Cahaya Dalam Kegelapan ( Sebuah Ketulusan)

Cahaya Dalam Kegelapan ( Sebuah Ketulusan)
Malu


__ADS_3

Ilham melepaskan pelukannya dan mereka bertiga tertawa bersama terutama Ari yang kini duduk di tengah tengah mereka.


"Ari sayang Abi dan Bunda". ucap Ari


"kami juga sayang Ari". ucap Ilham dan Sintia secara bersamaan. mereka berdua mencium pipi Ari secara bersamaan dan Ari mengambil ponselnya lalu mengabadikan momennya itu


"bagus fotonya, dulu Ari hanya bisa melihat foto teman Ari yang seperti ini dan sekarang Ari bisa merasakannya". ucap Ari, Sintia yang gemas dengan Ari lalu mengacak acak rambut Ari.


Ari merbahkan kepalanya di pangkuan Sintia dan kakinya berada di pangkuan Abi lalu Ari menyerahkan ponselnya pada Abinya dan Ilham mengambil ponselnya


"hmmm lagi ini di manja ya". Ucap Sintia dan Ari menanggukan kepalanya


Sintia mengusap kepala Ari sedangkan Ilham meraih tangan Sintia yang ada di sandaran sofa, Sintia melihat ke arah Ilham saat merasakan tangannya di genggaman oleh suaminya, Ilham langsung terseyum saat Sintia menatapnya, Sintia langsung menundukkan kepalanya saat melihat senyum Ilham yang membuat dadanya berdebar.


Ari mulai memejamkan matanya saat merasakan usapan Sintia yang begitu nyaman, Ilham yang melihat putranya mulai memejamkan matanya langsung menepuk kakinya agar tidurnya segara pulas dan dia bisa menghabiskan waktu berdua dengan Sintia. selain menepuk nepuk kaki putranya Ilham juga mengusap usap punggung tangan Sintia yang dia pegang. setelah lima belas menit Ilham melambaikan tangannya di wajah putranya dan menepukkan jarinya di pipi putranya itu, Ilham terseyum saat melihat putranya sudah tertidur pulas. Ilham mengendong putranya


"setelah ini giliranmu sayang memanjakan ku". bisik Ilham lalu membawa putranya ke dalam kamarnya


sesampainya di kamar Ilham meletakkan putranya secara perlahan di ranjang, Ilham menepuk nepulkan tangan agar Ari merasa nyaman.


"tidur siang dulu nak jangan cepat bangunannya dan bangunnya nanti jam setengah tiga, Abi mau manja dengan bunda dulu jangan ganggu ya". ucap Ilham dan mengusap dahi putranya lalu meninggalkan kamar itu.


Ilham langsung merbahkan kepalanya di pangkuan Sintia dan menatap istrinya itu dengan intens sehingga membuat Sintia selalu grogi saat Ilham menatapnya.


"jangan menatapku seperti itu mas karena tatapan mu selalu membuatku gugup". ucap Sintia


"mas hanya ingin memandangi wajah indah istri mas ini yang akan selalu terlihat manis, cantik dan indah saat di pandang dari sudut manapun, sungguh rasanya mas ingin mengurung mu dalam rumah terus dan selalu membawa mu kemanapun mas pergi sayang" ucap Ilham


"gombal". ucap Sintia


"hmmm ternyata selain pipi yang merah saat di goda ternyata dagumu juga ikut memerah bahkan dari bawah sini mas dapat melihat dengan jelas kamu selalu menelan salivamu karena saling". goda Ilham dan Sintia langsung menutup kedua mata suaminya itu dengan kedua telapak tangannya


"ck buka sayang aku ingin melihat mu". ucap Ilham sambil berusaha melepaskan tangan Sintia


"tidak mau karena tatapmu selalu membuat ku grogi apalagi saat kamu menatapku dengan senyuman juga". jawab Sintia


"Ck lepas sayang mas ingin melihat mu". perintah Ilham tapi Sintia tidak mau melepaskan

__ADS_1


"hahahaha". tawa Sintia saat Ilham mengelitik pinggangnya sehingga membuat Sintia melepaskan tangannya


"udah mas geli stop hahahaha". tetapi Ilham tidak mau menghentikan tangannya dan Ilham langsung duduk


