
Setelah beberapa lama menangis membuat Sintia lelah, Sintia berjalan gontai kearah ranjang dan membaringkan tubuhnya di sana, sebelum itu Sintia mengambil obat tidur dengan harapan mimpi itu tidak menghampirinya sehingga dia bisa beristirahat dengan tenang. setelah mengkonsumsi obat tidur secara perlahan Sintia tertidur, Zahra masuk ke dalam kamar Sintia lalu membersihkan barang barang yang berserakan di lantai setelah selesai Zahra menyelimuti Sintia.
"semoga setelah ini nona dapat menemukan kebahagiaan untuk membayar penderitaan nona selama tujuh tahun ini". ucap Zahra lalu beralih ke arah pintu yang menuju balkon dan menutupnya dan tidak lupa untuk menguncinya. setelah memastikan semua dalam keadaan aman Zahra keluar dari kamar Sintia.
keesokan harinya Sintia sudah siap untuk menemui dokter Vivi, Sintia menutupi luka dikenangnya dan tidak lupa mengunakan lip serum agar bibirnya tetap lembab lalu memakai masker agar tidak ada wartawan yang mengikutinya untuk menemui dokter Vivi.
"Zahra". panggil Sintia saat sudah berada di ruang tamu
"nona tidak ingin sarapan terlebih dahulu". tanya Zahra
"tidak usah Zahra nanti saja sarapannya jika sudah selesai konsultasi dengan dokter Vivi". jawab Sintia
Sintia dan Zahra turun kebawah, mereka lebih memilih untuk nak taxi untuk menghindari para wartawan yang ingin mencari berita. di dalam taxi Sintia melihat ke arah keluar jendela dan saat itu juga Sintia melihat Ari yang sedang duduk di bangku taman seorang diri lalu ustad Ilham mengahampiri Ari dan membawa kotak nasi. setelah satu jam perjalanan akhirnya mereka sampai di sebuah rumah yang sangat minimalis tetapi sangat indah pemandangan yang ada di rumah itu.
ting
tong
saat pintu terbuka dokter Vivi terseyum dan sudah tau siapa yang datang walaupun mengunakan masker, dokter Vivi memerintahkan mereka untuk masuk.
__ADS_1
"bagaimana keadaan mu Sintia sudah lama kita tidak bertemu". tanya dokter Vivi
"keadaan ku dikatakan baik juga tidak di katakan buruk juga tidak". jawab Sintia
"keadaan mu baik baik saja Sintia". ucap dokter Vivi sambil tersenyum
"tapi aku merasa tidak baik baik saja, aku ingin berkonsultasi dengan dokter". ucap Sintia
"apa masih masalah yang sama". tanya dokter Vivi
"bukan dokter, sudah hampir seminggu aku tidak bisa tidur dengan tenang". jawab Sintia
Sintia menceritakan pada dokter Vivi bahwa sudah hampir seminggu dia selalu bermimpi bertemu dengan seorang wanita yang memintanya untuk menjaga anaknya dan menikah dengan suaminya, kemudian dia juga bermimpi mengendong seorang bayi laki ada anak laki laki sekitar umur tujuh tahun menghampirinya dan memanggilnya bunda lalu anak itu membawa ke seorang pria yang menunggunya di sebuah perahu kemudian pria itu mengulurkan tangannya dan berkata "zawjati" dan wajah anak dan pria itu tidak bisa Sintia lihat dengan jelas, anehnya saat Sintia sudah naik ke perahu ada sebuah kabut kemudian dia terbangun. dokter Vivi mendengarkan cerita Sintia dengan intens.
setelah Sintia selesai bercerita dokter Vivi mengusap punggung tangan Sintia kemudian terseyum pada Sintia
"dok apa saya sudah gila ya sehingga bermimpi berulang ulang". tanya Sintia dengan polos
"Sintia kamu tidak setres atau gila, ada yang mengatakan jika kita bermimpi yang sama dan itu berulang ulang itu adalah sebuah petunjuk, mungkin itu adalah salah satu petunjuk untuk Sintia jika akan ada perubahan di hidup lebih baik". ucap dokter Vivi
__ADS_1
"tapi dalam mimpi itu Sintia mempunyai suami dan anak, tetapi pria mana yang mau menikah dengan ku dalam keadaan ku yang seperti ini bahkan aku menjadi pelacur pribadi seseorang selama tujuh tahun dan dengan relanya aku melemparkan tubuhnya ke ranjang". ucap Sintia dan Zahra yang mendengar itu hanya diam saja karena merasa iba
"Sintia semua orang punya masa lalu dan semua orang berhak bahagia jadi suatu hari nanti Sintia akan menemukan seorang pria yang akan menerima Sintia apa adanya tanpa mengungkit masa lalu mu, jadi jangan terlalu terbebani dengan mimpi yang kamu alami". ucap dokter Vivi dengan pelan agar masuk ke hati Sintia agar Sintia tidak berbuat nekat
"percayalah akan ada kebahagiaan untuk mu" dokter Vivi berusaha menyakinkan Sintia
Sintia sudah merasa lega setelah berkonsultasi dengan dokter Vivi, setelah berkonsultasi mereka berbincang sedikit dan dalam obrolan mereka dokter Vivi berusaha membuat Sintia nyaman. setelah merasa baik baik saja Sintia meninggalkan rumah dokter Vivi.
Zahra mengajak Sintia ke rumahnya dan Sintia menyetujuinya, taxi yang mereka tumpangi masuk ke sebuah desa yang sangat asri dan Sintia merasa tenang saat membuka kaca taxi dan angin menerpa wajahnya.
"desa tempat tinggal mu begitu nyaman Zahra". ucap Sintia
"namanya di desa nona masih banyak pohon sehingga membuat udara sejuk dan nyaman, jika nona suka tempat ini kita bisa tinggal beberapa hari di rumah saya". ucap Zahra
"apa boleh nanti merepotkan orang tuamu". tanya Sintia
"tentu saja boleh dan mereka akan senang". jawab Zahra
taxi itu berhenti di sebuah rumah yang sederhana, Zahra terseyum saat melihat orang tuanya sudah menunggu di depan rumah karena tadi Zahra mengirimkan pesan bawah dia akan pulang bersama nona Sintia.
__ADS_1
orang tua Zahra menyambut Sintia dengan baik sehingga membuat Sintia merasakan kasih sayang orang tua yang sudah lama tidak dia dapatkan semenjak orang tuanya meninggal.