
"Mendung amat itu mukanya? Lagi lapar atau kurang enak badan, neng?"
"Nggak dua-duanya pak Eko."
"Terus kenapa, cerita sama pak Eko. Kali aja bisa bantu."
"Lagi galau pak Eko."
"Waduh! Galau karena siapa? Jangan bilang masih orang yang sama?"
"Emang, masih orang yang sama."
Pak Eko menggeleng-gelengkan kepala, fokus pada jalan di depannya mengemudi. Pak Eko kira kata suka yang dulu pernah Emi katakan pada seorang pria yang tak lain adalah Bima hanya rasa suka biasa.
"Kalau bapak boleh kasih saran nih ya, mending lupain aja kalau cuman buat galau."
"Mana bisa gitu," tolak Emi.
"Pak Bima nggak suka mau gimana coba?"
"Tapi sekarang ini dia baik dan perhatian samaku."
"Dia bilang suka?"
"Enggak."
Ingin lanjut bertanya tapi pak Eko takut justru membuat Emi sedih.
Tidak hanya Bian karena kali ini ada pak Eko yang menambah keraguan Emi. Semakin dipikirkan semakin membuat Emi bingung dan tak sabar menunggu malam tiba.
"Putar balik, pak."
"Mau kemana? Enggak bisa, nanti pak Bima marah."
"Justru mau ketemu om Bima."
"Ke kantor?"
"Yup!"
Emi tidak dapat menunggu lagi, sudah ia putuskan untuk menanyakannya langsung sekarang.
..........
Waktu makan siang untuk karyawan hampir selesai, Nola dan beberapa karyawan kembali ke kantor setelah mengisi perut. Satu dari dua resepsionis di lobi mengejar Nola guna memberitahu jika wanita yang ingin bertemu Bima masih menunggu.
Mata Nola tertuju ke ruang tunggu lobi. Terlihat olehnya wanita itu sedang duduk sambil memainkan ponselnya. Mata mereka bertemu tapi tidak saling berkata.
"Biarkan saja, kalau bosan dia juga pasti pergi," ucap Nola pada resepsionis.
Nola kembali ke ruang kerja dan melakukan tugasnya. Sudah hampir pukul dua siang dan Bima belum makan. Ia meraih gagang telepon di atas meja dan menghubungi bagian resepsionis.
"Apa wanita itu masih di sana?"
"Masih, Bu."
"Baik, terimakasih."
Nola membuang nafas panjang dan beranjak dari duduknya menuju ruangan Bima.
"Masuk."
Nola masuk setalah mengetuk pintu dan menadapat ijin.
"Aku tahu, aku akan makan siang," ucap Bima.
__ADS_1
Bima mengatakannya terlebih dahulu karena tak ingin mendengar ceramah sekretaris sekaligus temannya itu.
"Dia ada di lobi sejak jam makan siang tadi. Dia mau ketemu kamu."
"Siapa? Apa aku ada janji dengan seseorang dan melupakannya?"
"Dia datang dan mau ketemu kamu lagi."
Kening Bima mengerut sambil membenarkan posisi arlojinya. Cara Nola bicara saat ini bukanlah sebagai sekretaris.
"Gaby, dia ada di sini," ucap Nola memberitahu orang yang dimaksud.
".....?"
Bima mencoba mencerna apa yang diberitahu Nola, keningnya masih mengerut tak paham.
"Gaby."
Nola kembali menyebut nama wanita yang ingin bertemu dengan Bima.
Bibir Bima bergerak gantian menyebut nama wanita itu lalu tersadar akan siapa wanita tersebut.
"Dia?" tanya Bima menyakinkan.
Nola mengangguk dan menunggu apa yang akan dikatakan Bima untuk ia lakukan.
"Dia ngotot mau ketemu kamu. Dia akan tunggu sampai ketemu kamu," beritahu Nola lagi.
"Kembalilah kerja, aku tahu apa yang harus aku lakukan."
"Kamu dan dia nggak akan-"
"Aku akan keluar sekalian makan siang," ucap Bima memotong perkataan Nola.
Pintu lift terbuka, Bima berjalan menuju dimana Gaby sudah menunggu lama untuk bertemu dengannya.
Merasa tak tenang akhirnya Nola mengikuti Bima ke bawah. Nola penasaran apa yang mau Gaby lakukan setelah bertahun-tahun tak bertemu Bima.
Nola khawatir pada Bima apalagi setahu Nola belakangan ini perasan Bima sedikit labil mengenai hati. Takutnya Bima melakukan sesuatu yang membuatnya menyesal dikemudian hari.
"Hai, Gab?"
"Arya?"
Gaby berdiri saat Bima menyapanya. Gaby tersenyum, ia senang karena bisa ketemu lagi dengan Bima. Sudah sekitar dua jam dia menunggu, beruntung akhirnya membuahkan hasil.
Tanpa memperdulikan sekeliling Gaby memeluk Bima bahkan mencium pipinya.
