Cahaya Dalam Kegelapan ( Sebuah Ketulusan)

Cahaya Dalam Kegelapan ( Sebuah Ketulusan)
Bertengkar


__ADS_3

Sintia yang sedang membereskan kamarnya sayup-sayup terdengar suara anak anak dari arah ruang tamu dan Sintia juga mendengar suara seseorang sedang mengobrol. Sintia menghentikan beres beresnya dan keluar dari kamar. Sintia melihat anak laki laki dan perempuan sedang berlarian di ruang tamu.


Sintia juga melihat ibu mertuanya sedang berbicara dengan seorang wanita, Sintia hanya bisa melihat punggung wanita itu.


"hamil lagi". tanyanya


"iya Bu". jawab wanita itu


"sudah berapa bulan, padahal sudah ada dua tapi masih mau hamil lagi"


"jalan empat bulan, mau gimana lagi Bu, Gus Maulana tidak ini aku memakai alat penunda kehamilan dia Maunya kb alami, sebenarnya aku juga tidak ingin hamil lagi mengingat anak anak masih kecil tapi bagaimana lagi di berikan kepercayaan jadi di syukuri saja". jawab Ning Aida


deg


Sintia diam saat tau tamu itu adalah Ning Aida, sesosok menantu yang di inginkan ibu mertuanya untuk mengantikan mba Kania


"andai kamu yang yang menikah dengan Ilham pasti sudah punya anak lagi sampai tiga seperti ini". ucap ibu Ilham sambil mengusap perut Ning Aida


"memang sampai sekarang ustadz Ilham hanya punya Ari saja". tanya Ning Aida


"iya, istrinya sampai saat ini tidak bisa hamil, ibu rasa di mandul dan kenapa Ilham juga masih mempertahankan wanita yang tidak bisa hamil padahal ibu sudah memintanya untuk menikah lagi tetapi Ilham tidak mau".


"ibu pasti ingin cucu lagi ya". tanya Ning Aida


"iya ibu ingin cucu perempuan, padahal ibu tidak meminta Ilham untuk menceraikan Sintia, jika memang Sintia tidak bisa hamil diakan bisa memiliki anak dari perempuan lain".


"pokoknya bagiamanapun caranya ibu harus bisa membuat Ilham menikah lagi".


tes


tes


tes


tes


Sintia yang mendengar itu langsung meneteskan air matanya, kenapa jika dalam sebuah pernikahan jika tidak segera memiliki anak yang selalu di sudutkan adalah perempuan.


pyaar


Ning Aida dan ibu mertuanya menoleh ke belakang saat mendengar benda pecah, mereka terkejut saat melihat Sintia yang sudah berlinang air matanya. Marwah yang melihat itu ada rasa simpatiknya sama sekali.

__ADS_1


"Bu kalau begitu saya pulang dulu". pamit Ning Aida dan membawa anak anak pulang


dengan langkah gontai Sintia mengahampiri ibu mertuanya


"apa di mata ibu seorang wanita yang tidak segera hamil itu rendah". tanya Sintia


"kenapa ibu tidak begitu menyukai ku padahal dulu ibu pernah melamar ku untuk mas Ilham". sambung Sintia


"itu dulu sebelum kamu menjadi ****** dan perempuan murahan". jawab Marwah dan Sintia terkekeh


"padahal ibu tau dengan jelas apa penyebab aku terjerumus dalam lingkaran itu yaitu mba Kania tapi ibu bisa memaafkannya lalu menerimanya menjadi menantu bahkan ibu menutup kesalahan mba Kania sampai mas Ilham baru tua saat sudah menikah dengan ku". ucap Sintia


"Kenapa ibu bisa menerima mba Kania tapi tidak dengan ku Bu, aku juga tidak menginginkan berada di kehidupan itu". sambung Sintia


"dan orang yang paling bersalah dalam kehidupan ku adalah mba Kania Bu".


