
sore ini Ilham dan Sintia datang ke perusahaan BeutyVes untuk membayar uang pinalti setelah di beritahu oleh Zahra bahwa mereka di suruh datang sore ini. di dalam perjalanan hanya keheningan yang menemani mereka. setelah sampai Ilham dan Sintia turun dan menuju resepsionis.
"permisi mba saya mau bertemu Bu Mira". ucap Sintia pada resepsionis itu
"sudah membuat janji". tanya resepsionis itu
"sudah mba". jawab Sintia
"tunggu sebentar saya beritahu dulu Bu Mira". ucap resepsionis
Sintia menelpon Bu Mira sambil menatap penampilan Sintia yang menggunakan gamis, setelah telepon di angkat resepsionis itu memberitahu bahwa nona Sintia ingin menemuinya.
"silahkan masuk Bu Mira sudah menunggu di ruangannya". ucap resepsionis
"terima kasih mba". ucap Sintia
setelah Ilham dan Sintia masuk resepsionis itu berbincang pada rekannya mereka saling membicarakan Sintia bahkan mereka mengatakan bahwa Sintia hamil dulu hingga tiba tiba menikah seperti itu padahal masih terikat kerja sama dengan perusahaan BeautyVes.
Sintia dan Ilham yang sudah berada di ruangan Bu Mira duduk berhadapan dengan Bu Mira
"kenapa menikah mendadak seperti ini Sintia padahal karirmu di dunia model juga Bagus apa tidak bisa menunggu kerja sama kita selesai dulu, kehadiran mu di perusahaan ini membuat pendapatan perusahaan semakin meningkat dan otomatis bayaramu juga ikut naik, dan lihat sekarang penampilan mu seperti ibu ibu". ucap Bu Mira
"maaf Bu kedatangan kami kemari hanya untuk membayar uang pinalti dan setelah itu urusan istri saya dan perusahaan anda sudah selesai, bukan untuk membahas yang lain". ucap Ilham
"iya, memangnya kamu ada uang untuk membayarnya , aku rasa kamu menikah dengan Sintia karena uang diakan". ucap Bu Mira yang tidak terima Sintia menikah begitu saja karena dia akan kehilangan pendapatan
Ilham meletakkan koper yang dia bawa di atas meja dan membukanya
"jumlah uangnya sesuai dengan yang harus di bayar oleh istri saya". ucap Ilham
"ternyata dia punya uang, tapi kenapa ustadz ini bisa punya banyak uang seperti ini bukannya berita yang beredar adalah dia hanya guru ngaji dan mengajar di pesantren". monolog Bu Mira dalam hati
"saya rasa urusan kita sudah selesai Bu saya juga minta maaf jika saya tidak bisa menyelesaikan kerja sama ini, Terima kasih". ucap Sintia
"iya". jawab Bu Mira singkat
setelah membrikan uang itu Sintia dan Ilham keluar dari ruangan itu dan ketika melewati resepsionis Ilham menghentikan langkahnya Ketika resepsionis itu membicarakan Sintia
__ADS_1
"jangan berbicara jika tidak tau kebenarannya karena itu akan membuat sebuah dosa jika yang kalian katakan tidak benar". ucap Ilham lalu membawa Sintia keluar dari perusahaan itu sedangkan resepsionis dan temannya hanya diam saja
"seharusnya biarkan saja mereka berbicara seperti itu". ucap Sintia
"aku hanya mengatakan sesuatu agar mereka tidak membicarakan orang lain lagi". jawab Ilham
"mampir dulu ke toko kue untuk membelikan kue bolu coklat kesukaan Ari ya". ucap Ilham
"iya". jawab Sintia
Ilham melajukan mobilnya menuju ke toko kue langganannya, setelah sampai mereka berdua turun. ketika melihat brownis Sintia mengambil brownies itu untuk ibu mertuanya karena Sintia tau ibunya Ilham sangat suka dengan brownies.
