Cahaya Dalam Kegelapan ( Sebuah Ketulusan)

Cahaya Dalam Kegelapan ( Sebuah Ketulusan)
Bonus Chapter 1


__ADS_3

kini Sintia di perbolehkan pulang, mereka semuanya sedang dalam perjalanan pulang. Sintia mengedong baby Ehsan sedang Ilham mengedong baby Eshal. sedangkan ayah yang menyetir dan Ibunya yang ada di kursi depan. selama dalam perjalanan kedua anak mereka sama sekali tidak rewel. setelah sampai sampai rumah umar dan marwag, mengambil alih cucu mereka. sedangkan Ilham membantu istrinya karena masih terasa nyeri untuk berjalan


"mas". ucap Sintia yang kaget dengan tindakan Ilham yang tiba tiba mengendongnya


"mas turunkan aku masih bisa berjalan, malu di lihat ayah sama ibu". ucap Sintia


"Sudah diam sayang". ucap Ilham dan membawa Sintia masuk ke dalam rumah


Sintia menenggelamkan kepalanya di dada bidang suaminya karena merasa malu dengan mertuanya sedangkan Umar terkekeh saat melihat betapa posesif putranya itu


"sejauh apa kalian terpisah tetap saja bersatu jika jodoh bahkan di anugerahi dua malaikat kecil yang sangat tampan dan cantik". ucap Umar dalam hati sambil menatap punggung putranya yang masuk kedalam kamar mereka


"Kakek aku ingin mengedong adik Eshal". ucap Ari


"ini Abang hati hati masih rentan". Umar menyerahkan Eshal pada Ari


Ari terseyum saat melihat betapa imutnya adik perempuannya itu


di dalam kamar Ilham menurunkan Sintia secara hati-hati ke ranjang.


"hmmm kenapa masih merah saja ini pipinya". goda Ilham dan Sintia memukul lengan suaminya


"padahal sudah hampir sembilan tahun pernikahan kita tapi ini pipi masih bisa memerah". Ilham semakin gencar menggoda istrinya


"siapapun pasti akan seperti ini jika punya suami seperti mas yang selalu membuat istrinya bahagia". jawab Sintia


"mas punya sesuatu untukmu tapi tutup mata". ucap Ilham


"tutup mata". ucap Sintia dan Ilham menanggukan kepalanya


Sintia menutup matanya dan Ilham mengambil sesuatu di dalam laci lalu memasangkan pada leher istrinya serta pergelangan tangannya.


"buka matamu sekarang sayang". bisik Ilham dan Sintia membuka matanya


Sintia memegang kalung serta gelang yang barusan di pasang oleh suaminya


"mas ini". ucap Sintia sambil menatap suaminya


"sebagai bentuk ucapan terima kasih telah melahirkan Ehsan dan Eshal". jawab Ilham dan mencium kening istrinya


"sekarang sebaiknya kamu istirahat nanti malam ada pengajian untuk kelahiran si kembar". ucap Ilham

__ADS_1


"nak ini seperti Ehsan haus berikan ASI dulu". ucap Marwah dan mengahampiri Sintia lalu Sintia menerima Ehsan


"Eshal mana Bu". tanya Sintia


"Eshal sama Ari". jawab Marwah


"kalau begitu mama keluar dulu". ucap Marwah dan mendapatkan anggukan dari anaknya dan putranya.


setelah kepergian mertuanya, Sintia membrikan Asi pada Ehsan sedangkan Ilham berjalan ke pintu lalu menguncinya karena istrinya sedang mengusu.


"hhhmm anak bunda haus ya, pelan pelan Ehsan". ucap Sintia sambil mengusap pipi Ehsan


"sss"


"kenapa sayang". tanya Ilham saat melihat istrinya seperti kesakitan


"tidak apa apa mas hanya saja belum terbiasa memberikan Asi jadi rasa geli apalagi lidahnya sedikit kasar". jawab Sintia


Ilham bersyukur di usianya hampir empat puluh tahun masih diberikan kepercayaan untuk memiliki anak lagi bahkan sampai dua


"hmmm anak Abi pelan pelan minuman". ucap Ilham sambil mengusap dahi putranya.


setelah memastikan putranya tertidur Ilham mengambil Ehsan dari pangkuan istrinya dan memindahkan ke box bayi.


