
setelah kepergian Abah ustad Ilham memijat dahinya, kenapa ada gosip seperti ini. padahal selama ini ustadz Ilham bersama Ning Aida hanya saat mengajar saja dan itupun mereka menjaga jarak.
"bagaimana cara merendam berita itu". monolog ustadz Ilham
sedangkan di balik tembok Ning Aida tersenyum saat Abahnya meminta ustadz Ilham menikah dengannya jika dalam tiga hari ustadz Ilham tidak bisa meredam gosip itu.
"semoga saja ustadz Ilham tidak bisa meredam gosip tersebut dan entah siapa yang telah menyebar gosip ini, aku harus berterima kasih pada orang tersebut". monolog Ning Aida lalu meninggalkan rumah ustad Ilham
sedangkan di apartemen Sintia yang masih setia menutup matanya terganggu dengan sentuhan sentuhan yang ada di wajahnya. Sintia secara perlahan membuka matanya dan terkejut saat melihat om Bagaskara. Sintia menyangga dada om Bagaskara saat om Bagaskara akan menciumnya bahkan Sintia memalingkan wajahnya.
"ada apa". tanya Bagaskara dan Sintia bangun dari tidurnya
"kamu menolak om Sintia". tanya Bagaskara dan Sintia hanya diam saja
"jawab om". bentak Bagaskara dan mencengkram dagu Sintia sedangkan Sintia menahan sakit karena cengkraman Bagaskara sangat kencang
"om sakit lepaskan". ucap Sintia dan Bagaskara melepaskan cengkraman lalu Sintia menarik nafasnya
"om Sintia tau om sudah menyelamatkan Sintia dari madam Ela dan Sintia berterima kasih akan hal itu, Sintia rasa sudah cukup tujuh tahun ini Sintia membalas kebaikan om dengan menyerahkan tubuh , mulai sekarang Sintia hanya ingin hidup seperti yang lainnya om, tujuh tahun kita hidup dalam dosa melakukan hubungan yang seharusnya di lakukan oleh pasangan suami istri". ucap Sintia
"jadi Sintia mohon jangan menyentuh Sintia lagi". sambung Sintia sambil menatap Bagaskara dan Sintia dapat melihat kemarahan di mata Bagaskara
"jadi kamu sudah tidak mau di sentuh om". tanya Bagaskara dan Sintia menanggukan kepalanya
"Sintia ingat jika saat itu om tidak menolong mu kamu akan jadi pelacur di rumah bordil itu". ucap Bagaskara
"lalu apa bedanya sekarang om, bahkan Sintia menjadi pelacur pribadi om selama tujuh tahun ini". ucap Sintia dengan emosi dan turun dari ranjang
"apa bedanya om malam itu jika om tidak menolong ku maka aku akan jadi pelacur bukan lalu sekarang apa beda bahkan om menjadikan aku pelacur pribadi om". teriak Sintia
"laki laki mana yang sudah membuat mu tidak mau di sentuh oleh om ha". bentak Bagaskara sambal menjambak rambut Sintia
"tidak ada hanya Sintia ingin menjalankan hidup seperti tujuh tahun lalu". jawab Sintia sambil menahan sakit di rambutnya
Bagaskara naik pitam dan mencium Sintia dengan kasar dan Sintia berusaha melepaskan ciuman itu.
bugh
Sintia memukul kepala Bagaskara dengan vas bunga yang dia dapat dan Bagaskara menatap Sintia dengan tajam saat Sintia berani melawan dirinya. Sintia mundur saat Bagaskara maju.
plak
plak
__ADS_1
"sudah berani melawan ku ha". teriak Bagaskara sedangkan Sintia sudah menagis karena rasa sakit di tampar oleh Bagaskara
Bagaskara langsung menyeret Sintia menuju ke kamar mandi lalu memasukkan kepala Sintia ke dalam air
"ummmh". Sintia mulai kehabisan nafasnya
saat Bagaskara menarik kepalanya Sintia mengambil nafasnya sebanyak banyaknya
"masih yakin mau menolakku". ucap Bagaskara dan Sintia menanggukan kepalanya
anggukan kepala Sintia membuat Bagaskara emosi dan mengingat kembali penghianatan istrinya dan sekarang Sintia menolaknya sehingga membuat Bagaskara berpikir bahwa Sintia sama saja seperti istrinya.
"rasakan ini, aku pikir kamu berbeda dari istri ku yang sudah meninggal ternyata sama saja". ucap Bagaskara dan Sintia terengah-engah saat Bagaskara menarik kepalanya dari dalam air
"aku rasa sudah imbang dengan apa yang aku berikan selama tujuh tahun ini yaitu tubuhku om jika memang om ingin aku mengembalikan uang om maka aku akan mengembalikannya". ucap Sintia dengan lantang dan pasti membuat emosi Bagaskara semakin naik melihat penolakan yang Sintia tunjukkan
Bagaskara langsung menindih Sintia sehingga membuat Sintia takut.
