Cahaya Dalam Kegelapan ( Sebuah Ketulusan)

Cahaya Dalam Kegelapan ( Sebuah Ketulusan)
Pernikahan Gus Maulana dan Ning Aida


__ADS_3

"Saya nikahan engkau ananda Maulana Malik bin Rehan dengan Aida Humairah binti Rashid dengan mas kawin uang dua puluh juta rupiah dan emas sepuluh gram di bayar tunai"


"Saya terima nikahnya Aida Humairah binti Rashid dengan mas Kawin uang dua puluh juta rupiah dan emas sepuluh gram di bayar tunai".


sah


ucap para saksi


Gus Maulana mengucapkan akad dengan satu kali tarikan nafasnya dan Gus Maulana mengangkat tangannya untuk berdo'a


hari ini adalah hari pernikahan Gus Maulana dan Ning Aida yang di saksikan oleh para santri dan akad di laksanakan di rumah Abah Rashid. Aida yang ada di kamarnya meneteskan air matanya saat Gus Maulana berhasil mengucap akad. ummah melati memeluk menantunya dan menghapus air mata Aida yang terus berjatuhan


"sudah jangan menangis nanti make up-nya luntur , Aida pasti terharu sampai air matanya tidak mau berhenti". ucap Ummah Melati


padahal Ning Aida menangis karena dia tidak bisa menjadi istri dari ustadz Ilham pria yang di cintai, sudah dua minggu ini Ning Aida melakukan berbagai macam cara agar Gus Maulana membatalkan pernikahan mereka tetapi semua itu sia sia saja. jika sudah menjadi istri Gus Maulana maka dirinya tidak bisa bertemu dengan ustadz Ilham karena Gus Maulana akan membawanya pulang ke pesantren miliknya


tok


tok


tok


tok


"sudah jangan menagis itu pasti suamimu, lupakan orang yang tidak pantas kamu cintai dan berikan cinta mu pada suamimu yang sudah halal untuk mu". bisik ummah yang sejak tadi diam dan tau bahwa putrinya menangis bukan karena terharu tetapi tidak menginginkan pernikahan ini


ummah dan umma melati keluar dari kamar Aida dan mempersilahkan Gus Maulana untuk masuk ke kamar Aida.


"assalamualaikum". ucap Gus Maulana yang sudah masuk ke kamar Aida sedangkan Aida menundukkan kepalanya


"waalaikumussalam". jawab Aida


Gus Maulana berjalan mendekati Ning Aida dan meletakan tangannya di atas kepalanya Aida dan berdoa lalu Aida menengadah kedua tangannya


"Allahumma baarikli fi ahli wa baarik li-ahli fiyya warzuqhum minni warzuqniy minhum.”

__ADS_1


Yang artinya: “Ya Allah ya Tuhan, berkahilah aku dalam permasalahan keluargaku. Berkahilah keluargaku dalam permasalahanku, berilah keluargaku (istri dan keturunan) rezeki dariku, dan berilah aku rezeki dari mereka."


setelah selesai membaca dua itu Gus Maulana meniup ubun ubun Aida lalu mencium kening Aida sangat lama


"assalamualaikum Aida Humairah istriku dan ibu dari anak anak ku". bisik Gus Maulana


Gus Maulana mengusap air mata Aida yang jatuh di pipi Aida


"akan aku tunjukkan bahwa di Cintia itu lebih indah daripada mencintainya, mungkin saat ini yang ada di hatimu adalah dia tapi aku akan menggantikan dia di hatimu dalam waktu satu bulan". ucap Gus Maulana


"ayo keluar semua orang sudah menunggu di depan". ucap Gus Maulana


sebelum mengajak istrinya Keluar Gus Maulana mengeluarkan kain yang ada di sakunya lalu di pasangkan di wajah Aida


"aku tidak ingin kecantikan istriku di pandang orang lain , cantiknya kamu hanya untuk ku". ucap Gus Maulana


"tapi aku tidak pernah menggunakan cadar". ucap Aida


"hanya untuk hari ini saja karena wajahmu di rias begitu cantik dan sempurna". ucap gudang Maulana


"Abah tidak salah memilih suami untuk mu Aida karena suamimu bisa membimbing mu". ucap Abah Rashid


sepasang pengantin itu saling tukar cincin lalu menandatangani berkas tersebut. Aida meremas gaun saat melihat ustadz Ilham yang duduk bersama istrinya yang terlihat seperti keluarga bahagia di tambah adanya Ari.


