
kita cerai saja ya". ucap Sintia saat mereka sudah sampai kamar
deg
ucapan yang keluar dari mulut Sintia membuat Iham terdiam dan menatap Sintia dengan intens
"kenapa". tanya Ilham dengan singkat dan tatapan Ilham membuat Sintia menelan ludah
"aku tidak ingin menyakiti istrimu mas dan saya yakin kehadiran ku akan membuatnya terluka, dan sejak tadi aku tidak melihatnya aku yakin sekarang istrimu sedang bersedih". jawab Sintia dan mengutarakan apa yang mengganjal sejak tadi
"dia tidak akan marah dan tidak akan ada kata cerai". ucap Ilham
"mas apa kamu sudah gila, kenapa kamu tidak menyakitinya bahkan dia rela menaruhkan nyawanya saat melahirkan anak mas tapi apa yang mas kasih kepadanya yaitu membawa wanita lain dalam pernikahan kalian". ucap Sintia yang tidak habis fikir Kenapa Ilham begitu mudahnya mengatakan bahwa istrinya tidak akan marah
"sebaiknya kamu istirahat karena satu jam lagi akan masuk waktu Magrib". ucap Ilham dan meninggalkan Sintia di kamar itu
saat Ilham masuk ke kamarnya yang di samping Sintia yakin itu kamar Ilham dan istrinya, Sintia berpikir mungkin Ilham sedang berbicara dengan istri pertamanya. Sintia segera menutup pintunya dan mencoba menempelkan telinganya ke tembok dengan harapan dapat mendengar sesuatu.
"aku kamarnya kedap suara ya aku tidak bisa mendengar apapun". monolog Sintia lalu berjalan ke arah ranjang dan melepas hijabnya dan membaringkan tubuhnya, Sintia memejamkan matanya untuk menghilangkan rasa penat yang menjalar di pikirannya.
Sintia bangun dari tidurnya saat mendengar adzan Magrib, Sintia menatap ke arah pintu saat pintu itu terbuka dan menampilkan Ilham dengan rambut yang basah sehingga membuat pikiran Sintia melalang buana
"ayo sholat". ajak Ilham
__ADS_1
"a aku sedang tidak sholat". bohong Sintia
"baiklah". setelah mengatakan itu Ilham menutup pintunya
Sintia terpaksa berbohong karena sudah tujuh tahun ini dia tidak melaksanakan sholat dan selain itu Sintia belum siap bertemu dengan istri pertama Ilham, apalagi saat Sintia melihat rambut basah Ilham tadi membuat Sintia berpikir bahas Ilham dan istri pertamanya melakukan hubungan suami istri.
"kenapa takdir ku seperti ini, apa masih kurang penderitaan yang harus aku alami ala tidak cukup tujuh tahun ini aku hidup di lumpur dosa dan sekarang aku harus menjadi istri kedua yang Dimana posisiku pasti menyakiti istri pertamanya". monolog Sintia lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya
sedangkan di apartemen Zahra bingung mencari keberadaan Sintia dan Zahra juga menghubungi ponsel Sintia tetapi operator yang terhubung.
"nona Kamu dimana". monolog Sintia
"semoga saja nona tidak melakukan apapun, akan aku tunggu sampai jam sembilan jika sampai jam sembilan nona belum pulang maka aku harus memberitahu om Bagaskara". ucap Zahra sambil memijat dahinya
Ilham membuka pintu ketika mendengar bel pintu berbunyi dan ternyata kurir yang mengantarkan pesanan yang dia pesan sebelum magrib.
"terima kasih pak". ucap Ilham
Ilham membawa paket itu ke kamar Sintia dan saat Ilham masuk ke dalam kamar itu , Ilhan melihat Sintia yang terdiri di dekat jendela tanpa mengunakan hijab, Ilham langsung menarik Sintia untuk menjauh dari jendela dan Ilham langsung menutup jendela itu serta menutup gordennya.
"kenapa hijabnya tidak di pakai". tanya Ilhan.
"sudah tujuh tahun aku tidak memakainya". jawab Sintia
__ADS_1
"itu ada pakaian untuk mu dan segeralah mandi dan setalah baru makan malam". ucap Ilham
Sintia melihat ada paper bag dan handuk di atas ranjang. Sintia langsung meraih dua benda itu sedangkan Ilham duduk di sofa untuk menunggu Sintia selesai mandi. di dalam kamar mandi Sintia menghela nafasnya dengan kasar ketika pakaian yang di belikan Ilham ada sebuah gamis dan jilbab yang besar serta cadar. Sintia langsung membersihkan tubuhnya dan hanya memakai gamisnya saja .
saat keluar dari kamar mandi Sintia melihat Ilham yang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya
"ayo kita turun". ajak Ilhan tanpa melihat ke arah Sintia
"jangan lupa pakai hijabnya". perintah Ilham
"aku tidak pantas memakainya". jawab Sintia
"semua orang pantas memakai hijab untuk menutup aurat agar untuk menjaga dirinya". ucap Sintia
"itu untuk orang orang yang tidak di penuhi dengan dosa". ucap Sintia
tanpa banyak tanya Ilham mengambil hijab itu dan memaksa Sintia untuk memakainya. kini mereka semua sudah berada di ruang makan dan Sintia mengamati satu persatu orang yang ada di sana
"kenapa tidak ada istri pertama mas Ilham, apa mba Kania begitu sakit mendengar suaminya menikah lagi hingga tidak mau makan". monolog Sintia dalam hati
"aku sudah menduga ini, tidak ada wanita yang ini di madu, aku harus memikirkan bagaimanapun caranya mas Ilham menceraikan aku, aku tidak ingin menyakiti orang lain". sambung Sintia dalam hati dan memakan makanannya sambil memikirkan cara untuk mengakhiri pernikahan yang baru saja terjadi beberapa jam lalu.
Sintia merasa menyesal lari masuk ke dalam pondok untuk menghindari kejaran para preman dan berujung dia menikah dengan Ilham
__ADS_1