CEO Pengganti

CEO Pengganti
Ekspresif bukan Agresif


__ADS_3

Apa yang diceritakan Emi membuat Nola geleng-geleng kepala. Dia kenal betul bagaimana Bima selama berteman sejak SMA hingga tak percaya jika Bima bisa menjadi sedingin apa yang diceritakan Emi. Namun saat Emi mengatakan jika belakangan ini Bima lebih baik dari biasanya maka Nola yakin bahwa Emi sudah mendapat tempat di hati Bima.


"Aku mendukungmu."


"Ah, mba Nola becanda. Aku sudah menyerah, om Bima tidak suka gadis sepertiku. Aku masih kecil dan anak sekolahan," sungut Emi.


"Hei... Justru karena itu, kau lucu, menggemaskan dan belum berpengalaman. Aku yakin Arya pasti akan menyukaimu. Ayah dan ibuku saja beda dua puluh tahun saat mereka menikah dulu. Jadi, tidak ada yang tidak mungkin."


"Mba Nola yakin?"


"Iya, asal kau harus sedikit ekspresif. Ekspresif dan bukan agresif, paham?"


Emi menggaruk kepalanya yang tak gatal, bingung akan maksud Nola tapi tidak ingin bertanya jauh pada Nola.


"Terus kenapa memanggil om Bima dengan nama Arya?"


"Oh... Dulu di sekolah dia memang lebih akrab dipanggil Arya dari pada Bima. Teman sekolah selalu memanggilnya Arya tapi kalau di kantor aku memanggilnya Bima biar sama dengan karyawan lainnya," jelas Nola.


"Oh... Gitu ya, terus om Bima pernah pacaran?"


"Tentu, pria seganteng Bima mana mungkin tidak pernah pacaran. Waktu SMA dia punya pacar sampai kuliah tapi pisah dan aku nggak tahu kenapa. Arya juga nggak pernah mau ceritain."


"Apa dia sangat cantik?"


"Hmm, tidak perlu mencari tahu masa lalunya dengan siapa, yang penting kau dapatkan hatinya dengan caramu sendiri."


"Caranya?"


"Intinya buat dia gelisah memikirkanmu."


"Ih, mana ada yang seperti itu. Yang ada om Bima marah-marah kali waktu ingat aku."


Hahaha...


Keduanya tertawa seperti kakak- adik yang sedang asik mengobrol. Dari Nola Emi mendapat informasi banyak mengenai Bima dan bagaimana sifat Bima yang sebenarnya berhati lembut dan perhatian. Entah Emi harus percaya atau tidak karena apa yang dikatakan Nola berbeda dengan yang selama ini Emi lihat.


"Kalian bicara apa? Ayo pulang," ajak Bima.


Mata Bima menyelidik pada Nola dan Emi yang terlihat begitu akrab berbeda dari saat dia tinggalkan beberapa menit yang lalu.


"Enggak cerita apa-apa kok, Ar. Emi cuman bilang kalau ada cowok di sekolahnya yang nembak dia dan pengen Emi jadi pacarnya," ucap Nola yang jelas-jelas berbohong. "Kalau menurutmu bagaimana? Emi sudah besar dan dia sudah cukup dewasa untuk pacaran."


Mata Emi melotot tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Emi ingin menyanggah ucapan Nola namun kedipan dari sekretaris Bima itu membuat Emi terdiam.

__ADS_1


"Pacaran?" tanya Bima biasa saja namun sorot matanya begitu tajam pada Emi.


"Iya, katanya cowok itu baik dan pintar. Kamu setujukan? Hitung-hitung buat penyemangat ke sekolah dan juga belajar. Iyakan, Mi?"


Gantian kali ini Nola justru tertuju pada Emi dan berharap Emi menganggukkan kepalanya tanda setuju apa yang dia katakan tapi Emi yang bingung hanya bisa diam.


"Emi, pulang!"


Emi berdiri dan berpamitan pada Nola. Sebelum pergi, Nola membisikkan sesuatu ke telinga Emi dan saat itu juga Bima menarik tangan Emi.


"Hati-hati, Ar!" pesan Nola sambil menahan tawanya.


..........


Di dalam mobil, Emi hanya bisa menunduk tapi bukan karena takut melainkan berpikir apa alasan Nola berbohong pada Bima. Kebohongan Nola justru dirasa Emi berlebihan yang pastinya tidak akan dipercaya Bima.


"Siapa?" tanya Bima.


"Siapa? Apanya yang siapa?" tanya Emi berbalik karena tak mengerti.


