
Bima tak tahan melihat Emi memaksakan diri menggunakan sumpit yang jelas-jelas tidak bisa menggunakannya.
"Kau bisa meminta pelayan mengambilkan garpu kalau tidak bisa pakai sumpit, jangan memaksakan diri."
Kesal, Emi meletakkan sumpitnya. Emi bahkan bertambah kesal melihat pasangan di depannya saling menyuapi. Tatapan Emi mengarah pada Bima yang bisa makan begitu santai menggunakan sumpit.
"Aku nggak lapar," ucap Emi mencebikkan bibirnya.
"Tapi tadi kau bilang lapar."
"Lain kali jangan mengajakku lagi ke tempat seperti ini, aku nggak mau. Kita jangan kesini lagi."
"Aku tidak akan membawamu lagi kesini tapi bukan berarti aku tidak akan ke sini lagi."
Bima meraih mangkuk mie ramen Emi dan mengaduknya agar bumbu menjadi rata.
"Ayo," ucap Bima agar Emi membuka mulutnya. "Ayo cepat!"
Ini apa? Maksudnya mau menyuapiku? Om Bima mau menyuapiku?
Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Emi membuka mulutnya menerima suapan dari Bima. Perlahan Emi semakin dan merapatkan duduknya dengan Bima.
Dengan wajah tersenyum Emi mengunyah isi mulutnya sambil menatap Bima yang menurutnya bertambah ganteng beribu kali lipat dari kegantengan yang sebelumnya.
"Aku akan minta sendok garpu supaya kau bisa lanjut makan sendiri. Kau bukan anak kecil yang perlu disuapi," ucap Bima meletakan mangkok ramen.
Emi menggeleng, dia ingin terus disuapi Bima layaknya pasangan yang sedang berkencan di depannya. Emi mengangkat mangkuk ramen, dengan wajah iba memberinya pada Bima.
"Untuk malam ini aja, boleh ya, om?" pinta Emi dengan suara pelan. Emi tidak mau ada yang tahu jika saat ini dia sedang bersama seorang pria yang dipanggilnya dengan sebutan 'om'. Dia ingin orang-orang melihat dan menganggap mereka adalah pasangan malam ini.
"Baik tapi mulai sekarang harus menurut dengan semua yang aku katakan, bagaimana?"
Tanpa pikir Emi mengangguk tersenyum dan membuka mulutnya agar disuapi Bima lagi.
Suapan demi suapan diterima Emi dengan senang hati, bahkan meminta makanan milik Bima.
"Om Bima udah suka sama aku ya?" tanya Emi tanpa ragu.
"Berhenti menanyakan hal yang tidak masuk akal," jawab Bima yang lalu memasukkan makanan ke mulutnya sendiri.
"Tapi belakangan ini om Bima baik, nggak kayak biasanya."
"Aku hanya melakukan tugasku."
"Apa karena bunda?"
"Itu kau tahu jawabannya."
"Kalau aku tanya sesuatu om Bima mau menjawabnya?"
"Bukannya dari tadi kau sudah bertanya dan aku menjawabnya?"
"Ada yang lain, boleh?"
"Em."
"Kenapa om Bima nggak suka sama aku? Kenapa membenciku?"
"Aku tidak pernah bilang bencimu."
"Kalau tidak benci itu artinya om Bima suka," terang Emi.
Bima menghela nafas, bingung ingin berkata seperti apa pada Emi. Cukup lama Emi menunggu jawaban dari Bima tapi sia-sia saja karena Bima malah melanjutkan makannya.
__ADS_1
"Aku kenyang," ucap Emi ingin cepat pulang.
Emi berdiri ingin keluar meninggalkan Bima namun tangannya langsung di tahan oleh Bima. Disaat yang sama seorang pelayan datang meletakkan dua kaleng bir di atas meja dan tersenyum ramah pada Bima.
Melihat bir di atas meja, Emi yakin jika itu untuk Bima tapi seingatnya mereka tidak memesan bir sebelumnya.
"Sebentar lagi," ucap Bima melepas tangan Emi.
Bima ingin meraih salah satu kaleng bir namun tangan Emi sudah terlebih dahulu mengambil keduanya dan menyembunyikannya kebelakang punggungnya.
"Berikan," pinta Bima baik-baik.
"Kita nggak ada pesan itu tadi, itu artinya bukan punya om Bima."
"Kita tidak pesan tapi itu diberikan untukku, jadi berikan."
"Enggak, bukan punya om Bima, nggak boleh meminumnya."
Bima menyugar rambutnya, menatap jengah pada Emi.
"Aku pelanggan VIP disini, itu bonusnya."
"Tapi aku nggak suka laki-laki yang minum alkohol," protes Emi. "Om Bima nggak boleh minum alkohol lagi."
"Itu bir bukan alkohol, jadi ayo berikan."
Bima mengambil paksa bir yang disembunyikan Emi dibelakang punggungnya dan itu berhasil. Bima membuka penutup kaleng tapi sebelum meminumnya Emi sudah terlebih dahulu merampasnya dari Bima dan meminumnya.
"Apa yang kau lakukan?"
Bima merampas kembali bir dari tangan Emi, terkejut saat melihat Emi meminumnya.
"Eakk... Blehh... Nggak enak!"
"Kenapa meminumnya? Apa kau sudah tidak waras, hah?"
"Makanya om Bima jangan minum itu lagi," pinta Emi memelas. Rasa kecut dalam mulutnya tak bisa Emi tahan, ia mengambil mangkok ramen dan menyeruput kuahnya untuk penawar rasa kecut.
Kedua alis Bima terangkat melihat wajah Emi, terlihat lucu dan menggemaskan apalagi saat tadi Emi menyeruput kuah ramen langsung dari mangkuknya.
