
sebuah ruangan yang dihadiri oleh Abah, umah, Ning Aida dan juga orang tua Ilham setelah di beritahu apa yang terjadi di pesantren itu orang tua Ilham langsung datang. dan betapa terkejutnya orang tua Ilham saat tau orang yang kepergok bersama putranya adalah Sintia gadis yang pernah Ilham khitbah tetapi sebuah kejadian yang menimpa gadis itu membuat orang tua Ilham menikahkan Ilham dengan Tania.
setelah perdebatan panjang kini ustadz Ilham dan Sintia akan di nikahkan, awalnya Sintia tetap kekeh lebih memilih untuk di hukum cambuk daripada menikah dengan ustadz Ilham dan membuat istri ustad Ilham bersedih tetap ustadz Ilham lebih memilih untuk menikahi Sintia. Sintia yang duduk di sampaikan umah meremas tangannya saat melihat ustadz Ilham duduk berhadapan dengan Abah untuk melakukan akad. saat ini Sintia mengunakan baju milik umah agar tertutup awalnya Abah meminta Aida meminjam bajunya tetapi Aida tidak mau.
"aku harus memikirkan cara agar pernikahan ini tidak terjadi, aku tidak ingin melihat air mata seorang Istri karena suaminya menikah lagi, dan apa kata orang saat aku menjadi istri kedua dan aku tidak ingin menambah kerumitan hidup ku lagi". monolog Sintia dalam hati
"dan mas Ilham kenapa memilih menikah dengan ku apa tidak memikirkan perasaan istrinya dan aku tidak mau perasaan istrinya hancur seperti aku dulu saat mendengar mu menyebutkan nama wanita lain yang seharusnya mending hari pernikahan kita". sambung Sintia dalam hati
Sintia sendri belum tau jika istrinya ustadz Ilham sudah meninggal, awalnya Sintia mengira wanita yang menatapnya tajam adalah istrinya Ilham tetapi saat tau namanya ternyata bukan dan Sintia masih ingat nama yang di ucapkan Ilham tujuh tahun lalu.
"ayo Sintia berpikirlah". monolog Sintia dalam hati
di ruangan ini Sintia merasa tidak nyaman ketika ibunya Ilham menatap dengan tatapan tidak suka serta tatapan gadis yang bernama Aida itu
"apa tidak bisa di batalkan saja pernikahan ini, saya lebih baik di hukum cambuk saja". ucap Sintia
"keputusan sudah bulat nak dan pernikahan ini juga untuk kebaikanmu dan Ilham walaupun kalian tidak melakukan apapun tetapi seluruh santri tau bahwa ustadz melakukan zina". ucap Abah
"Abah jika dia lebih memilih hukuman cambuk jadi hukum saja daripada harus menikah dengan ustadz Ilham". ucap Aida
"Aida diam". ucap Abah
"Ilham Abah tanya sekali lagi kamu lebih memilih menikah dengan gadis itu atau hukuman cambuk". tanya Abah
"saya sudah yakin memilih untuk menikahi dia". Jawab ustadz Ilham karena di dalam hati kecilnya dia tidak tega jika harus melihat Sintia di hukum cambuk dan ada sedikit dorongan dari dalam hatinya untuk memilih menikahi Sintia
__ADS_1
ustadz Ilham menjabat tangan wali hakim karena Sintia tidak memiliki orang tua jadi menggunakan wali hakim.
"sudah siap untuk memulai akadnya". tanya wali hakim dan Ilham menganggukkan kepalanya sedangkan Sintia semakin meremas jarinya
Saya nikahan engkau ananda Ilham Prayoga bin Umar dengan Sintia Maharani binti Sanjaya dengan mas kawin uang dua juta rupiah di bayar tunai.