"Tadi. Laki-laki yang kata Nola mengajakmu pacaran, siapa?"


"Itu... Laki-laki itu... Dia..."


"Dia-"


"Tidak usah dijawab," sela Bima dan membuat Emi lega.


Bian. Dia pasti Bian.


Nama Bian langsung terpikir oleh Bima mengingat bagiamana kedekatan Emi dan Bian selama ini. Emi selalu meyebut nama Bian selama ini dan Bian satu-satunya teman laki-laki Emi yang selama ini Bima tahu. Apalagi Karina, kakaknya Bian pernah dengan tidak sengaja mengatakan jika Bian menyukai Emi.


"Selama ibu Mila tidak ada kau dalam pengawasanku, jadi tidak ada kata pacaran. Paham?"


"Paham," jawab Emi.


"Bagus."


"Em... Kalau misalnya bunda kasih izin bagaimana?"


"Bukannya sebelumnya kita sudah sepakat kalau kau akan menurut apa yang aku katakan? Kau belum lupakan?"


"Iya, baiklah."

__ADS_1


Emi menguap, dia sangat mengantuk. Dia ingin segera berbaring di atas tempat tidurnya, memeluk guling dan menarik selimut.


"Apa kau akan ikut bundamu nanti ke Australia?"


"Entahlah, aku juga nggak tahu. Aku sendiri di sini sedangkan di sana ada bunda dan kak Justin. Tidak ada alasan untuk tetap di sini. Hm... Seandainya ada alasan untuk aku tetap tinggal tapi sayangnya nggak ada."


Emi terlihat lesu, dia juga tidak tahu akan ikut bundanya atau tidak. Tidak ada keharusan dari bundanya untuk Emi ikut ke Australia tapi dia juga kesepian tanpa bunda dan kakaknya.


"Sayangnya aku nggak punya alasan."


Suara Emi pelan tapi masih bisa di dengar oleh Bima. Emi yang sudah mengantuk menyandarkan tubuhnya kebelakang kursi diikuti kedua mata yang terpejam.


Sesekali Bima menoleh pada Emi disebelahnya. Dia tidak yakin dengan apa yang dia rasakan belakangan ini. Hanya saja Bima tidak suka jika Emi mengabaikannya. Bima tidak suka akan kedekatan Emi degan temannya yang bernama Bian. Bima kesal saat tadi Nola mengatakan ada laki-laki yang menyukai Emi dan ingin Emi jadi pacarnya.


Mobil sudah berhenti di halaman rumah. Dengan pelan Bima membuka pintu dan menutupnya kembali. Bima memasukkan semua belanjaan ke dalam rumah terlebih dahulu dan begitu cepat sudah kembali ke mobil.


Emi yang tidur begitu nyenyak tidak mendengar saat Bima membuka pintu di sebelahnya.


"Emi?" panggil Bima pelan untuk membangunkan Emi.


"Emi, kita sudah sampai."


Wajah Emi begitu tenang dengan hembusan nafas yang teratur. Bima teringat saat mereka pulang dari puncak, dia ingat saat Kevin memintanya untuk menggendong Emi ke kamar karena kasihan jika harus membangunkan Emi yang tidur nyenyak.


Perlahan Bima membuka seat-belt yang dipakai Emi dan mengangkat Emi dari dalam mobil. Seketika Emi terbangun dan membuka kedua matanya, mendapati dirinya dalam gendongan Bima.


"Kau sudah bangun?" tanya Bima saat mata mereka bertemu.


Dengan cepat Emi menggelengkan kepalanya, menutup lagi matanya dan berlagak seperti saat tadi dia tidur.


Bima tersenyum menahan tawa tapi tetap mengendong Emi ke dalam rumah.


Ibu Sri yang ada di kamarnya tidak melihat saat Bima mengendong Emi dan membawanya sampai kedalam kamar.


"Kau lebih berat dari sebelumnya," ucap Bima menurunkan Emi dari gendongannya dan meletakkannya ke atas tempat tidur.


"Jangan berpura-pura lagi dan tidurlah."


Bima keluar, menutup pintu kamar Emi dan segera menuju kamarnya di atas. Saat akan membuka lemari untuk mengambil pakaian tidur, Bima melihat tampilannya yang sedang memakai topi di cermin lemari. Bima tidak sadar jika sejak dari mall, dia sama sekali tidak melepas topi itu dari kepalanya.


Apa memang untukku dan bukan untuk temannya itu?


Bima melepas topi dari kepalanya dan menyimpannya dalam salah satu laci lemari.

__ADS_1


__ADS_2