"tunggu ya sayang". jawab Ilham


saat Ilham membuka pintunya sudah ada Ari yang bersiap untuk mengetuk pintunya


"ini Abi adik Eshal mulai rewel". ucap Ari


Ilham mengambil Eshal dan setelah Ari pergi Ilham menutup pintunya kembali. Sintia juga memberikan Asi untuk putrinya itu. setelah kedua anaknya tertidur Ilham langsung menyuruh Sintia untuk beristirahat.


Ilham dan juga orang tuanya sedang menyiapkan untuk acara pengajian nanti malam sedang untuk makanan Ilham memilih untuk memesan dari luar.


"Ilham jangan lupa Abah dan Ummah di undang serta Ning Aida dan juga suami". ucap Umar


"iya yah Ilham sudah memberi tau Abah dan Ummah". jawab Ilham


malam hari sudah tiba dan orang orang yang di undang sudah datang lalu Abah memimpin acara pengajian itu


"cantik dan ganteng". ucap Ning Aida saat melihat bayi kembar yang tertidur di pangkuan Sintia dan Marwah

__ADS_1


"siapa namanya". tanya Ning Aida


"Ehsan dan Eshal". jawab Sintia


"nama bagus dan selamat ya untuk kelahiran si kembar". ucap Ning Aida


"terima kasih Ning". jawab Sintia


"ini siapa namanya Ning". tanya Sintia saat melihat bayi yang umurnya satu tahun lebih


"Muhammad Fatan Ibrahim, bisa di panggil Fatan". jawab Ning Aida


"adik Eshal Cantik umi nanti kalau sudah besar buat aku ya". ucap Muhammad Fajar anak pertama Ning Aida dan Gus Maulana yang usianya sudah tujuh tahun


"buat fajar". ucap Ning Aida


"iya fajar ingin seperti Abi dan Ummi yang selalu bersama". ucap fajar sambil menoel Noel pipi Eshal


mereka yang ada di sana tertawa saat mendengar jawaban dari fajar


"bolehkah Tante". tanya Fajar


"lihat nanti saat fajar dan Eshal sudah besar saja dan sudah mengerti". jawab Sintia


malam itu acara pengajian berjalan dengan lancar walaupun diiringi tangisan Eshal karena di ganggu oleh fajar bahkan saat akan pulang pun fajar sempat mengangu Eshal.


"fajar sudah Jangan di ganggu terus adiknya". ucap Ning Aida


"iya umi". jawab fajar


"ini Tante untuk Eshal". ucap fajar sambil menyerahkan sebuah tasbih pada Sintia dan Sintia menerima tasbih itu


"fajar yakin mau memberikan tasbih itu". tanya Ning Aida karena dia tau jika itu tasbih kesayangan anaknya , hanya di sentuh okeh Fatimah adiknya saja fajar akan menangis dan ini di berikan ke Eshal


"iya umi ayo pulang, dada adik Eshal Abang pulang dulu". ucap fajar


setelah Gus Maulana dan keluarganya pulang. mereka masuk ke kamarnya masing masing. karena kedua anaknya sudah tertidur Ilham dan Sintia juga tidur.


tengah malam Sintia tidak menemukan suaminya di samping dirinya tapi saat melihat ke arah sofa Sintia terseyum saat melihat Ilham menimang nimangnya Eshal karena memang Eshal yang sering rewel.


"mas kenapa tidak membangunkan aku". ucap Sintia

__ADS_1


"mas tidak ingin kamu kelelahan sayang lagian mas masih bisa menanganinya". jawab Ilham dan terseyum pada istrinya


Sintia melihat ke arah Ilham dan merasa senang dengan perhatian Ilham berikan selama ini ke padannya


__ADS_2