CEO Pengganti

CEO Pengganti
Pacar


__ADS_3

"Aku suka Bima. Bian itu temanku. Aku hanya suka om Bima."


"Bagus."


Dipeluknya langsung Emi, merasa lega setelah mengeluarkan isi hatinya.


"Maaf sudah membuatmu nangis. Maaf!"


Emi kembali menangis di pelukan Bima. Ia tidak menyangka jika pada akhirnya Bima akan menyukainya. Pengakuan Bima membuat Emi sangat senang.


"Kau hanya boleh menyukaiku, paham?"


Emi menganggukkan kepala di dada Bima. Ingin rasanya ia meloncat sambil bersorak tapi tidak mungkin ia lakukan saat ada Bima.


Bima meraih kedua tangan Emi dan ia lingkarkan di pingganganya agar Emi ikut memeluknya. Wajah Emi terbenam di dada Bima.


"Aku menyukaimu. Kau gadisku. Jangan menangis lagi."


Memeluk Bima seperti mimpi bagi Emi, ia masih tidak percaya jika saat ini ia sedang berpelukan dengan Bima. Emi mendongak ke atas, saat itu juga Bima menatap wajah gadisnya itu.


Dengan pasti Bima mencium kening Emi cukup lama. Bima tersenyum dan kembali memeluk Emi.


"Kau membuatku kelimpungan seharian ini," ucap Bima mengusap-usap kepala Emi.


"Apa om Bima khawatir?"


"Tentu saja, laki-laki mana yang tidak khawatir saat gadisnya menangis di luar sana dan pulang sampai malam? Aku mencarimu kemana-mana tapi tidak ketemu. Aku tidak tahu kau ada dimana. Apa kau sengaja mematikan ponselmu juga?"


"Em," jawab Emi seraya mengangguk.


"Hah... Kau melakukannya dengan baik, kau berhasil membuatku ketakutan."


"Takut? Kenapa?"


"Sudahlah, jangan bertanya. Aku ingin memelukmu sebentar lagi."


Keduanya berpelukan untuk beberapa lama hingga Emi merasa mulai sesak dan Bima melepas pelukannya. Emi tersenyum malu menatap wajah Bima.


Ingin sekali Emi menyentuh wajah Bima tapi ia masih tidak berani. Akan tetapi keinginan Emi terkabul karena Bima meraih kedua tangan Emi untuk diciuminya. Puas menciuminya Bima mengarahkan tangan Emi pada wajahnya.


Tembok pembatas antara dirinya dan Bima runtuh seketika saat Emi mengelus pipi Bima, memandangi Bima dari jarak yang begitu dekat dan saling melempar senyum.


Bima menarik kursi belajar untuk ia duduki. Posisinya masih berhadapan dengan Emi yang duduk di atas meja.


"O-Om Bima mau apa?" Emi kaget saat tiba-tiba Bima meletakkan kepala di atas pangkuannya.


"Sebentar saja, aku capek berdiri dan jongkok dari tadi."

__ADS_1


"I-iya tapi-"


"Sttt... Diamlah sebentar," pinta Bima.


Tidak cukup meletakkan kepalanya saja di atas pangkuan Emi, Bima juga melingkarkan tangannya pada pinggang ramping milik Emi.


Pelan Emi menghembuskan nafasnya untuk menutupi kegugupannya.


Apa dia om Bima yang aku kenal? Aku nggak pernah melihat dia yang seperti ini. Sedikit aneh tapi ini benar-benar nyata. Apa aku juga bisa menyentuh kepalanya? Kalau wajahnya saja bisa itu artinya kepalanya juga bisa, iyakan?


Senyum Emi kembali merekah, saat ini sebelah tangannya sudah berada di kepala Bima dan perlahan mulai mengusap-usapnya. Emi semakin berani saat perlahan ia munyugar rambut Bima menggunakan jemarinya.


"Apa kau sangat senang?"


"Em. Sangat," jawab Emi malu-malu.


"Kalau gitu lakukan sepuas yang kau mau."


Tidak terasa waktu sudah hampir pukul sepuluh malam. Meski bukan anak kecil lagi tapi Emi harus istirahat karena besok harus sekolah. Tak hanya itu, Emi juga masih memakai seragam sekolah dan butuh untuk mebersihakan tubuhnya apalagi hari ini dia banyak menangis.


"Aku belum mandi, kau juga belum." Bima mengangkat kepalanya, melepaskan tangannya yang memeluk pinggang Emi. "Sebaiknya kita mandi dan-"


Brug!


"Argh... Hissss... Emi! Apa kau masih marah?"


"Aku salah apalagi?" kesal Bima.


Bagaiman tidak kesal, tiba-tiba saja Emi mendorongnya kuat hingga jatuh bersama dengan kursi yang ia duduki. Alhasil pinggang dan bokong Bima terasa sakit saat mendarat kelantai.