Bima menelan salivanya melihat bibir berminyak Emi. Bima mengulurkan tangannya dan mengelap bibir Emi dengan lembut. Pikiran Bima berselancar pada bibir merah ranum di depan matanya sedangkan Emi diam dalam gugup.
Keduanya saling memandang dengan pikiran masing-masing.
"Arya?"
Bima dan Emi terhenyak mendengar suara seorang wanita dan langsung menoleh pada asal suara. Emi mendengus kesal karena wanita itu adalah Nola, sekretarisnya Bima.
"Kau disini sama-" Nola memicing mengamati wajah gadis disebelah Bima. "E-mi? Kau membawanya ke sini, Ar?" tanya Nola dengan rasa tak percayanya sedangkan Bima hanya menanggapinya dengan sebuah anggukan.
"Tumben, kenapa membawanya ke sini?" tanya Nola lanjut diiringi langkah kakinya yang sudah berdiri di depan Bima dan Emi.
"Memangnya kenapa? Apa aku tidak bisa datang ketempat ini? Bukannya ini tempat umum?" kesal Emi.
Emi menunjukkan rasa tak sukanya pada Nola dengan tatapan sinis. Cara bicara Emi juga tidak bersahabat hingga membuat Bima tak suka namun berbeda dengan Nola yang justru senyum-senyum melihat Bima dan Emi bergantian.
"Ekhem! Nggak masalah sih, Arya kan dipercaya ibu Mila buat jaga kamu selama beliau tidak ada. Aku bisa memakluminya," ucap Nola pada Emi.
"Aku cuman diajak makan disini, bukan aku juga yang minta kesini, jadi jangan salah paham."
Nola ingin tertawa karena sebagai sesama perempuan dia bisa menangkap kesimpulan dari arti sikap tak bersahabat Emi padanya."
"Emi, jaga cara bicaramu. Dia mungkin karyawan bundamu tapi bukan berarti kau bisa bicara dengan tidak sopan seperti itu," tegur Bima.
__ADS_1
Bima memanggil seorang pelayan dan memberi kartu miliknya untuk membayar pesanan mereka.
"Kamu makin ganteng deh, Ar. Weekend kita nonton yok?"
"Lagi nggak sakitkan?" tanya Bima merasa aneh dengan Nola yang tiba-tiba memujinya.
"Enggak, aku baik-baik. Kalau nggak percaya, nih buktinya."
Nola meraih tangan Bima dan menempelkannya pada dahi dan kedua pipinya. Tidak tahu saja Nola sengaja melakukannya untuk melihat respon dari Emi. Tampang Emi sudah sangat masam saat tangan Bima menempel di wajah Nola.
"Aku ke toilet sebentar, kita akan pulang," ucap Bima pada Emi.
Tinggallah Emi dan Nola berdua saling adu pandang. Jika Emi memasang tampang tak suka maka Nola masih pada senyumnya.
"Hai sayang," sapa pria yang sebelumnya menyambut Bima saat tiba di sana. Pria itu adalah pemilik tempat tersebut dan yang juga merupakan kekasih Nola.
Emi kaget saat melihat pria itu merangkul Nola dan mencium keningnya.
"Arya mana?" tanya pria bernama Daren itu.
"Ke toilet."
"Oh, ya udah, aku ke belakang dulu. Lagi rame soalnya," ucap Daren melepas tangannya dari pundak Nola.
Belum lagi Nola duduk dengan baik, Emi menunjukkan sebuah foto di ponselnya. Foto yang diam-diam diambil Emi saat Daren merangkul dan mencium Nola.
"Aku tunjukkin sama om Bima. Biar tahu kalau pacarnya itu selingkuh dan dicium pria lain," ucap Emi lantang.
"Kamu cemburu ya? Kamu suka Arya?"
"Mba Nola jahat, aku nggak mau om Bima dibohongin. Kalau aku bilang suka emangnya kenapa?"
"Maka dempet terus sampai dapat!"
"Dempet? Maksudnya?"
Kalimat Nola malah membuat Emi bingung.
Menggunakan telunjuk, Nola memberi kode agar Emi mendekat padanya. Dengan polosnya Emi menurut dan mendekatkan kepalanya pada Nola yang juga melakukan hal yang sama.
"Kamu suka Arya? Maksud aku Bima?" tanya Nola dan dijawab anggukan kepala oleh Emi.
"Kalau gitu harus sampai dapat. Oke?"
"Biar mba Nola sama laki-laki yang tadi?"
"Dia memang pacarku."
"Terus om Bima? Mba Nola bukannya pacar om Bima?"
"Hei....!! Siapa yang bilang?"
Refleks Nola mengangkat kepalanya menjauh dari Emi. Nola akhirnya mengerti jika Emi sudah salah paham padanya dan berpikir dia dan Bima menjalin hubungan.
"Bukan?" tanya Emi memastikan.
"Aku dan Arya teman dari SMA. Pacarku juga sama, kami sudah lama berteman. Kau salah paham."
Emi menertawakan kebodohannya tapi dia merasa senang mengetahui wanita di depannya bukanlah kekasih Bima seperti yang selama ini dipikirnya.
"Dia tidak punya kekasih saat ini jadi kau bisa mengejarnya."
"Tapi om Bima nggak suka samaku. Aku sudah pernah bilang kalau aku menyukainya tapi katanya aku masih kecil dan tidak pantas untuk pria dewasa sepertinya," ucap Emi memberitahu seakan melupakan bagaimana tadi sikapnya terhadap Nola.
__ADS_1
Emi menceritakan bagiamana Bima padanya selama ini. Emi seperti seorang adik yang sedang mengadu pada kakaknya.