"semoga saja dengan perhatian kecil ini bisa membantu Tante Fatimah bisa menerima ku". monolog Sintia
"ayo biar sekalian mas bayarkan". ucap Ilham
"yang ini biar aku saja mas yang bayar, aku ingin membelikan ini untuk ibu". ucap Sintia dan Ilham menanggukan kepalanya
ketika sampai di rumah Ari sangat senang ketika melihat Abinya membawa kantong plastik yang berlogo toko kue kesukaannya, Ilham langsung memberikan kue itu pada Ari tadi di toko Ilham sudah meminta untuk memotong kue tersebut. Sintia melekat browniesnya di meja.
Fatimah yang baru saja dari dapur langsung mengahampiri Ilham dan matanya berbinar ketika melihat brownies itu. Fatimah langsung memakan brownies itu.
"Sintia yang membelikan itu karena dia masih ingat brownies kesukaan ibu". ucap Ilham
uhuk
uhuk
uhuk
Fatimah tersedak saat tau yang membelikan dia brownis adalah Sintia sedangkan Sintia merasa bahwa mertuanya tidak menyukai dirinya dan Sintia tau apa yang membuat ibu mertuanya tidak menyukai dirinya yaitu dirinya yang sudah tidak suci lagi
"brownies nya pahit". ucap Fatimah
"blowniesnya manis nenek". ucap Ari ketika memakan brownies itu
"kenapa benak bohong, bohong itu dosa". sambung Ari
__ADS_1
"jika tidak mau blownies ini untuk Ari saja". ucap Ari lalu memangku brownies tersebut
sebentar lagi adzan magrib Ilham mengajak Ari ke masjid dan tidak lupa mengajak Sintia tetapi Sintia menolak karena dia merasa canggung dengan warga sekitar setelah mendengar apa yang di katakan oleh para warga.
"bunda ayo ikut saja". ajak Ari
"ya sudah ayo". jawab Sintia saat melihat wajah Ari
Ari mengandeng tangan Ilham dan Sintia, anak itu begitu senang. sesampainya di masjid Ari ikut Ilham sedangkan Sintia menuju ke tempat para perempuan. semua mata menuju kepada Sintia dan ada yang berisik "ternyata modek seksi itu sholat jika sholat apa diterima karena berpakaian seksi" Sintia yang mendengar itu menghela nafasnya
"jangan dengarkan mereka biasanya mereka juga memujimu mereka hanya tidak terima jika kamu menikah dengan ustadz Ilham karena selama ini mereka selalu menjodohkan ustadz Ilham dengan Ning Aida". ucap wanita yang duduk di samping Sintia
"saya sudah terbiasa dengan hal itu". jawab Sintia
"saya Asiyah, saya tinggal tidak jauh dari rumah ustad Ilham, saya tinggal bersama suami dan kedua anak saya lain kali mampir ke rumah ya dan ajak Ari juga". ucap Asiyah
"iya mba" Jawab Sintia
semua sholat dengan tenang dan kali ini yang menjadi imam adalah ustadz Ilham. setelah selesai sholat mereka semua kembali ke rumah masing-masing, Ari yang sampai di rumah langsung mengambil kue dan brownies tersebut
"nenek kenapa blowniesnya tinggal dikit, nenek makan ya". ucap Ari
"jangan menuduh nenek". ucap Fatimah
"Ari tidak menuduh tapi di bibir nenek ada sisa brownis yang belum masuk, nenek jangan gengsi dong". ucap Ari
"ya nenek ngaku deh nenek yang makan". ucap Fatimah
Ari memberikan brownies itu pada neneknya dan Fatimah segera menghabiskan brownies itu sebelum Ilham dan Sintia melihatnya memakannya.
jama sudah menunjukkan pukul delapan malam, iham berpamitan pada Sintia bahwa dia ada rapat pengurus pondok tetapi sebenarnya Ilham akan menemui Bagaskara di tempat yang di sebutkan oleh Zahra kemarin. Ilham tidak mengatakan bahwa Bagaskara memintanya bertemu malam ini.
Bagaskara terseyum saat mendengar pintunya di ketuk
"akhirnya kamu datang". ucap Ilham dan membuka pintunya tetapi Bagaskara langsung terdiam saat melihat suami dari Sintia ada di hadapannya
💙💙💙
__ADS_1
jangan lupa Like, Komen dan berikan hadiah