Cahaya Dalam Kegelapan ( Sebuah Ketulusan)

Cahaya Dalam Kegelapan ( Sebuah Ketulusan)
Perusahaan Al-Janah


__ADS_3

Ilham menggandeng tangan Sintia dan mereka melangkahkan kakinya masuk ke dalam kantor, semua mata tertuju ke arah mereka berdua. banyak pegawai yang menatap ke arah atasan mereka Karena ini pertama kalinya mereka melihat atasannya membawa sang istrinya. ya semua pegawai Al-janah sudah mengetahui bahwa misteri I sudah menikah. ya selama menikah dengan Kania memang Ilham jarang ke kantor dan saat akan kekantor Kania tidak mau ikut ke kantor dan memang saat pernikahan mereka yang sangat harmonis ketika Kania mengandung Ari sehingga membuat Kania mudah lelah


"tumben pak bos membawa istrinya". ucap resepsionis pada temannya


"iya, tapi sayangnya kita tidak bisa melihat wajah karena pakai cadar". jawab temannya


"jangankan istrinya wajahnya pak bos saja kita tidak pernah tau karena pak bos sangat menjaga privasinya". ucap resepsionis pada temannya


"ya sudahlah yang penting kita dapat gaji kerja di sini".


"iya benar"


setelah sampai di dalam ruangan Ilham membawa istrinya duduk di sofa sedangkan Ilham masuk ke dalam sebuah ruangan untuk mengganti bajunya


"kamu tunggu di sini mas mau meeting dulu". ucap Ilham


"iya mas". jawab Sintia


"Santi". panggil Ilham


"iya pak". jawab Santi yang kebetulan masuk ke ruangan Ilham untuk memberikan berkas berkas


"nanti jika istri saya membutuhkan sesuatu tolong di bantu". ucap Ilham


"iya pak". jawab Santi


"nanti jika membutuhkan sesuatu katakan pada Santi ya atau kamu lelah bisa istirahat di ruangan itu". ucap Ilham dan menuju sebuah pintu


"iya mas". jawab Sintia


setelah mengambil berkas yang di berikan Santi, Ilham langsung bergegas menunju ruang meeting


"ibu membutuhkan sesuatu". tanya Santi


"tidak Santi". jawab Sintia sambil tersenyum di balik cadarnya

__ADS_1


"baiklah bu jika ibu membutuhkan sesuatu ibu bisa memanggil saya atau menelpon saya ". ucap Santi


"iya Santi dan terima kasih". jawab Sintia


"kalau begitu saya permisi mau kembali ke ruangan saya". pamit Santi dengan hormat


"iya". jawab Sintia


Sintia memperhatikan Santi yang berjalan keluar dari ruangannya, tadi saat Sintia melihat Santi yang masuk ke ruangan suaminya langsung tertuju pada perut Santi dan Sintia sudah bisa menembak bahwa Santi sedang mengandung makanya dia tidak ingin merepotkan Santi.


"apa aku juga bisa seperti itu". monolog Sintia sambil memegang perutnya tetapi tiba tiba wajahnya berubah sendu saat mengingat perkataan dokter waktu dia di London memasang alat pencegah kehamilan


"apa masih ada harapan aku bisa hamil sedangkan selama tujuh tahun ini aku memakai alat pencegah kehamilan dan itupun dalam kondisi aku belum memiliki anak". sambung Sintia


"ya Allah bisakah aku meminta satu kebahagiaan lagi, aku juga ingin merasakan hamil dan melahirkan seperti wanita lain". ucap Sintia sambil memegang perutnya


setelah bergelut dengan pikirannya Sintia memilih untuk melihat lihat ruangan suaminya itu, Sintia berjalan mendekat jendela kaca dan Sintia Melihat pemandangan kota dari jendela itu


"masih tidak percaya jika mas Ilham pemilik perusahaan ini, aku fikir dia hanya seorang ustadz saja". ucap Sintia


"hallo zahra". ucap Sintia


"ya ampun nona akhirnya aku bisa bicara dengan nona sekarang". ucap Zahra dengan senang


"bagaimana kabar mu Zahra dan maaf jika waktu itu kami di usir sama om Bagaskara, aku juga lupa memberitahu jika itu apartment miliknya". ucap Sintia


"kabar ku baik tidak apa apa nona memang waktu itu saat tuan Bagaskara mau mengusirku aku sudah siap siap kembali ke rumah orang tuaku". jawab Zahra


"salam buat kedua orang tuamu Zahra".


