Cahaya Dalam Kegelapan ( Sebuah Ketulusan)

Cahaya Dalam Kegelapan ( Sebuah Ketulusan)
Menyempurnakan Pernikahan


__ADS_3

di dalam kamar mandi Sintia masih teringat ucapan Bagaskara waktu di supermarket tadi sehingga membuatnya bertanya tanya benarkah apa yang di katakan oleh Bagaskara tadi. Sintia menarik nafasnya dan keluar dari kamar mandi, Sintia melihat suaminya yang sedang duduk di bibir ranjang.


"Duduk sini dulu". ucap Ilham sambil menepuk bibir ranjang yang ada di sampingnya


Sintia melangkahkan kakinya mengahampiri suaminya dan duduk di sebelah suaminya, Ilham terseyum pada Sintia sebelum berbicara


"apa ada yang mengganggu pikiran mu". tanya Ilham pada Sintia dan Sintia mengelengkan kepalanya sambil menundukkan kepalanya


Ilham mengangkat dagu Sintia dan mengarahkan kepadanya.


"aku tau apa yang mengganggu pikiran mu jika tidak maka tidak mungkin kamu diam saja seperti ini bahkan tidak merespon Ari". ucap Ilham


"apa ada yang mengatakan sesuatu padamu dan aku tidak mengetahuinya". tanya Ilham


"mengatakan apa, mau mengatakan apa tentang ku". jawab Sintia dan Ilham menarik nafasnya saat Sintia belum mau mengatakan apapun


Sintia naik ke atas ranjang dan membaringkan tubuhnya membelakangi Ilham, Ilham menyusul Sintia dan melingkarkan tangannya di pinggang Sintia dan Sintia dapat merasakan hembusan nafasnya suaminya yang menerpa lehernya.


"aku tau tadi dia menghampiri mu dan mengatakan sesuatu padamu, aku tidak tau dia mengatakan apa tapi setelah kamu bertemu dengannya kamu langsung diam seperti ini". ucap Ilham tetap di telinga Sintia


"mas menikahi ku karena kasihan kan". ucap Sinta sehingga Ilham mulai tau apa yang Bagaskara katakan pada istrinya


"kenapa berbicara seperti itu". tanya Ilham yang ingin tau apa saja yang di katakan Bagaskara pada istrinya

__ADS_1


"sudah satu bulan kita menikah tapi kamu tidak pernah menyentuh ku pasti kamu jijikan dengan tubuh ku yang pernah di jamah oleh orang lain selama tujuh tahun dan kamu menikah dengan ku karena kasihan bukannya". ucap Sintia sambil meneteskan air matanya


Ilham membalikkan tubuh Sintia hingga menghadapnya dan Ilham menghapus air mata Sintia yang sudah mengalir ke pipi istrinya


"dengar aku pernah mengatakan aku tidak mempermasalahkan kehidupan yang kamu jalani selama tujuh tahun ini dan aku pernah menganggap mu kotor di mata ku kamu seperti Sintia yang masih sama sebelum tragedi itu". ucap Ilham sambil mengusap pipi istrinya


"tapi kamu tidak menyentuh ku dan tidak mungkin kamu tidak menginginkannya apalagi kita tidur satu ranjang , aku yakin kamu pasti menginginkannya tapi kamu merasa jijik dengan ku". ucap Sintia


"kamu tau aku tidak menyentuh mu karena kamu masih merasa canggung kepada ku Sintia bahkan saat aku mencium kening mu aku dapat merasakan kecanggungan mu dan aku ingin menyentuh mu ketika kamu sepenuh bisa menerima ku sebagai suamimu". ucap Ilham sambil terseyum


"dan selama ini kamu masih memberi jarak di antara kita Sintia dan kamu masih berpikir bahwa aku tidak menerima mu bahkan tidak itu saja kamu masih berpikir bahwa aku masih memikirkan Kania sehingga menjadikan mu pengganti Kania dan hal itulah yang membuat aku tidak ingin menyentuhmu karena apa karena aku tidak ingin kamu berpikir bahwa aku melakukannya karena nafsu". ucap Ilham


"kamu dan Kania memiliki ruang sendiri di dalam hatiku". sambung Ilham dan mencium kening Sintia