"I-iya, mana bisa seperti itu. I-itu salah dan tidak boleh."


"Apanya yang tidak boleh?" tanya Bima mengusap bokongnya yang terasa ngilu.


"Ma-mandi berdua, mana boleh seperti itu."


"Siapa yang mau mandi berdua? Kau mandi di sini dan aku mandi di kamarku. Kapan aku mengajakmu mandi berdua? Apa karena itu juga kau jadi gagap bicara?"


"Jadi bukan untuk mandi berdua?"


"Kau bergaul dengan siapa saja sampai langsung berpikiran seperti itu, ha? Aku masih waras walaupun sangat ingin menggigitmu."


"Maaf?"


Hanya itu yang bisa diucapkan Emi. Ia merasa dirinya sangat bodoh dan memalukan. Bisa-bisanya dia punya pikiran Bima ingin mengajaknya mandi berdua. Emi sangat malu saat ini hingga tidak berani melihat wajah Bima.


Bima membenarkan kursi yang terjatuh dengan mata tertuju pada Emi.

__ADS_1


"Sudah, jangan dipikirkan lagi. Kau sudah makan malam?"


"Em," mengangguk pada Bima. "Sebelum pulang aku makan siomay tadi."


"Kalau gitu mandilah dan istirahat, besok harus sekolah."


Beberapa langkah menuju pintu untuk keluar Bima berhenti karena pertanyaan Emi, pertanyaan yang menurut Bima tidak perlu ia jawab.


"Apa sekarang artinya kita pacaran?"


Sebisa mungkin Emi bersikap tenang, Bima memang mengatakan suka tapi hanya sebatas itu saja.


"Apa kau menyukai hal semacam itu dan apa harus seperti itu?"


"Saling suka tapi tidak jadi pacar, lalu itu namanya apa?"


"Hah... Ternyata kau tidak sesederhana seperti yang aku pikirkan selama ini. Lebih baik mandi dan segera istirahat."


Bima keluar dari kamar Emi, meninggalkan gadis itu yang pertanyaannya tidak mendapat jawaban dari Bima.


"Apa ini? Cuman gitu doang? Cuman bilang suka, gitu aja? Nggak jadi pacar gitu? Ah! Dasar Emi dodol, dia kan nggak ada nanya kamu mau nggak jadi pacarku? Jadi maksudnya apa semua tadi," gerutu Emi.


Sepanjang Emi mandi hingga kini sudah merebahkan tubuhnya di tempat tidur, ia tak berhenti menggerutu. Harapannya setelah pengakuan Bima tidak sesuai dengan yang ia pikirkan.


"Apa seperti itu cara semua orang dewasa kalau menyukai seseorang? Terserahlah, aku ngantuk. Semoga tidurnya tidak nyenyak."


Seharian ini suasana hati Emi naik turun hanya karena satu nama, yaitu Bima. Angannya adalah setelah Bima menyatakan perasaannya dan tahu saling menyukai, Bima akan bertanya apa kamu mau jadi pacar atau kekasihku?


Sama seperti orang pada umumnya, Emi mengharapkan hal seperti itu keluar dari mulut Bima tapi nyatanya tidak.


Di kamar lantai dua, di atas tempat tidurnya Bima masih terjaga. Sudah pukul sebelas malam dan ia yakin Emi pasti sudah tidur.


Langkah kaki Bima membawanya turun dan kembali ke kamar Emi. Bima tahu dan sadar jika masuk kedalam kamar seorang gadis apalagi hampir tengah malam bukanlah hal yang baik tapi jujur ia sangat ingin melihat wajah Emi lagi sebelum tidur.


Bima mendekat dan berjongkok di samping Emi yang memang sudah tidur. Wajah gadis itu begitu tenang dan manis saat sedang tidur. Berhubung Emi belum tidur terlalu lama jadi ia bisa merasakan saat sesuatu yang lembut menempel bahkan menyesap pelan pipinya, mencium keningnya dan mengecup singkat salah satu sudut bibirnya.


Emi terbangun dengan mata tetap tertutup, Emi merasakan semua yang dilakukan pada wajahnya dan dia tahu jika orang yang melakukan itu adalah Bima.


"Selamat malam, pacar."


Bima tersenyum usai membisikkan kalimat selamat tidur pada Emi yang kini disebutnya pacar.


Bibir Emi membeku saat ingin membalas ucapan Bima, ia merasa kedua pipinya begitu mengembang mendengar Bima mengatakan pacar padanya ditambah lagi kecupan di sudut bibirnya.


Emi hanya bisa membalas ucapan selamat malam Bima dalam hati.


Selamat malam juga om Bima, pacar.

__ADS_1


__ADS_2