"iya nona, nona sekarang aku bekerja sebagai dokter". beritahu Zahra


"benarkah, dimana". tanya Sintia dengan senang karena Zahra bisa bekerja sesudah jurusan dia kuliah


"di tempat aku tinggal ternyata saat aku pulang rumah sakit itu baru di bangun dan aku langsung melamar di sana". ucap Zahra

__ADS_1


"selamat Zahra". Sintia membrikan ucapaan selamat


"makasih nona tapi aku merasa tidak suka dengan pemilik rumah sakit ini, dia begitu dingin dan sadis dan apa nona tau pemilik rumah sakit ini pernah membuat ku tidak pulang beberapa hari dengan alasan masih banyak pasien padahal kerja ku hanya pagi sampai jam delapan malam dan nona tau pemilik rumah sakit ini mengizinkan dokter yang lain pulang dan berangkat sesuai jadwal mereka kecuali jika ada panggilan darurat". beritahu Zahra


"kenapa bisa seperti itu tapi ya tetap jalani apa yang sudah kamu lakukan". beritahu Sintia


"iya sih nona aku juga senang bisa membantu banyak orang hanya saja aku merasa pemilik rumah sakit ini itu seperti memiliki dendam padaku padahal aku tidak mengenalnya". ucap Zahra


"nona sudah dulu ya ada pasien yang harus aku periksa". sambung Zahra langsung mematikan sambungan teleponnya


Sintia melihat ke arah pintu saat mendengar suara pintu yang terbuka dan senyumnya mengembang saat melihat suaminya masuk.


"sudah selesai mas". tanya Sintia


"sudah sayang". jawab Ilham


"mas meeting pakai masker seperti itu". tanya Sintia dengan penasaran


"iya". jawab Ilham


"kenapa mas menyembunyikan identitas mas bahkan orang orang tidak tau sosok misteri I". tanya Sintia


"tidak perlu semua orang tau tentang kita dan tidak perlu apa yang kita lakukan di ketahui semua orang dan mas lebih suka seperti ini dan semua pegawai di sini tidak pernah tau seperti apa wajah mas yang penting mas bisa memberikan mereka yang membutuhkan perkejaan". jawab Ilham


"hmm mas perusahaan mas kan perusahaan terbesar nomor dua setelah perusahaan devil group yang pemimpinnya mendapatkan julukan rajanya bisnis, apa yang berkerja di sini semua orang berpendidikan tinggi". tanya Sintia


"tidak karena yang mas lihat adalah cara kerja mereka , attitude mereka dan kedisiplinan mereka , jadi sebelum benar-benar mereka menjadi karyawan resmi di sini mereka akan melakukan magang di sini selama tiga bulan jadi waktu tiga bulan itu mas gunakan untuk mengetahui kinerja mereka". jawab Ilham


Sintia terseyum mendengar jawaban yang di berikan suaminya karena biasan di sebuah perusahaan mereka mencari orang yang berpendidikan tinggi jika tidak seperti itu yang keterima pasti orang yang memiliki orang dalam


"ayo kita pulang sekalian jemput Ari". ajak Ilham


"ayo mas". jawab Sintia


Ilham mengandeng tangan Sintia sampai ke Parkiran mobil. Sintia merasa senang dengan perhatian yang Ilham berikan kepadanya. Sintia berdoa semoga mereka dalam keadaan bahagia dan bisa melewati setiap ujian rumah tangga.

__ADS_1


__ADS_2