Cahaya Dalam Kegelapan ( Sebuah Ketulusan)

Cahaya Dalam Kegelapan ( Sebuah Ketulusan)
Sungguh Kecewa


__ADS_3

Umar yang baru saja sampai di rumah putranya langsung turun dari taxi. saat putranya menyuruhnya untuk datang Umar langsung memesan tiket , kini pukul lima sore Umar sudah sampai di rumah Ilham. Ilham mencium tangan ayahnya dan mempersilahkan ayahnya masuk. Ilham membawakan minum untuk ayahnya.


"ham dimana ibumu". tanya Umar


"mungkin ibu sedang ada di pesantren karena Ning Aida sedang berkunjung kemari yah". jawab Ilham


"istrimu dimana ham dan juga Ari dimana". tanya Umar lagi saat tidak melihat menantu dan cucunya


"Sintia sedang beristirahat sedangkan Ari ada kegiatan di sekolah" jawab Ilham


Umar dapat melihat ada rasa sedih dan kecewa bercampur menjadi satu di wajah putranya itu, apalagi untuk pertama kalinya Ilham meminta dirinya datang padahal yang Umar tau putranya bisa menyelesaikan masalah sendiri tanpa meminta bantuannya


"ham apa ada masalah yang sangat besar sehingga membuat mu menyuruh ayah datang kemari". tanya Umar dan Ilham menarik nafasnya


Ilham menyerahkan ponselnya pada ayahnya, Umar mengambil ponsel tersebut lalu memutar video yang ada di ponselnya putranya. video di putar dari sang istri yang sedang berbincang dengan Ning Aida tetapi video itu tidak memiliki suaranya, sampailah pada sebuah video yang menayangkan perdebatan antara istrinya dan menantunya. Umar Sangat terkejut saat melihat istrinya mendorong Sintia bahkan mengabaikan Sintia yang sedang kesakitan.


"dari jadian itu istri Ilham mengalami keguguran, andai saja ibu tidak mengabaikan kesakitan Sintia mungkin sampai saat ini anak kami masih bisa bertahan bahkan kami harus kehilangan anak kami saat kami belum tau keberadaannya". ucap Ilham dengan sedih


Umar memijat dahinya dan sebuah kemarahan jelas terlihat di mata Umar saat mengetahui perbuatan istrinya sampai menghilangkan cucunya


"padahal Sintia sangat menantikan kehadiran anak selama tujuh tahun tapi saat tau janin itu sudah tidak ada". sambung Ilham


"bahkan istri Ilham sendiri tidak mengatakan pada ku bahwa ibu penyebabnya"


"Ilham sangat kecewa dengan perbuatan ibu dan Ilham ingin marah tapi...". Ilham tidak bisa melanjutkan ucapannya dia ingin marah atau memaki tapi itu adalah ibunya sendangkan ayahnya mengajarkan jangan sampai membentak orang yang lebih tua darinya.


Marwah yang baru pulang dari pesantren setelah isya


"untung saja Sintia tidak mengatakan apa yang aku lakukan pada putraku". ucap Marwah dan masuk ke dalam rumah

__ADS_1


saat masuk ke dalam rumah Marwah di kejutkan dengan kehadiran suaminya yang sedang duduk di ruang tamu


"mas". ucap Marwah


"kemarilah". ucap Umar dengan terseyum dan menepuk sofa yang kosong di sampingnya


Marwah menghampiri suaminya dan duduk di samping suaminya


"kenapa mas datang kemari tidak memberitahu ku jika memberitahu aku pastikan akan menyiapkan makan untuk mu mas".