"jawab aku zaujati". ucap Ilham


"a aku tidak tau karena aku masih takut jika Pernikahan ini hanya semu apalagi dengan kehidupan yang aku jalani tujuh tahun ini yang suatu saat akan membuat mu menyesal dan meninggalkan aku suatu saat nanti, aku takut hatiku terluka lagi seperti aku mendengar mu mengucapkan nama wanita lain yang seharusnya menjadi hari pernikahan kita". ucap Sintia sambil memainkan kukunya


"dalam hidupku aku tidak akan pernah melepaskan apa yang sudah menjadi milikku dan apapun yang akan terjadi kedepannya aku akan tetap mempertahankan mu Sintia karena pada sejatinya di dalam pernikahan tidak hanya terisi dengan kebahagiaan dan kesenangan saja, suatu saat pasti akan mengalami yang namanya ujian rumah tangga dan di situlah menjadi titik puncak dari kehidupan rumah tangga, apakah kita bisa mempertahankan kapal kita dan melewatinya sehingga mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya ataupun sebaliknya yaitu menyerah dengan ujian tersebut". ucap Ilham yang berusaha memberikan pergertian pada istrinya itu


"sekarang pahamkan karena sebuah pernikahan itu bukanlah permainan karena setelah akad terucap maka di situlah sebuah tanggung jawab berpindah tangan dan kita harus memahami hak dan tanggung jawab kita masing masing". sambung Ilham


"dan tidak hanya itu saja tetapi sebuah sifat dan perbedaan juga akan menjadi sebuah tantangan dalam diri kita masing-masing karena kita harus bisa menerima dan menekan ego kita agar kita bisa menjalankan rumah tangga dengan baik karena pada dasarnya setiap orang memiliki sifat dan kepribadian yang berbeda beda dan kita tidak akan bisa menyamakannya". ucap Ilham dan Sintia mendengarkan apa dikatakan suaminya itu

__ADS_1


"jadi sekarang Jangan dengarkan omongan orang lain karena kitalah yang menjalani pernikahan ini bukan mereka". ucap Ilham sambil terseyum


"aku harap istriku ini paham apa yang aku sampaikan tadi hmmm". sambung Ilham dan terbitlah senyum di bibir Sintia


"paham". ucap Sintia dan Ilham terkekeh


"nah gitu jangan diam saja ataupun bersedih karena aku tidak akan membiarkan air mata ini jatuh sia sia karena hal yang tidak penting". ucap Ilham


Ilham mendekatkan wajahnya pada wajah Sintia dan mengecup dahi Sintia yang kemunduran turun ke pipi lalu ke hidung dan terakhir bibir Sintia. apa yang di lakukan oleh suaminya membuat Sintia menengang dan mencengangkan erat kerah kemeja suaminya. Ilham menggesekkan hidung pada hidung Sintia


"aku menginginkannya dan bolehkan malam ini aku melakukannya dan menjadikan mu milikku". bisik Ilham


Sintia menarik nafasnya karena rasanya begitu gugup dan canggung seketika menyelimuti Sintia


"bo boleh". jawab Sintia dengan gugup dan Ilham terkekeh dengan kegugupan Sintia


Ilham memandangi wajah Sintia yang sudah tersipu malu dan timbul rona merah di pipi istrinya itu


"gemasnya istriku ini jika tersipu malu seperti ini". ucap Ilham


setelah mendapatkan persetujuan dari Sintia, Ilham mengajak Sintia untuk sholat terlebih dahulu sebelum menjalankan ibadah yang akan menjadi penyempurna pernikahan mereka. setelah selesai sholat Ilham mengendong Sintia dan merebahkan Sintia ke ranjang. Senyum yang Ilham tunjukkan membantu Sintia semakin gugup, tidak pernah Sintia banyangkan bahwa dia akan melakukan ini bersama pasangan yang hal untuknya. sungguh Takdir begitu indah dulu mereka di jauhkan karena sebuah tragedi dan sekarang mereka di persatukan kembali.


malam ini sepasang suami istri itu telah menyempurnakan pernikahan mereka.

__ADS_1


__ADS_2