
Seminggu telah berlalu semenjak Emi kembali kerumah bundanya. Bima membiarkan hal itu, dia ingin melihat sejauh mana Emi akan bertahan. Seminggu ini juga Bima dan Emi tidak bertemu apalagi berkomunikasi. Emi harus mengelus dada juga karena Bima tidak memberinya uang jajan yang bisa saja dititip pada pak Eko.
Sore ini Bima pulang lebih awal. Suami Karina yang juga adalah kakaknya Bian meminta tolong pada Bima untuk mengulas sebuah bangunan yang di desainnya sendiri. Radit kurang percaya diri meskipun dia seorang arsitek. Radit akan puas jika Bima mengulas desainnya, memberi kritik dan masukan yang positif. Bima jauh lebih ahli dari Radit.
Tin-Tin
"Kak Karina punya tamu?"
Fokus Bian yang sedang cuap-cuap menjelaskan jalan penyelesaian salah satu dari soal matematika yang diberinya pada Emi teralihkan mendengar suara klakson mobil di luar.
"Enggak. Mungkin itu teman kakak kamu kali."
"Iya, itu teman aku. Kalian lanjut aja belajarnya," ucapnya pada Bian dan Emi. "Sayang, minta tolong bikinin minum ya?" mengedipkan sebelah matanya pada sang istri, Karina.
"Berapa orang?"
"Satu doang. Kamu juga kenal."
Gegas Karina menuju dapur menyiapkan apa yang tadi di minta suaminya.
"Masuk, Bim. Sorry aku ngerepotin."
Radit langsung mengajak Bima keruang tamu dimana ada Bian dan Emi sedang belajar.
"Sorry banget ya Bim, capek dari kantor tapi masih harus bantuin aku. Oh iya, Emi juga lagi sama Bian. Biasalah anak sekolah, belajar biar pintar."
Emi?
Benar saja saat mendekati ruang tamu Bima sudah melihat Emi dan Bian duduk di atas permadani dengan buku-buku di atas meja.
Bima tidak terpikir akan bertemu Emi hari ini apalagi di rumah Radit.
"Duduk, Bim. Aku langsung ambil desain gambar yang mau aku tunjukkin dulu."
Bersamaan Emi dan Bian menolah pada sosok yang diajak Radit bicara. Sama seperti Bima, Emi juga kaget melihat Bima namun dia mencoba untuk biasa-biasa saja.
"Kak Bima?" sapa Bian yang juga ikut kaget.
Dari arah dapur Karina datang membawa teh untuk Bima. Dia melihat pada Bima dan dua orang yang sedang belajar bergantian.
"Lucu ngakak sih, Bim? Lihat mereka berdua jadi keingat zaman sekolah dulu. Iyakan?"
__ADS_1
Bima tidak terlalu menghiraukan perkataan Karina karena fokusnya tertuju pada Emi yang seperti tidak melihat keberadaannya.
Bian tahu jika saat ini Emi pasti merasa kurang nyaman bertemu Bima lagi. Dengan kemampuannya, Bian mencoba mencairkan suasana agar Emi tidak tegang.
"Dor!!"
"Bian!!? Tok!"
Emi melonjak kaget saat tiba-tiba Bian mengejutkannya dengan suara tembakan sedangkan pelakunya tertawa puas melihat reaksi Emi. Spontan Emi langsung memukulkan pena ditangannya ke bahu Bian.
"Bian, kak Karina juga kaget loh. Belajar yang benar, kalau capek istirahat. Kasihan Emi udah mau muntah di sodorin angka-angka dan rumus-rumus dari tadi," ucap Karina.
"Biarin, kak. Biar dia pintar. Beberapa hari lagi ada kuis matematika."
Bima teringat dengan perjanjian yang dibuatnya dengan Emi.
"Aku juga udah janji, kalau nanti Emi dapat nilai 100 atau 90, aku bakalan ajak Emi ke suatu tempat."
"Oh, ya? Dimana itu?" tanya Karina penasaran.
"Rahasia anak muda. Yang udah tua nggak boleh tahu," jawab Bian asal.
"Paling ke taman atau pantai. Iyakan? Mau ngajak Emi kencan pasti."
Bima teringat lagi akan perjanjiannya dengan Emi. Dia tidak yakin apa Emi masih ingat atau tidak tapi saat itu Emi mengajak Bima untuk kencan di hari ulang tahunnya jika Emi dapat nilai kuis matematika 90.
