
setelah selesai makan malam semua kembali ke dalam kamar masing masing dan tinggallah Ilham dan Sintia di meja makan itu dengan keheningan.
"ya ampun ini sudah malam pasti Zahra mencariku Karena aku tidak ada di apartemen". monolog Sintia dalam hati
"hmm boleh aku pinjam ponselnya, aku ingin mengabari teman ku, aku yakin dia khawatir karena tidak pulang". ucap Sintia dan Ilham menyerahkan ponselnya lalu meninggalkan Sintia sendirian karena Ilham berpikir bahwa Sintia membutuhkan privasi
Sintia mengetikan nomor ponselnya Zahra dan tersambung, Zahra mengetukkan jarinya di meja karena teleponnya tidak di angka, Sintia mencoba menghubungi lagi
"hallo Zahra akhirnya kamu mengangkat teleponnya". ucap Sintia dengan senang
"nona Sintia ini benaran nonakan". tanya Zahra di seberang telepon
"iya ini aku". jawab Sintia
"nona ada dimana sekarang, nona baik baik sajakan". Sintia dapat mendengar nada cemas dari Zahra
"Zahra tanyanya satu satu, aku baik baik saja dan malam ini aku tidak pulang". ucap Sintia
"kenapa tidak pulang, nona tidur dimana dan kenapa ponsel nona juga tidak aktif". tanya zahra
"mobil dan barang barang ku hilang, tadi aku meninggalkan mobilku di pinggir jalan dan lupa mencabut kuncinya". jawab Sintia
"sudah dulu ya Zahra, besok aku jelaskan kronologi". ucap sintia
"iya nona". jawab Zahra
__ADS_1
setelah menelpon Zahra Sintia keluar dari dapur dan saat melewati ruang tamu Sintia melihat om Wijaya.
"om". panggil Sintia
"iya nak". jawab Wijaya
"hmm om Sintia boleh tanya". ucap Sintia dan Wijaya menganggukan kepalanya
"hmm apa mba Kania pergi dari rumah soalnya sejak tadi aku tidak melihat istri pertama mas Ilham, aku yakin mba Kania pasti sakit mendengar suaminya menikah lagi dan pergi dari rumah, tadi aku fikir mba Kania tidak mau keluar kamar untuk makan tapi saat mas Ilham pergi dari dapur tidak membawa makanan untuk mba Kania jadi Sintia yakin jika mba Kania pergi". ucap Sintia sedangkan Wijaya ingin mengatakan yang sebenarnya tetapi ini bukan haknya biar putranya saja yang menjelaskan
"apa boleh Sintia minta alamat rumah orang tua mba Kania om karena Sintia ingin menjelaskan pada mba Kania jika Sintia tidak akan mengambil suaminya". sambung Sintia
"sudah jangan kamu pikirkan soal Kania , mungkin ini adalah takdir mu dan Ilham terikat dalam sebuah pernikahan, jika jodoh maka kamu pergi sejauh apapun akan tetap kembali". ucap Wijaya
"sudah sebaiknya kamu tidur ini sudah malam". ucap Wijaya dan meninggalkan Sintia
Sintia menatap ponsel Ilham dan bergantian menatap kamar Ilham.
"aku kembalikan besok sajalah". monolog Sintia lalu berjalan memasuki kamarnya.
saat membuka pintu Sintia terkejut melihat Ilham yang sudah terbaring di tengah ranjang.
"taruh saja ponselnya di meja". ucap Ilham dengan mata terpejam
"mas Ilham tidur di sini". tanya Sintia
__ADS_1
"hmm". guman Ilham
"kenapa tidur di sini, bagaimana perasaan mba Kania jika mas tidur di sini, sebaiknya mas Ilham kembali ke kamar mas saja". ucap Sintia
"kamu istriku wajar aku tidur di sini". jawab Ilham lalu menarik selimut
dengan berat hati Sintia naik ke atas ranjang dan tidur paling pinggir, Sintia tidak habis pikir kenapa Ilham begitu mudah mengatakan dia istrinya apa semua laki laki akan senang jika menikah lagi, apa mereka tidak memikirkan perasaan istrinya. Sintia menoleh ke samping dan melihat Ilham yang tidur begitu tenang dan damai. Sintia yang mulai mengantuk memejamkan matanya. Ilham membuka matanya saat mendengar dengkuran halus Sintia, Ilham bangun dan menyelimuti Sintia.
"aku tidak tau apa ini Takdir kita atau bagiamana, dulu aku mengkhitbah mu tetapi takdir memisahkan kita dan sekarang takdir membawa kita dalam sebuah ikatan pernikahan". monolog Ilham dan menatap dalam ke arah Sintia
"maafkan mas Kania karena mas menikah lagi, mas harap kamu merestui pernikahan kami karena mas tidak ingin mempermainkan pernikahan, kamu tetap akan ada di hati mas bagaimanapun kamu menemani mas selama dua tahun dan menjalankan peran sebagai istri yang baik hingga takdir memisahkan kita dengan kematian". sambung Ilham
sebelum kembali tidur Ilham mendo'akan Kania agar mendapatkan tempat yang terbaik, ini sudah menjadi rutinitas Ilham setelah selesai sholat dan sebelum tidur untuk mendo'akan mendiang istrinya. Ilham tidur menghadap ke arah Sintia
pukul empat pagi Sintia terbangun dan saat melihat Ilham yang masih tertidur, Sintia secara perlahan turun dari ranjang dan keluar dari kamar. dan diam diam Sintia keluar dari rumah, Sintia bernafas lega saat sudah berada di depan rumah. Sintia berniat akan kembali ke apartemen dan setelah ini Sintia akan meminta bantuan Alex untuk mencari alamat Kania untuk membujuk Kania agar kembali ke rumah Ilham.
Zahra terkejut saat menghidupkan lampu ruangan tamu, Karena tadi Zahra mengira ada maling
"nona". panggil Zahra
"Zahra tolong bayaran taxi di bawah dan aku mau istirahat besok saja aku jelaskan". ucap Sintia lalu masuk ke dalam kamarnya.
"semoga saja Alex bisa membantuku mencari alamat rumah mba Kania tanya sama Om Wijaya tidak di kasih tau". ucap Sintia
Sintia yang masih mengantuk memilih untuk memejamkan matanya.
__ADS_1