"untuk menyentuh tubuh mu ini tidak perlu persetujuan darimu, aku sudah membelimu dari madam Ela jadi seumur hidup mu kamu harus melayani ku". bisik Bagaskara
"lepaskan aku". teriak Sintia
Bagaskara tidak menghiraukan penolakan Sintia dan Bagaskara tetap melanjutkan aksinya
bugh
"argh". teriak Sintia saat Bagaskara berhasil menarik rambutnya
dugh
dugh
dugh
"argh". ringis Sintia saat Bagaskara membenturkan kepalanya di tembok dan darah sudah mengalir dari dahi Sintia
dugh
dugh
Bagaskara melakukan tanpa ampun, penglihatan Sintia mulai kabur dan kepala mulai pusing, saat Bagaskara melepaskan dirinya, Sintia langsung terjatuh ke lantai.
"ini akibatnya sudah berani melawanku". ucap Bagaskara lalu meninggalkan kamar Sinta
__ADS_1
brak
pintu di tutup keras oleh Bagaskara, sedangkan di lantai Sintia sudah mengalirkan air matanya dan darah yang keluar dari dahinya membuat lantai kotor. Sintia terkekeh pelan lalu terseyum saat mengingat kehidupannya yang hancur selama tujuh tahun ini
"aku harap ini penderita terakhir yang aku alami, jika memang hari ini adalah hari terakhir ku di sini maka aku akan ikhlas". monolog Sintia sambil memegang kepalanya yang terasa berdenyut dan pandangan mulai berputar dan saat itu langsung menutup matanya.
Sintia membuka matanya padangan yang di lihat adalah sebuah taman yang penuh dengan bunga dan sangat harum serta sejuk, Sintia berjalan di taman itu dan melihat ke sekeliling.
"itukan wanita yang pernah ada di mimpiku". monolog Sintia lalu mengahampiri wanita itu
"hey kamu". teriak Sintia dan wanita itu melihat ke arah Sintia kemudian terseyum
"akhirnya aku bertemu dengan mu aku hanya ingin menanyakan kenapa waktu itu kamu menyuruh ku untuk menikah dengan suamimu". tanya Sintia pada wanita itu yang sedang mencoba menenangkan bayi yang di gedongnya
"cup cup sayang jangan menagis bunda sudah datang". ucap wanita itu lalu menyerahkan bayi itu dan Sintia mau tidak mau mengendong bayi itu dan bayi itu langsung terdiam kemudian tersenyum pada Sintia
"kenapa dia langsung diam". tanya Sintia tetapi tidak ada respon saat Sintia menolehkan kepalanya wanita itu sudah tidak ada
"kemana wanita itu" monolog Sintia
"kembalilah di sini bukan tempat mu Sintia dan akan ada kebahagiaan yang menantikanmu di depan sana Sintia dan lawanlah cobaan yang datang padamu". Sintia mendengar suara tetapi tidak ada orang di sekitarnya hanya ada dirinya dan bayi dalam gendongannya
"Bunda ayo kembali Abi menunggu bunda". ucap seseorang dan Sintia membalikkan badannya lalu Sintia melihat seorang anak laki laki mengulurkan tangannya tetapi wajahnya tidak begitu jelas
"ayo bundaran Abi sudah menunggu di sana". tunjuk anak laki lali itu dan Sintia Melihat seorang pria yang berdiri di atas perahu dan wajahnya juga tidak begitu jelas
Sintia masih terdiam tetapi anak laki laki itu menarik Sintia Sehingga membuat Sintia mengikuti langkah anak itu.
"Abi aku sudah bawa bunda dan adik, tadi bunda ada di sana". ucap anak laki laki itu lalu naik ke perahu
pria itu mengulurkan tangannya pada Sintia
"ayo zawjati kita kembali ke rumah kita". ucap pria itu dan Sintia seakan terhipnotis lalu mengulurkan tangannya
setelah dia berada di perahu itu tiba tiba ada kabut yang tebal membuat Sintia tidak dapat melihat.
"syukurlah nona sudah sadar". ucap Zahra dan Sintia melihat ke sekeliling ternyata dirinya berada di kamarnya
"kenapa aku ada di sini". monolog Sintia
"auwh". ringis Sintia saat memegang kepalanya
"hati hati nona". ucap Zahra sambil membantu Sintia untuk menyadarkan tubuhnya di kepala ranjang
__ADS_1
"nona membuat ku takut saat aku menemukan nona dengan keadaan kepala berdarah". ucap Zahra sedangkan Sintia masih berusaha mencerna semuanya
saat mengetahui bahwa dirinya masih hidup setelah bertengkar dengan om Bagaskara membuat Sintia lesu padahal Sintia berharap mati saat kepalanya di benturkan beberapa kali ke tembok.