Cahaya Dalam Kegelapan ( Sebuah Ketulusan)

Cahaya Dalam Kegelapan ( Sebuah Ketulusan)
Keguguran


__ADS_3

sesampainya di rumah sakit Sintia langsung di tangani oleh dokter sedangkan Ilham dan ibunya menunggu di depan. Marwah sejak tadi tangannya bergetar dan menatap darah yang menempel di tangannya.


"Kenapa ada darah, bagaimana jika....". ucap Marwah dalam hati dan melihat ke arah putranya, Marwah menjadi takut jika putranya tau dialah penyebab istrinya seperti itu.


sedangkan Ilham sejak tadi terus berdo'a agar istrinya baik baik saja. Ilham langsung menghampiri dokter yang keluar dari ruangan.


"bagaimana keadaan istri saya dok". tanya Ilham


"istri bapak baik baik saja tapi maaf kami tidak bisa menyelamatkan janin yang di kandung istri bapak karena saat sampai di rumah sakit janin itu sudah tidak ada". jawab dokter Alana


"janin". ucap Ilham yang terkejut


"iya".


Ilham memijat dahinya karena dia harus kehilangan calon anaknya bahkan dirinya belum mengetahui kehadirannya dan sekarang yang Ilham pikirkan apa istrinya juga mengetahuinya. akan seperti apa reaksinya jika sampai tau bahwa dia kehilangan calon anaknya yang sangat Sintia nantikan selama tujuh tahun ini.


Marwah merasa lemas dengan perkataan dokter tadi dan itu berhasil membuat Marwah merasa takut, takut dengan kekecewaan putranya terhadap dirinya dan juga Marwah takut akan reaksi suaminya ketika tau apa yang dia perbuat pada Sintia.


"Bu apa yang sebenarnya terjadi Kenapa Sintia bisa terbaring di lantai". tanya Ilham


"i ibu tidak tau". jawab Marwah dengan memperhatikan darah yang ada di tangannya dan juga di pakaian putranya.


Ilham menghela nafasnya dan masuk ke dalam ruangan. Ilham menatap istrinya yang masih setia menutup matanya. Ilham mencium dahi Sintia.


"maafkan mas sayang mas tidak bisa menjaga mu hingga seperti ini". ucap Ilham dan meneteskan air matanya


Ilham duduk di sampaikan Sintia dan mengusap punggung tangan Sintia kemudian tangannya terulur ke perut Sintia yang sudah tidak ada nyawa yang tumbuh di sana.


"semoga kamu bisa kuat dengan ujian ini sayang, pasti nanti akan hadir kembali di disini". ucap Ilham yang masih setia meletakkan tangannya di perut Sintia.


"ugh". lenguh Sintia dan secara perlahan membuka matanya

__ADS_1


"mas". panggil Sintia


"iya sayang buat sesuatu". tanya Ilham dan Sintia mengelengkan kepalanya


"apa ada yang sakit". tanya Ilham


"tadi perutku sakit terus ada darah". ucap Sintia


"sayang kamu harus sabar ya, jika kamu sabar dan ikhlas maka Allah akan mengantikan dia dan dia akan hadir kembali di sini". ucap Ilham


Sintia berusaha mencerna ucapan suaminya dan setelah tau maksudnya langsung meneteskan air matanya


"mas aku keguguran". tanya Sintia dan Ilham menanggukan kepalanya


"kenapa Allah selalu mengujiku mas, dan kenapa Allah mengambilnya dengan cepat bahkan aku belum mengetahui kehadirannya hiks". ucap Sintia sambil memegang perutnya


"sayang dengarkan mas pasti ada rencananya yang indah di balik semua ini". ucap Ilham sambil membawa Sintia ke dalam pelukannya


sedangkan Marwah juga ikut meneteskan air matanya saat melihat bagaimana rapuhnya Sintia tapi dia juga takut jika Sintia mengatakan pada putranya bahwa dirinya penyebab semua itu.


"maafkan aku mas, aku tidak bisa menjaga diriku sehingga kita kehilangannya karena kecerobohan ku pasti mas kecewa karena tujuh tahun kita menantikan kehadirannya". ucap Sintia


"mas tidak kecewa sayang, sudah ya jangan larut dalam kesedihan dan mas yakin pasti dia akan kembali lagi nanti". ucap Ilham dan mencium puncak kepalanya istrinya. Ilham juga tidak akan menanyakan apa yang terjadi padanya sehingga bisa berada si lantai seperti itu.


Ilham membaringkan kembali istrinya di brangkar


drt


drt


drt

__ADS_1


"assalamualaikum Abi". ucap Ari yang kini sudah berusia tiga belas tahun


"wassalamu'alaikam Ari". jawab Ilham


"Abi kenapa rumah sepi, Abi, bunda dan nenek sedang ada dimana". tanya Ari karena saat pulang sekolah dirinya tidak menemukan siapapun di rumah


"kami sedang ada di rumah sakit Ari". jawab Ilham


"rumah sakit siapa yang sakit Abi". tanya Ari yang ikut khawatir


"tadi bunda jatuh dan harus di larikan ke rumah sakit". jawab Ilham


"di rumah sakit mana Abi, Ari mau kesana sekarang". ucap Ari


"tidak perlu kesini, Ari jaga rumah ya, bunda sudah baik baik saja nanti nenek akan pulang". ucap Ilham


"iya Abi, Ari tutup ya wassalamu'alaikum Abi".


"waalaikumussalam".


setelah sambungan telepon terputus Ilham menatap istrinya terbaring di brangkar dengan tatapan kosong.


"sayang mas keluar sebentar ya, mau memberikan kunci mobil sama ibu, biar ibu pulang karena Ari di rumah sendirian". ucap Ilham


Marwah memeras jarinya saat melihat putranya keluar dari ruangan, Marwah menetapkan was wae karena berpikir bahwa Sintia sudah mengatakan apa yang terjadi.


"Bu ini kunci mobilnya, ibu pulang saja ya biar Ilham yang menjaga Sintia di sini, kasihan Ari di rumah sendirian". ucap Ilham dan Marwah menerima kunci itu.


"sebaiknya kamu pulang dulu Ilham ganti pakaian biar ibu dulu yang menjaga Sintia di sini sampai kamu kesini lagi nak". ucap Marwah dengan harapan ada kesempatan untuk berbicara berdua dengan Sintia dan memintanya agar tidak mengatakan apa yang dia perbuat tadi


"tidak perlu bu tadi aku sudah meminta Jo untuk membawa pakaian untuk ku". jawab Ilham

__ADS_1


akhirnya Marwah memutuskan untuk pulang dan sepanjang perjalanan pulang Marwah hanya diam saja.


__ADS_2