CEO Pengganti

CEO Pengganti
Waraslah Sedikit


__ADS_3

Tak ada yang Bima katakan selain meminta maaf atas kelakukan Emi. Bima duduk bersebelahan dengan mamanya Lisa yang tak berhenti berkicau menyalahkan Emi yang sudah menampar dan menjambak rambut putrinya.


Telinga Bima mendengar setiap kata yang diucapkan mamanya Lisa dan ibu Ranti bergantian. Mama Lisa dan Bima sepakat berdamai di hadapan ibu Ranti. Emi tidak setuju, dia sempat protes karena pertengkaran itu terjadi karena Lisa yang terlebih dahulu mengatainya.


Tatapan tajam Bima begitu menusuk saat melihat Emi yang protes. Pertengkaran juga hampir terjadi saat Emi menunjuk Lisa yang menjadi penyebab utama. Lisa menangis berpura-pura takut pada Emi dan itu sukses membuat mamanya dan ibu Ranti memarahi Emi.


"Maaf, tapi jangan hanya menyalahkan Emi. Ini juga salah Lisa, Bu."


"Kau diam. Walimu juga belum datang sampai saat ini," mamanya Lisa menghardik Bian yang mencoba membantu Emi.


Bian memandang jengah pada gurunya itu, Bian tahu tidak seorangpun akan pernah benar saat berurusan dengan wanita yang selalu tampil eksentrik tersebut.


Bima yang sedari tadi tertuju pada Emi kini mengalihkan pandangannya pada Bian, satu-satunya murid laki-laki yang berada di ruangan BK.


Permasalahan akhirnya selesai saat Bima dan mamanya Lisa menanda tangani surat perjanjian di atas materai. Kejadian hari ini selesai di ruang BK.


Bima kembali meminta maaf pada mamanya Lisa dan ibu Ranti. Bima meminta izin untuk membawa pulang Emi meski belum waktunya jam sekolah berakhir.


"Tunggu," mamanya Lisa memanggil Bima yang baru akan melangkah. "Bukannya anda itu direktur utama Suntama Group? Iya, saya baru ingat. Anda itu yang memberi kata sambutan saat acara wisuda kampus anak saya di hotel Cahaya Mutiara beberapa bulan lalu. Iyakan, saya benar?"


Senyum terpaksa disimpulkan Bima menjawab pertanyaan wanita itu.


"Ternyata anda lebih tampan dilihat dari jarak dekat seperti ini," ucapnya memuji Bima lalu beralih melihat Emi dibelakang Bima. "Kalau boleh tahu dia siapanya pak Bima? Adik atau keponakan? Apa masih ada hubungannya dengan keluarga Suntama?" tanyanya lanjut penasaran.


Bima berpikir, dia juga tidak tahu harus mengatakan Emi itu siapanya. Emi menunggu apa yang akan Bima katakan namun tidak ada jawaban sama sekali yang keluar dari Bima.


"Pak Bima tidak menjawab itu tandanya dia hanya orang biasa saja. Ya..., mana mungkin gadis bar-bar sepertinya ada kaitannya dengan keluarga Suntama.


"Maaf, saya permisi," ucap Bima menarik tangan Emi untuk keluar.


Baru mencapai ambang pintu langkah Bima kembali berhenti.


"Karina?"


"Bima?"


Bima dan Karina saling menyapa terkejut di waktu yang bersamaan.


"Sedang apa disini?" tanya Karina heran apalagi ia melihat Bima sedang memegang tangan seorang murid perempuan.


"Aku sedang-" Bima menjeda kalimatnya dan melihat tulisan ruangan BK di tempel di atas kepalanya. "Kau juga sedang apa disini?" tanya Bima berbalik.


"Biasalah anak sekolah jaman sekarang. Adik suamiku tadi-" mata Karin langsung tertuju pada Bian dengan seringai diwajahnya.


Dari posisinya berdiri Bian mengangkat tangannya menyapa Karina.

__ADS_1


"Bian?"


Bukannya marah atau kesal, Karina malah tersenyum melihat Bian, adik iparnya yang terkenal pintar dan juara umum sedang berada di ruangan BK.


"Bima, lain kali kita ngobrol."


Karina masuk kedalam ruang BK, memperkenalkan diri pada ibu Ranti dan menanyakan alasan kenapa Bian sampai masuk ruang BK. Bima langsung membawa, menarik paksa tangan Emi dan memasukkannya ke dalam mobil.


Tak ada yang dikatakan Bima selama perjalanan, begitu juga dengan Emi yang duduk di sebelahnya namun sesekali ia melirik pada Bima yang mengemudi cukup cepat.


Oh Tuhan... Aku belum mau mati. Tapi nggak masalah deh karena ada om Bima juga disini. Kalau mati aku punya teman.


Tup!


Bima menutup kuat pintu mobilnya, dengan langkah cepat ia memasuki rumah diikuti Emi dari belakang.


