Cahaya Dalam Kegelapan ( Sebuah Ketulusan)

Cahaya Dalam Kegelapan ( Sebuah Ketulusan)
Kedatangan Zahra


__ADS_3

saat mereka sampai di depan sekolahan Ari, Sintia langsung turun menghampiri Ari yang baru saja keluar dari kelasnya.


"assalamualaikum bunda". panggil Ari dan memeluk Sintia dan di balas oleh Sintia


"waalaikumussalam, bagaimana sekolahnya". tanya Sintia


"sekolah lancar bunda". jawab Ari


"ayo pulang Abi sudah menunggu di mobil". ajak Sintia


Ilham terseyum saat melihat Sintia yang tulus menyanyi Ari dan Ilham dapat melihat putranya yang sangat bahagia. Sintia mengandeng tangan Ari. Sintia membuka pintu belakang mobil.


"assalamualaikum Abi". ucap Ari


"waalaikumussalam anak Abi". jawab Ilham


Sintia kembali duduk di sampaikan Ilham, setelah memastikan Ari duduk dengan aman Ilham baru menjalankan mobilnya menuju ke rumah mereka.


"Abi Bunda". panggil Ari


"iya". jawab Ilham dan Sintia bersamaan


"besok di sekolah Ari ada acara main drama dan Ari juga ikut jadi Abi sama Bunda datangnya buat Lihat Ari main drama". ucap Ari


"iya Ari nanti Abi dan Bunda datang". jawab Ilham


"ye akhirnya Ari bisa seperti anak lain yang datang gak cuman Abi saja". ucap Ari dengan bahagia


mobil mereka memasuki halaman rumah mereka, Ilham dan Sintia melihat seseorang yang sedang duduk di teras mereka.


"mas siapa itu". tanya Sintia


"mas juga tidak tau dia menundukkan kepalanya jadi tidak terlihat". jawab Ilham

__ADS_1


setelah mobil berhenti Sintia turun dan menghampiri seorang perempuan yang sedang menundukkan kepalanya. Sintia memegang bahu perempuan itu sehingga membuat perempuan itu terkejut karena ketiduran.


"Zahra". ucap Sintia saat Zahra mengangkat wajahnya


"nona membuat ku terkejut". ucap Zahra sambil mengusap dadanya


"maaf, sudah lama ada di sini sampai ketiduran seperti itu". tanya Zahra


"ya sekitar tiga puluh menitan". jawab Zahra


"sebaiknya bawa temannya masuk". ucap Ilham


Sintia mengajak Zahra untuk masuk ke dalam rumahnya. Sintia juga menyediakan minuman dan makanan ringan.


"bagaimana kamu bisa ada di sini, apa sedang libur". tanya Sintia


"tidak, Sebenarnya besok aku ada seminar kedokteran jadi sebelum aku menginap di hotel aku putuskan untuk mampir ke sini,aku sangat rindu dengan nona". jawab Zahra


"aku juga rindu dengan mu Zahra dan aku senang kamu mendapatkan bekerja yang sesuai dengan jurusan yang kamu ambil". ucap Sintia


"nona ingin tanya apa". ucap Zahra


kenapa Zahra tetap memanggil Sintia dengan sebutan nona karena Zahra sudah nyaman dengan panggilan itu padahal Sintia sendiri sudah meminta Zahra untuk memanggil namanya.


"Zahra selama ini kamu tau jika aku memasang KB dan itupun aku lakukan saat aku belum memiliki anak, apa itu akan mempengaruhi rahimku dan apa aku masih bisa hamil". tanya Sintia


"setelah lepas KB maka membutuhkan waktu umumnya kurang lebih 6-12 bulan sejak berhenti menggunakan sampai akhirnya Anda bisa kembali mendapatkan siklus menstruasi yang normal dan bisa melakukan program hamil tetapi ada juga yang membutuhkan waktu sampai dua tahun untuk memulihkannya dan untuk hamil itu masih bisa tapi untuk memulihkannya yang membutuhkan waktu apalagi nona sudah menggunakan pil KB selama tujuh tahun". jawab Zahra


"berarti aku tidak bisa hamil dalam waktu dekat ini". ucap Sintia


"nona bisa berdo'a dan meminta pada Allah karena itu hanya prediksi dari saya, siapa tau do'a nona akan terkabulkan Jangan pesimis nona yakinlah bahwa nona bisa hamil". ucap Zahra dan Sintia terseyum


Sintia dan Zahra membicarakan banyak hal hingga saat Zahra berpamitan untuk pulang. setelah kepergian Zahra , Sintia melamun di ruang tamu dan memikirkan butuh dua tahun untuk memulihkan apalagi masa KB nya baru selesai sehari sebelum dia dan Ilham menyatu.

__ADS_1


"jangan sedih". ucap Ilham dan duduk di samping Sintia


"aku yakin kamu bisa hamil sayang, jika kita di kasih dalam waktu dekat ini kita bersyukur jika belum berarti kita di beri kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama". ucap Ilham


"tapi aku takut jika membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk aku bisa hamil atau malah tidak akan hamil mas". jawab Sintia dengan sendu


"hey lihat mas, kita harus rajin rajin berdo'a sampai do'a kita di kabulkan karena Allah pasti akan mengabulkan kita yang penting kita harus rajin berdoa dan..." Ilham menjeda ucapannya


"dan apa mas". tanya Sintia penasaran


"dan selalu berusaha untuk membuatnya". ucap Ilham lalu mencium bibir Sintia sekilas


"mas main cium saja bagaimana jika Ari lihat". protes Sintia


"hmmm Ari sedang sibuk mengerjakan tugas sekolahnya". jawab Ilham dan mencondongkan tubuhnya sehingga membuat Sintia mundur


"mas jangan seperti ini". ucap Sintia saat Ilham mengungkung dirinya


"ciee pipi merah Lo, mas ingin dengar detak jantungnya". ucap Ilham dengan menempelkan telinganya di dada Sintia dan itu sukses membuat Sintia gugup


"ma mas jangan seperti ini, Jan jantung ku rasa mau copot". ucap Sintia sambil menahan nafasnya agar detak jantung tidak semakin cepat


"bernafas sayang". ucap Ilham dan menegakkan tubuhnya


"mas suka saat melihat pipimu memerah dan paling mas sukai adalah suara debaran jantung mu". bisik Ilham sehingga membuat Sintia semakin salah tingkah


"ma mas cu cukup jangan menggodaku lagi". ucap Sintia yang menenggelamkan kepalanya di dada Ilham karena malu


Ilham terkekeh saat melihat Sintia yang malu malu seperti itu, Ilham memeluk Sintia dan mengecup puncak kepalanya Sintia yang masih tertutup jilbab.


"Ari juga mau di peluk". ucap Ari yang sudah berada di samping mereka


Ilham membawa Ari ke dalam pelukannya juga

__ADS_1


"Abi sayang dengan kalian berdua, Abi ingin kita bahagia seperti ini". ucap Ilham


__ADS_2