Radit datang membawa design bangunan yang ingin dia perlihatkan pada Bima. Baru melihatnya saja Bima sudah bisa menangkap kekurangan dari design bangunan tersebut. Ada beberapa point penting yang Bima sarankan dan tak lupa memuji hal yang menurutnya sudah sesuai.
Sesekali Bima melirik pada Bian yang begitu menempel pada Emi dan memainkan rambut panjang Emi dengan bebas. Emi terlihat begitu fokus mengerjakan soal yang diberikan Bian. Tangan dan perhatian Emi benar-benar tertuju pada angka-angka di depan matanya.
"Hoam... Udah ya, Bi? Aku udah capek, ngantuk. Aku mau pulang, boleh ya?"
Mata Emi memang terlihat lelah, dia juga sudah bosan apalagi saat kedatangan Bima.
"Ya udah, besok kita lanjut lagi," mengacak rambut Emi.
"Aku ambil jaket dulu, kamu tunggu di depan," bisik Bian yang dijawab Emi dengan anggukan kepala.
Emi berpamitan pada Radit dan Karina tanpa menggubris Bima sedikitpun.
Bima yang juga sudah selesai memberi masukan dan kritikan pada design Radit, berencana untuk pulang juga.
__ADS_1
" Aku balik, Dit."
"Cepat amat, bentar lagi napa?"
"Capek, pengen istirahat. Besok masih banyak kerjaan," ucap Bima mencari alasan.
Bima mengambil jasnya yang dia letakkan di sandaran sofa dan melirik pada Emi yang sedang memasukkan buku-bukunya ke dalam tas dan menuju pintu depan.
"Oh iya, weekend nanti acara aniversary mertua aku, datang ya, Bim?"
"Weekend?" tanya Bima memastikan
"Sebenarnya tanggal aniversary-nya kemarin tapi acaranya dibuat weekend biar kolega mereka bisa datang. Acaranya di sini, kok."
"Aku usahain," jawab Bima tak yakin. Weekend nanti adalah hari ulang tahunnya Bima.
Emi menunggu Bian tak sabar. Dia tidak ingin bertemu Bima yang juga berencana untuk segera pulang.
"Ayo pulang."
Sayang seribu sayang, Emi bertemu Bima dan malah mengajaknya untuk pulang.
"Enggak," tolak Emi ketus.
"Jangan mancing keributan di rumah orang. Ayo?"
"Aku bilang enggak ya enggak!"
Tak sabar Bima memegang lengan Emi ingin menariknya ke mobil namun sebuah tangan menahannya. Bian adalah pemilik tangan itu.
"Sorry, kak. Emi biar aku aja yang antar pulang. Aku udah biasa juga anterin dia pulang. Ayo, Mi."
Bian membawa Emi menuju motornya, memasang helm hingga tak lama kemudian dia pergi mengantar pulang Emi dan tentu saja ke rumah bundanya.
Bima berdecak kesal melihat tangannya yang tadi memegang Emi. Meskipun kesal namun Bima mengikuti sepeda motor Bian yang melaju pelan.
Bima menghentikan mobilnya. Bima merasa de Javu. Dia merasakan sudah pernah dalam posisi sekarang ini sebelumnya, dimana Bima melihat Emi turun dari motor dan rambutnya di acak-acak oleh laki-laki yang mengantarnya pulang.
Bedanya saat itu Bima tidak mengenal siapa laki-laki itu tapi sekarang Bima mengenal laki-laki itu, yang tak lain adalah teman sekolah Emi yang selalu bersamanya.
"Baiklah, setidaknya kau baik-baik saja. Aku tidak perlu repot-repot mengurus anak kecil yang keras kepala sepertimu. Lakukan saja apa yang kau mau."
__ADS_1
Bima memutar balik mobilnya. Bima merasa jika Emi tidak perlu di khawatirkannya mengingat ada Bian yang selalu bersamanya. Akan tetapi entah mengapa Bima tidak begitu suka melihat kedekatan antara Emi dan Bian.
Bian anak yang baik dan pintar karena Karina dan Radit beberapa kali membicarakan tentang adik mereka yang ternyata adalah Bian. Selain itu Bima juga mengenal keluarga Bian, jadi tidak ada salahnya jika Bima ingin lepas tangan atas Emi.