"Duduk!" perintah Bima.


Patuh, Emi langsung duduk di sofa yang ditunjuk oleh Bima. Keduanya kini duduk berhadapan dengan meja sebagai pembatas.


"Berikan hasil ujianmu," pinta Bima mengulurkan tangannya.


Emi melepas ransel yang masih menggantung di pundaknya, membuka dan mengeluarkan hasil ujiannya. Perasan Emi tidak enak saat menyerahkan apa yang diminta Bima.


Benar saja, perasaan tak enak Emi menjadi kenyataan saat merasakan kibasan, eh tepatnya pukulan mengenai wajahnya. Bima mencampakkan hasil ujian itu tepat mengenai wajah Emi.


"Ambil!"


Emi memungut kertas itu dan meletakkannya di atas meja. Bima mengambil kertas itu kembali dan tersenyum dengan tatapan seolah mengejek.


Serettt....


Hasil ujian tengah semester Emi dirobek Bima menjadi beberapa bagian.


Tidak ada protes dari Emi karena dia tahu tidak akan ada gunanya. Sejauh ini meski kesal dan marah, masih coba untuk ditahannya.


"Kau bilang menyukaiku tapi maaf aku tidak suka orang bodoh, apalagi anak sekolahan sepertimu."


Mungkin terdengar lebay tapi Emi merasakan jika sesuatu menghujam jantungnya.


"Jangankan gurumu di sekolah tadi, aku sendiri bingung kenapa ibu Mila menjadikanmu anaknya. Justin anak yang pintar, Kevin yang walaupun tidak sepintar Justin tapi dia punya skill di kesenian."


Perasan kesal Emi semakin memuncak. Justin dan Kevin adalah kakaknya, Emi sayang pada mereka tapi dia juga tidak suka jika harus dibanding-bandingkan.


Emi mengangkat kepalanya melotot pada Bima yang masih tersenyum sinis padanya.

__ADS_1


Apa aku cakar saja wajahnya? Tapi jangan, kasihan, nanti nggak ganteng lagi.


"Tidak ada yang bisa kau lakukan dengan baik. Menurutmu bagaimana kalau bundamu tahu kejadian hari ini? Memukul wajah teman sekelas dan menjambak rambutnya. Apa kau bangga dengan kekuatan fisikmu?"


Emi merasa semakin mendidih tak sanggup lagi mendengar Bima.


"Emi, maaf seribu maaf tapi kau harus tahu bahwa tidak ada laki-laki yang akan menyukai gadis sepertimu. Jika ada maka laki-laki itu sama bodohnya denganmu."


Cukup! Emi berdiri dengan mata yang semakin melotot belum lagi kedua tangannya terkepal menahan amarah.


"Kau mau marah? Tapi aku rasa kau masih manusia yang bisa berpikir sebelum protes karena apa yang aku katakan tidak sepenuhnya salah."


"Om Bima, cukup! Aku juga bisa marah."


"Jika mau marah maka marahlah ke dirimu sendiri. Malulah sedikit pada nilaimu hari ini. Belajarlah sedikit supaya tidak bodoh dan memalukan nama besar keluarga Suntama."


"Tapi aku nggak bodoh!" geram Emi.


"Buktikan kalau begitu."


"Oke. Aku akan buktikan kalau aku nggak bodoh. Minggu depan ada kuis matematika kalau hasilnya 80, om Bima harus ngabulin satu hal."


"Apa kau sedang membuat penawaran denganku? Aku tidak tertarik sama sekali."


"Itu artinya om Bima penakut."


"Ck! Tidak ada alasan untuk takut denganmu. Baik, ayo kita lakukan. Katakan, kau mau apa, mau kartu ATM-mu balik?"


"Bukan, seratus ribu untuk tiga hari yang om kasih juga cukup. Kalaupun kurang ada Bian yang bayarin jajan di kantin."


"Bian?" Bima menyunggingkan senyum mendengar nama yang disebutkan Emi. "Ayo katakan, aku tidak punya banyak waktu untuk meladenimu."


"Kalau aku dapat nilai kuis matematika 80, om Bima harus kencan denganku waktu hari ulang tahun om nanti."


"Waraslah sedikit, jangan bercanda!" hardik Bima tak suka dengan permintaan Emi.


"Aku serius, kalau nggak mau berarti om Bima takut, pengecut," tantang Emi memprovokasi.


"Baik. Ayo lakukan tapi 90 bukan 80 dan satu lagi, berhenti mengatakan suka atau bersikap seolah kita itu dekat kalau hasilnya tidak 90."


"Oke!"


Emi menyanggupi persyaratan yang Bima buat meski kini dia merasakan panas dingin dan telapak tangannya keringatan.


Jangankan 90, tujuh puluh aja nggak mungkin aku bisa dapat.

__ADS_1


__ADS_2