"suatu saat nanti kita akan seperti itu bersama anak anak kita". bisik Gus mualana yang tau istrinya melihat ke arah mana, Gus Maulana tersenyum saat Aida menatap dengan tajam


"atau nanti malam kita langsung membuatnya agar cepat seperti keluarga mereka". goda Gus Maulana sambil menarik turunkan alisnya


"aku sedang ada di zona merah". ucap Ning Aida menaiki turunkan Alisnya pada Gus Maulana


Gus Maulana yang gemas dengan Aida langsung mencubit pipi Aida yang tertutup cadar.


setelah dari pernikahan Ning Aida dan Gus Maulana, ustadz Ilham membawa istri dan anaknya pulang tetapi sebelum itu mereka mampir ke supermarket untuk berbelanja beberapa bahan makanan.


Sintia memilih beberapa bahan dan di masukkan ke dalam keranjang.

__ADS_1


"sekarang menggunakan pakaian tertutup ya".


deg


Sintia mematung saat mengenal suara tersebut


"jadi kamu lebih memilih menikah dengan ustadz itu daripada hidup enak bersama saya padahal saya sudah membuat mu menjadi terkenal". ucap Bagaskara yang ada di samping sini


"om Sintia sangat berterima kasih pada om karena apa yang om lakukan padaku tapi Sintia mohon biarkan Sintia hidup dengan suami Sintia". ucap Sintia


"apa suamimu bisa menerima mu yang tidak suci lagi bahkan tujuh tahun lamanya kamu melakukan hubungan terlarang bersama saya". ucap Bagaskara


"suami Sintia bisa menerima Sintia apa adanya". jawab Sintia


"benarkah apa dia sudah menyentuh mu". tanya Bagaskara dan Sintia terdiam, diamnya Sintia membuat Bagaskara tau bahwa suaminya belum menyentuh Sintia sama sekali


"mungkin dia berbicara bisa menerima mu dan masa lalu mu tapi kamu tidak tau apa yang ada di hatinya, jika memang dia bisa menerima mu pasti dia sudah menyentuh mu tidak mungkin seorang pria tidak akan menyentuh istrinya yang sudah satu bulan menjadi istrinya, aku rasa suamimu itu tidak menerima mu dengan sepenuh hatinya mungkin saja dia menikah dengan mu hanya kasihan saja kasihan karena tidak ada laki laki yang mau dengan wanita yang sudah rusak bahkan rela membuka kakinya pada pria yang bukan suaminya". ucap Bagaskara


Bagaskara terseyum dan menjauh dari Sintia saat melihat suaminya yang mendekat bersama anak laki laki


"dengan cara ini aku yakin kamu akan meminta cerai pada suamimu dan dengan begitu kamu akan kembali pada ku Sintia". ucap Bagaskara sambil terseyum sinis


"sudah selesai belanjanya". tanya Ilham


"sudah" jawab Sintia


Ilham membayar belanjan mereka, di dalam perjalanan pulang Sintia hanya diam saja dan tidak merespon ucapan llham sehingga membuat Ilham bingung karena sejak tadi dia memperhatikan Sintia yang hanya diam saja. sesampainya di rumah Sintia juga masih diam saja


"ada apa dengannya, apa yang dia pikirkan sehingga tidak merespon ucapan ku". monolog Ilham dan meletakan belanja mereka di dapur.


"Ari masuk kamar dan belajar ya". ucap Ilham pada putranya yang sedang sedih karena Sintia juga tidak merespon Ari.


"Abi, apa bunda marah sama Ari sejak tadi bunda hanya diam saja ketika Ari mengajaknya bicara". ucap Ari yang matanya sudah berkaca-kaca


"tidak, bunda sedang lelah saja , Ari jangan sedih sebaik Ari masuk kamar ya". ucap Ilham dan Ari menanggukan kepalanya

__ADS_1


Ilham memasuki kamarnya tetapi tidak menemukan istrinya tetapi saat mendengar suara air dari kamar mandi, Ilham duduk di bibir ranjang dan menunggu istrinya untuk mengajak bicara.


__ADS_2