"ini hukumanmu karena tidak mau menuruti perintah mas untuk melepaskan tangan mu". ucap Ilham yang terus mengelitik Sintia


"hahahaha u u Udah mas stop geli". ucap Sintia dan berusaha melepaskan tangan suaminya


"u udah mas stop aku pengen pipis". ucap Sintia lagi


"tidak akan berhenti pasti kamu mau lari dari mas". ucap Ilham


"hahahaha udah mas stop aku pengen pipi benarannnnn". ucap Sintia yang pada akhirnya tidak dapat menahannya dan berakhir Sintia yang mengompol


"hiks hiks tu kan mas jadinya pipis di sini huwaaa". tangis Sintia pecah setelah mengompol


"eh maaf maaf sayang". ucap Ilham saat melihat Sintia menangis


"hiks hiks mas Ilham jahat hiks gara gara mas Ilham aku pipis di sini kan". ucap Sintia di dalam pelukan Ilham dan memukul dan mencubit suaminya itu


"cup cup cup sayang udah jangan nangis ya nanti mas yang membersihkan". bisik Ilham yang masih berusaha menenangkan istrinya


"udah udah ya sayang jangan nangis kamukan tidak sengaja pipi di celana karena mas yang tidak mendengarkan kamu tadi". ucap Ilham dan menarik kepala Sintia lalu menghapus air matanya


"sarung kena pipisnya aku". ucap Sintia yang melihat sarung suaminya yang ikut basah


"tidak apa apa". jawab Ilham


srut


srut


srut


Sintia menarik ingusnya yang akan keluar akibat menagis dan Ilham yang melihat itu terkekeh karena menurutnya sangat lucu


"jangan tertawa". ucap Sintia dengan cemburut

__ADS_1


"iya maaf". ucap Ilham lalu mencium dahi, kedua pipi Sintia, hidung dan bibirnya yang sedikit lama


Sintia mulai tenang dengan pipi yang memerah karena malu, Ilham yang melihat itu langsung mengendong Sintia


"mas turunkan nanti baju mas terkena, aku bisa jalan sendiri". ucap Sintia


"sudah diamlah sekarang kita mandi". ucap Ilham


"berdua". tanya Sintia dan Ilham menanggukan kepalanya


"tidak mau, mas turunkan aku". berontak Sintia


Ilham menutup pintu kamar dengan kakinya lalu menunju kamar mandi, Ilham menurunkan Sintia lalu dia mengunci pintunya.


"kalau begitu mas yang mandi duluan saja, aku mau keluar dulu". ucap Sintia tapi Ilham menahan Sintia


"tidak usah malu". ucap Ilham dan membantu Sintia melepas pakaian lalu meletakan di keranjang baju. setelah itu Ilham melepaskan pakaiannya sendiri hingga akhirnya mereka berdua mandi bersama.


setelah mandi Sintia langsung memakai kimono dan meninggalkan Ilham di kamar mandi karena dia sangat malu bahkan. Sintia yang sudah memakai baju menatap kamar mandi karena suaminya belum keluar juga. Sintia menatap suaminya yang keluar membawa ember lalu Sintia mendekat.


"mas mencuci bajunya". tanya Sintia saat melihat ke dalam ember


"iya". jawab Ilham


"mas itukan tugasku". ucap Sintia


"siapa bilang mencuci juga tugas suami". ucap Ilham


"bawa sini biar aku jamur sebaiknya mas pakai baju". ucap Sintia dan langsung mengambil ember dari tangan suaminya lalu keluar dari kamar


Ilham mengelengkan kepalanya saat melihat tingkah istrinya itu lalu mengambil pakaian yang ada di atas ranjang


"aish mas Ilham ini, inikan tugasku kenapa malah dia yang nyuci". cerocos Sintia saat menjemur bajunya


saat memasuki rumah dan berada di ruang tamu Sintia melihat lantainya sudah bersih dan wangi, Sintia terkejut saat ada tangan yang melingkar di perutnya.


"sekarang ayo istirahat siang". ajak Ilham

__ADS_1


"hmmm". guman Sintia


Ilham merangkul pinggang Sintia dan membawanya ke kamar untuk istirahat.


__ADS_2