Saya terima nikahnya Sintia Maharani binti Sanjaya dengan mas Kawin uang dua kita rupiah di bayar tunai.
sah
Ilham mengucapkan akad dalam satu tarikan nafasnya, saat mengucapkan itu hati Ilham terasa bergetar dan ada rasa lega sedangkan Sintia menetes air matanya. Aida mengepalkan tangannya karena pupus sudah harapannya untuk menikah dengan Ilham yaitu pria yang dia kagumi selama tujuh ini.
mahar yang Ilham berikan hanya dua juta karena yang ada di dompetnya hanya dua juta saja.
"maafkan aku yang masuk dalam pernikahan kalian dan aku juga tidak menginginkan mba Kania". ucap Sintia dalam hati dan kini perasaan bersalah menghinggapi hati Sintia
umah menuntun Sintia untuk menghampiri Ilham dan umah menyuruh Sintia untuk mengalami tangan ustadz Ilham yang kemudian ustadz Ilham menaruh telapak tangannya di atas kepala Sintia dan membaca do'a, setelah itu ustadz Ilham mencium kening Sintia dan saat benda kenyal itu menyentuh dahinya Sintia merasakan sebuah desiran.
setelah itu mereka berdua bersalaman dengan kedua orang tua Ilham, Wijaya menyambut salam dari Sintia dengan sebuah senyuman sedangkan saat Sintia akan bersalam dengan Marwah tetapi Marwah mengabaikan tangan Sintia dan memalingkan wajahnya beda dengan suaminya, di dalam hati Marwah tidak ikhlas harus memiliki menantu yang pernah di jual di rumah bordil. Sintia menarik kembali tangannya dan Sintia paham akan penolakan ibunya Ilham karena kedua orang tua Ilham tau apa yang terjadi pada dirinya.
ustad Ilham membawa Sintia ke rumahnya, Sintia diam saja saat berada di depan sebuah rumah dan tidak mengikuti Ilham dan kedua orangtua Ilham.
"apa dia sudah gila membawa ku ke rumahnya apa dia tidak memikirkan perasaan istrinya". monolog Sintia
"nak ayo masuk". ajak Wijaya pada menantunya
__ADS_1
"hmm maaf sebaiknya saya kembali ke apartemen saja karena saya tidak ingin menyakiti istrinya mas Ilham dan sebaiknya kami bercerai saja, saya yakin Pernikahan ini akan menyakiti hati istrinya mas Ilham dan juga apa yang akan mas Ilham katakan pada anaknya jika dia menikah lagi". ucap Sintia dan Wijaya justru tersenyum
"ternyata Sintia belum tau jika Kania sudah meninggal, saya salut dengan mu nak yang masih memikirkan perasaan orang lain dan saya bisa lihat caramu saat lebih memilih di hukum cambuk dan di asingkan". monolog Wijaya dalam hati
"sudah tenang saja sebaiknya kamu masuk terlebih dahulu". ajak Wijaya dan Sintia mengelengkan kepalanya
"tidak apa apa pernikahan ini tidak akan menyakiti siapapun". ucap Wijaya
"Sintia kenapa masih di luar, ayo masuk". ajak Ilham yang keluar lagi saat tidak melihat Sintia
dengan lantai pelan serta meremas gamis yang dia pakai Sintia mengikuti Ilham dan ayahnya. saat masuk di ruang tamu tidak ada apapun.
"Tante cantik yang ada di mall itukan". ucap Ari saat melihat Sintia berada di belakang ayahnya dan Sintia hanya terseyum
"Tante cantik semakin cantik saat memakai gamis dan hijab seperti umi Ari". ucap Ari
"terima kasih". ucap Sintia
"kenapa hanya ada orang tua mas Ilham dan juga anaknya lalu dimana istrinya, ini pasti istrinya sedang marah". monolog Sintia dalam hati sambil mencari keberadaan istri Ilham
"ayo Sintia akan aku tunjukkan kamarmu". ucap Ilham dan Sintia mengikuti Ilham yang masuk ke salah satu kamar
Ilham bukan mengajak Sintia ke kamarnya tetapi ke kamar lain karena di kamarnya banyak foto dirinya bersama Kania serta barang barang Kania.
"Kita Cerai saja ya". ucap Sintia saat sudah berada di kamar tersebut
__ADS_1
deg