"tutup mulutmu jangan kamu salahkan Kania , seorang perempuan murahan seperti mu tidak pantas untuk menghina Kania yang suci". ucap Marwah sambil menuding jari telunjuknya


"ibu bilang suci jika mba Kania suci dia tidak akan melakukan sebuah tindakan sampai menghancurkan masa depan seseorang, atau jangan-jangan ibu juga terlibat dalam rencana mba Kania". ucap Sintia yang sudah tidak bisa menahan emosi,


selamanya ini Sintia hanya diam saja saat ibu mertuanya menghina dirinya ataupun bersikap dingin pada tapi entah kenapa hari ini dai begitu sensitif.


plak


"jaga ucapanmu walaupun berpakaian tertutup tidak akan membuat mu menjadi berlian, dan ingat satu hal yakin bisa membuat Ilham menceraikan mu dan setelah di ceraikan Ilham saya yakin tidak akan ada pria yang mau dengan mu, bersyukurlah putraku mau menikah dengan mu". ucap Marwah


"dan aku pastikan Ilham akan menikah dengan perempuan lain yang bisa memberikan dia keturunan". sambung


"perempuan kotor dan mandul seperti mu tidak cocok bersanding dengan putraku".


"CUKUP BU". bentak Sintia yang suaranya menggema di ruangan tamu itu dan Marwah cukup terkejut saat Sintia meninggikan suara


brugh


Sintia tersungkur ke lantai karena kaki ibu mertuanya yang sengaja menghalangi jalan Sintia yang akan meninggalkan dirinya. Marwah meninggalkan menantunya begitu saja setelah membuat Sintia terjatuh. Sintia meringis memegangi perutnya yang terasa keram


"ishhh". Sintia memegangi perutnya


"Kenapa sakit sekali perut ku". ucap Sintia


"Bu". panggil Sintia yang wajahnya sudah di basahi dengan keringat sedangkan Marwah terus saja berjalan memasuki kamarnya.

__ADS_1


Sintia yang memegangi perutnya merasakan sesuatu dibawah sana dengan menahan rasa sakit di perut Sintia menarik gamis, mata Sintia membulat saat melihat sudah banyak darah.


"darah ishhh"


"Bu tolong". ucap Sintia tersebut terdengar parau dan wajahnya sudah memucat


"mas Ilham...". ucap Sintia lalu pingsan karena sudah tidak kuat menahan rasa sakitnya.


pyar


di kantor Ilham memecahkan gelas yang dia pegang dan perasaan tiba tiba menjadi tidak enak.


"pak saatnya meeting". ucap Jo seketaris Ilham


"pak". panggil Jo


"iya, ayo ke ruang meeting". ucap Ilham dan membawa beberapa gambar pakaian muslim yang akan di launching bulan ini


"Jo kamu handle meeting seperti biasanya". ucap Ilham menyerah berkas itu


Ilham langsung berlari menuju lift dan saat sampai di parkiran langsung masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil itu dengan kecepatan penuh bahkan Ilham menerobos lampu lalu lintas, beberapa kali Ilham membanting stir


ciiittttttt


suara ban mobil bergesekan dengan aspal dan membuat mobil itu berhenti mendadak, Ilham bernafas lega karena tidak menabrak penjual siomay yang tiba tiba melintas.


"maaf pak". ucap Ilham turun dari mobil membantu penjualan siomay yang duduk di aspal karena terkejut


"tidak apa apa mas". ucap penjual siomay itu dan Ilham membantu penjualan siomay itu mendorong gerobak menuju pinggir jalan.


"saya permisi pak". ucap Ilham dan mendapatkan anggukan


setelah itu Ilham melajukan mobilnya saat sampai di rumah Ilham langsung masuk ke dalam rumah pemandangan pertama yang Ilham lihat adalah Sintia yang terbaring di lantai dengan darah. Ilham langsung menghampiri istrinya


"sayang bangun". ucap Ilham menepuk nepuk pipi Sintia


"ibu". teriak Ilham


"ibu"


Marwah yang mendengar teriakkan putranya langsung Keluar kamar, Marwah langsung menutup mulutnya saat melihat keadaan Sintia di tempat tadi dia terjatuh.

__ADS_1


"i Ilham sebaiknya bawa istrimu ke rumah sakit". ucap Marwah


Ilham langsung mengendong Sintia dan Marwah mengikuti putarnya. di dalam mobil Marwah memangku kepala Sintia dan tangannya bergetar saat terkena darah Sintia sehingga membuat Marwah diliputi rasa was was.


__ADS_2