
pagi pagi sekali Sintia sudah berada di dapur untuk memasak makanan dengan semangat Sintia memotong sayuran dan memasukkan ke dalam wajan.
"ternyata bisa masak juga". ucap ibu mertuanya
"iya Bu mungkin tidak seenak masakan ibu tapi sedikit sedikit Sintia bisa masak". jawab Sintia sambil tersenyum
"ingin tau akan seperti apa rasanya". ucap Marwah sambil melihat Sintia yang sedang memasak
"apa masakan seorang model itu bisa enak pasti jarang masak, jika masakpun pasti pembantu". sindir Marwah dan Sintia menanggapi itu dengan senyuman
"tapi dulu sebelum jadi model pasti sering masak sendiri ya kan". tanya Marwah
"iya Bu". jawab Sintia
setelah mengatakan itu Marwah lebih memilih duduk di kursi sambil menunggu Sintia selesai masak.
"jam berapa tadi mulai masaknya". tanya Marwah
"jam lima Bu". jawab Sintia
"jam lima dan sekarang mau jam setengah tujuh belum selesai juga". ucap Marwah
"beda sama dengan Kania istri pertama Ilham jam enam pasti sudah selesai dan rumah juga sudah beres, ini saja rumah juga belum di beresin". ucap Marwah dan Sintia lebih memilih diam karena tidak ingin mengundang keributan
"sabar Sintia sabar". monolog Sintia dalam hati
"Bu jangan berbicara seperti itu". ucap Umar yang mendengar perkataan istrinya
" tapi itu kenyatannya pa". jawab Marwah
"hari ini kita pulang ke Surabaya Bu". beritahu Umar karena Umar tidak ingin istrinya ini semakin menekan Sintia
"papa pulang duluan saja ibu masih mau di sini, ibu mau memastikan bahwa menantu baru ini bisa mengurus Ilham dan Ari dengan baik". jawab Marwah
"kenapa ibu sekarang keras kepala seperti ini dan satu lagi hari ini ibu harus ikut pulang dengan papa dan papa tidak ingin ada bantahan sama sekali dan ibu tau apa hukumnya jika membantah suami". ucap Umar
"dan papa yakin Sintia bisa mengurus Ilham dan Ari dengan baik". sambung Umar
"iya iya ibu ikut pulang tapi setiap dua bulan sekali ibu akan kesini untuk memastikan dia tidak buat malu keluarga kita". ucap Marwah
__ADS_1
Sintia yang sedang memasak hanya diam saat mendengar perkataan ibu mertuanya yang terlontar dari dalam mulutnya itu dan jujur Sintia merasa sakit saat mendengar perkataan ibu mertuanya tapi Sintia juga sadar apa yang membuat ibu mertuanya tidak menyukainya dirinya.
"nak jangan kamu masukkan hati perkataan ibu". ucap Umar saat Sintia menata makanan di meja
"iya pa". jawab Sintia
Ilham dan Ari berjalan menuju dapur dan terlihat makanan sudah terhidang. mata Ari berbinar saat melihat banyak makanan di atas meja karena selama ini jika Abinya yang masak hanya ada satu atau dua menu saja
"ini bunda semua yang masak". tanya Ari dan di anggukan oleh Sintia
"ye banyak menunya biasanya jika Abi yang masak hanya ada satu atau dua menu saja". sambung Ari
Ilham mengambil nasi dan sayur di letakan ke piringnya.
"seharusnya kamu ambilkan makan untuk suamimu bukan mengambil untuk diri sendiri melayani hal kecil seperti ini saja tidak bisa bagaimana mau jadi istri dan bunda yang baik". ucap Marwah yang sudah selesai mengambil makan untuk suaminya
"ibu jangan bicara seperti itu selagi Ilham bisa mengambilnya sendiri tidak apa apa". jawab Ilham
"Ilham dia sangat beda dengan Kania dulu Kania selalu mengambilkan makanan untuk mu dulu baru untuknya". ucap Marwah
"ibu jangan banding bandingkan Sintia dan Kania, Ilham yakin Sintia bisa jadi istri dan bunda yang baik, nanti Sintia bisa belajar dengan pelan pelan untuk menjadi istri dan bunda yang baik dan buktinya Sintia memasak makanan ini Bu". ucap Ilham
mereka semua makan dengan tenang tetapi tiba tiba Marwah menghentikan makannya.