"tidak perlu dan makanlah tadi mas membawakan kue kesukaan mu". Umar dan memberikan makanan kesukaan istrinya itu


"mas". ucap Marwah sambil menelan salivanya saat suaminya bersikap seperti itu, Marwah sangat paham jika suaminya bersikap seperti itu karena sedang kecewa dengannya


"kamu seorang ibu Marwah seharusnya kamu tidak bersikap seperti anak kecil, apalagi kamu bawa sikap masa SMP mu untuk sekarang ini, mas tua seperti apa kamu dulu". ucap Umar


"maksudnya mas apa". tanya Marwah


"apa yang kamu lakukan pada menantuku Marwah". tanya Umar dan menatap tajam pada istrinya


"sudah tujuh tahun Marwah kenapa kamu tidak bisa menerima Sintia, semua orang memiliki masa lalu, apa kamu lupa seperti apa masa lalu mu, apa perlu mas ingatkan". ucap Umar


"kamu memiliki ayah seorang ustadz tapi perilaku tidak seperti anak ustadz yang lainnya, jika kamu lupa mas ingatkan dulu kamu saat masih sekolah kamu sering masuk ke club malam dan bahkan saat sudah menikah dengan mas kamypun masih diam diam datang ke tempat itu Marwah dan ingat satu hal jika malam itu mas tidak datang tepat waktu kamu akan kehilangan kehormatan mu Marwah karena jebakan dari teman teman mu". ucap Umar


"dan sekarang kenapa kamu tidak bisa menerima Sintia bahkan kamu sampai membuatnya keguguran, kenapa".


"a aku aku tidak tau jika Sintia hamil mas jika tau aku pasti tidak akan mendorongnya". jawab marah yang sudah tau arah pembicaraan suaminya itu


"lalu jika menantu kita tidak hamil kamu bebas mau mendorongnya". tanya Umar dan Marwah mengelengkan kepalanya

__ADS_1


"Marwah mas tidak pernah mengajarkan mu seperti ini apalagi kamu seorang ibu, mas kecewa padamu". ucap Umar


"pasti Sintia yang mengadu pada mas kan". tanya


"bukan Sintia tapi putramu yang mengatakan, dan satu hal yang harus kamu tau Marwah putramu tau bukan dari istrinya tapi dari cctv yang ada di rumah ini, mas rasa kamu lupa jika rumah ini ada cctv di setiap sudut ruangan kecuali kamar dan kamar mandi". ucap Umar


"sekarang bereskan barang barang mu, mas akan antarkan kamu ke pondok milik Abah". ucap Umar


"jangan mas aku tidak mau, jika aku ada disana past bang Rifky akan marah padaku, aku minta maaf". ucap Marwah


"keputusan mas sudah bulat dan mas akan mengunjungi satu bulan sekali". ucap Umar tanpa melihat ke istrinya yang sudah menagis


"mas ku mohon Jangan aku akan minta maaf pada Ilham dan juga Sintia tapi jangan kirim aku ke pondok Abah". ucap Marwah


"Ilham Ilham". teriak Marwah dan berlari ke kamar Ilham untuk membujuk ayahnya tetapi saat sampai di kamar Ilham dan Sintia tidak ada


"Ilham kamu dimana nak, ibu minta Maaf sama kamu dan juga istrimu". ucap Marwah yang berlari ke dapur untuk mencari putranya


"putramu tidak ada di rumah, dia sangat kecewa padamu dan dia tidak ada di sini". ucap Umar yang sudah memegang koper Milik istrinya, tadi Umar menyuruh Ilham membawa istrinya keluar karena Umar tidak ingin putranya melihat dia memarahi ibunya karena sejak Ilham lahir sampai dewasa jika mereka ada masalah maka mereka berusaha jangan sampai bertengkar di depan putranya


"tidak Ilham sangat sayang padaku mas dia pasti tidak akan marah pada ibunya".


"Marwah Humaira Latifah". teriak Umar saat melihat istrinya yang tetap mencari keberadaan putra


deg


Marwah membalikkan badannya ketika suaminya sudah menyebutkan nama lengkapnya. umar mecengkram pergelangan tangan suaminya dan membawa istrinya masuk kedalam taxi yang sudah dia pesan. Marwah terus memohon pada suaminya jangan membawanya ke pondok Abah.


"jangan membantah Marwah untuk kebaikan mu dan juga rumah tangga putra kita, dan renungkan kesalahan mu". ucap Umar

__ADS_1


__ADS_2