". ucap ustadz Ilham sambil mengusap rambut putranya


"Sayang Allah lebih sayang dengan ummah jadi Allah mengambil ummah lebih dulu". sambung ustadz Ilham lalu mencium dahi putranya


ustadz Ilham meletakkan foto itu di atas nakas lalu keluar dari kamar putranya


tok


tok


ustadz Ilham membuka pintu dan terkejut saat melihat Abah Rahman ada di rumahnya


"assalamualaikum Abah". ucap ustadz Ilham

__ADS_1


"waalaikumussalam". jawab Abah


"mari masuk Abah". ucap ustadz Ilham


Abah dan ustadz Ilham sudah berada di ruang tamu sedangkan ustadz Ilham diam saja dengan kebingungan kenapa pagi pagi sudah ada di rumahnya


"Ari dimana ham". tanya Abah


"Ari sedang tidur Abah setelah sholat subuh". jawab ustadz Ilham


"sebenarnya Abah datang kemari ingin membicarakan sesuatu padamu Ilham". ucap Abah


"Abah ingin membicarakan apa". tanya ustadz Ilham


"tadi saat Abah jalan jalan pagi, Abah mendengar ibu ibu membicarakanmu dan Aida bahkan mereka mengatakan bahwa kalian akan menikah, jujur Abah sedikit kecewe mendengar rumor ini dan Abah juga tidak tau kalian berdua sedekat apa sehingga ada rumor ini". ucap Abah


"maaf bah saya dan Ning Aida tidak memiliki hubungan apapun, kami bertemu hanya di tempat mengaji dan bertegur sapa saat kami bertemu di jalan". jawab ustadz Ilham


"Abah tau nak hanya saja rumor ini sudah menyebar dan Minggu depan akan ada yang melamar Aida dan bagaimana jika Gus Maulana mendengar rumor ini". ucap Abah


"jadi tadi Abah sudah memutuskan bahwa Abah ingin kamu menikah dengan Aida". ucap Abah


deg


ustadz Ilham terdiam mendengar pernyataan apa


"ham Abah tau ini mengejutkan mu tapi Abah ingin kamu menikah dengan Aida, Apalagi rumor kalian akan menikah sudah menjadi buah bibir di lingkungan pesantren dan juga masyarakat dan Abah yakin jika kalian tidak menikah akan dan rumor lainnya dan itu tidak baik untukmu dan juga Aida". ucap Abah


"tapi maaf bah Ilham tidak ingin menikah lagi". jawab ustadz Ilham


"Abah tau Ilham sangat mencintai Kania tetapi selain rumor pernikahan kalian ada yang mengatakan bahwa kalian sering berduaan dan ada yang mengatakan kalian sering pegangan tangan, Abah hanya ingin menjaga kehormatan Aida ham, jika ini di dengar oleh orang lain Abah yakin tidak ada yang akan mau menikah dengan Aida karena mereka akan berpikir macam-macam, berpegang tangannya saja berani pasti mereka akan berpikir lainnya". sambung Abah


"tapi bah itu semua tidak benar". ucap ustadz Ilham


"Abah tau ham tapi mau bagaimana lagi kalian berdua sudah menjadi gosip jika kalian tidak segera menikah nama baik kalian yang akan jadi ancamnya". ucap Abah


"pikiran baik baik". sambung Abah dan ustadz Ilham diam saja karena jika rumor itu ada seharunya tadi saat di masjid ada yang membicarakannya


"Abah pulang dulu dan keputusan ada di tangan mu ham jika memang kamu tidak ingin meninggalkan dengan Aida Abah mohon hilangkan rumor dan gosip itu dalam tiga hari". ucap Abah


"Abah pamit assalamualaikum".


"wassalamu'alaikum". jawab ustadz Ilham

__ADS_1


__ADS_2