"masih enakan masakan Kania". ucap Marwah
"Bu cukup". ucap Umar dengan menatap tajam istrinya itu yang sengaja tadi sudah membuatnya geram dengan perkataannya itu
"masakan bunda enak kok nek kenapa nenek bilangan begitu". ucap Ari
"nenek harus mengabiskan makanan yang ada di piring nenek karena dia luar sana banyak yang kesulitan makan". sambung Ari
"kalau nenek tidak suka masakan bunda kenapa mengambil makanannya, jika benak tidak suka kenapa nenek tidak masak sendiri saja". ucap Ari
"iya akan nenek habiskan jadi Ari jangan ceramahi nenek lagi". ucap Marwah dan memakan makanannya lagi
setelah selesai makan, Sintia membersihkan sisa makanan yang ada di meja
"Ari bantu ya bunda". ucap Ari
__ADS_1
"tidak usah sebaiknya Ari berangkat sekolah sama Abi lihat sudah jam tujuh lebih". ucap Sintia sambil menunjuk jam yang ada di dinding
"Ari ayo berangkat". ucap Ilham mengahampiri Sintia dan Ari yang ada di dapur
"mas mengantar Ari dulu ya nanti jika ibu mengatakan sesuatu abaikan saja". ucap Ilham
"iya mas". jawab Sintia
Sintia mencium tangan Ilham dan Ilham mencium kening Sintia, Sintia merasakan hatinya berdesir saat Ilham mencium keningnya setelah itu Ari mencium tangan Sintia dan Ari menyuruh Sintia untuk mensejajarkan tubuhnya dengannya dan tiba tiba tiba Ari mencium pipi Sintia
"itu rasa sayang Ari untuk bunda". ucap Ari dan membuat Sintia terseyum
"belajar yang rajin ya". ucap Sintia sambil mengusap kepala Ari
Ilham mengantarkan Ari ke sekolahnya ya walaupun jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah Ilham lebih memilih tetap untuk mengantarkannya. setelah mengantarkan Ari Ilham kembali ke rumah untuk mengantarkan Kedua Orang tuanya ke bandara karena tadi papanya mengatakan akan kembali ke Surabaya.
"nanti kamu jemput Ari ya pakai mobil satunya soalnya nanti setelah mengantar papa sama ibu mas langsung ke pesantren karena mas harus mengajar". ucap Ilham yang ada di kamar menyiapkan peralatan mengajarnya yang di bantu Sintia
"iya mas, Ari sekolah di mana". tanya Sintia
"di TK Mulia Hati". jawab Ilham
"tolong ambilkan buku paket mas yang ada di meja itu dan masukkan ke dalam tas". ucap Ilham sambil Mengancingkan baju seragamnya
Sintia mengambil buku yang Ilham maksud dan memasukan ke dalam tasnya, Ilham sudah memindahkan beberapa pakaian dan barang-barangnya ke kamar yang dia tempati bersama Sintia.
"sudah ini mas tasnya". ucap Sintia sambil menyerahkan tasnya
"terima kasih". ucap Ilham
Ilham dan Sintia keluar dari kamar, kedua orang tuanya sudah menunggu di depan.
"nak kami pulang dulu ya". ucap Umar
"iya pa hati hati di jalan". ucap Sintia
"mas berangkat dan pesan mas jangan memasukkan tamu laki laki jika tidak mas di rumah". ucap Ilham
"iya mas". jawab Sintia
__ADS_1
Ilham dan kedua orangtuanya masuk ke dalam mobil dan setelah mobil menjauh Sintia langsung mengunci pintunya.