"Gaby, jangan seperti ini." Bima mencoba mendorong tubuh Gaby tapi wanita itu mempererat pelukannya.
"Aku kangen kamu, Ar."
"Lepas, Gab. Jangan seperti ini apalagi ini di kantor."
Gaby yang begitu kesenangan tidak mengindahkan peringatan Bima, ia malah mengalungkan tangannya di leher Bima dengan senyum sumringah.
"Kita bicara di luar." Bima melepaskan paksa tangan Gaby dan membawanya keluar hingga keduanya masuk ke dalam mobil.
Nola mencoba mengejar Bima namun mobilnya sudah berlalu meninggalkan parkiran kantor. Ia mendengus kesal, apa yang dilakukan Gaby pada Bima saat bertemu tadi sangat menjengkelkan. Nola sangat tahu bagaimana hancurnya Bima saat mengetahui Gaby berkhianat di belakangnya.
Nola memutar tubuhnya untuk kembali keruang kerjanya tapi hal yang tak ia duga pun terjadi.
"Emi?"
Dibalik sebuah banner dekat pintu masuk kantor, Emi berdiri seperti sedang bersembunyi.
__ADS_1
"Emi, kamu di sini? Kamu ngapain berdiri dibalik banner seperti itu?"
Nola mendekati Emi yang hanya diam saja dengan kepala menunduk, meremas tali ranselnya.
"Kenapa diam aja?" tanya Nola memutar tubuh Emi agar menghadapnya.
Emi mengangkat wajahnya dan menatap Nola dengan mata basah. Detik kemudian Air mata Emi mengucur deras.
"Kenapa nangis?"
Seperti seorang kakak Nola membawa Emi ke pelukannya. Nola mencoba menenangkan Emi yang sesegukan tanpa mengatakan apapun.
"Jangan nangis," ucap Nola mengusap-usap kepala Emi. "Apa ada masalah? Atau ada yang jahatin kamu? Kamu bisa cerita sama, mba." tanyanya lagi pada Emi yang semakin sesegukan.
Tak biasanya Emi datang ke kantor seperti hari ini dan menangis. Nola mencoba menerka-nerka segala kemungkinan. Sesuatu terlintas di pikiran Nola, ia melepas pelukannya dan sedikit mendorong Emi.
"Bima?"
Emi mengangguk tanpa berhenti sesegukan.
"Apa tadi kamu lihat Bima dan-"
Emi menganggukkan kepalanya lagi sebelum Nola selesai bertanya.
"Sejak kapan?"
"Semuanya. Aku lihat semuanya. Om Bima jahat."
Emi menghapus air matanya dan berlari keluar meninggalkan area kator. Nola sudah mencoba mengejar Emi sampai high heelsnya patah. Nola tidak tahu kemana perginya Emi karena lari gadis itu begitu cepat.
Tanpa alas kaki Nola berlari ke arah lift kembali ke meja kerjanya. Hal pertama yang ia lakukan adalah menghubungi Bima karena saat turun tadi ia tidak membawa ponsel.
"Ini orang kemana sih?" gerutu Nola karena tak biasanya lama mengangkat ponsel darinya saat jam kerja.
Beberapa kali Nola menghubungi Bima hingga akhirnya panggilannya terjawab.
"Balik ke kantor, Bim. Gawat. Emi nangis, tadi dia ke kantor dan lihat waktu kamu ketemu dengan Gaby. Aku nggak ngerti maksudnya apa tapi katanya kamu jahat, Bim. Dia pergi sambil-"
Tut-Tut-Tut
"Ck, belum juga selesai ngomong udah dimatiin aja," sungut Nola berdecak.
..........
Sekitar dua puluh menit Bima sudah kembali ke kantor dan menghampiri Nola ke meja kerjanya. Nola menceritakan apa yang terjadi saat bertemu Emi tadi tanpa melewatkan apapun.
"Kenapa nggak kasih tahu langsung, La?!" geram Bima. "Setidaknya tahan dia tadi."
"Buset dah, kok jadi nyalain aku," ucap Nola tak terima. "Lihat, nih!"
Dengan kesal Nola menunjukkan heels sepatunya yang patah saat mengejar Emi.
"Telepon aja, gitu aja repot. Tanya dia dimana dan susul. Lagian tumben khawatir amat. Ada yang belum kamu ceritain ya ke aku? Jangan bilang kalau kamu sama Emi udah..." menggantung kalimatnya memperhatikan wajah Bima. "Wah... Kalau seperti yang aku pikirin itu tandanya kamu gawat, Bim. Emi mewek banget loh tadi, Bim. Buruan telepon, jangan sampai ada cowok lain yang nenangin dia sekarang. Biasanya perempuan itu paling mudah direbut hatinya kalau lagi galau apalagi seusia Emi, masih labil perasaanya."
"Omongan kamu bukannya bantu yang ada malah buat makin pusing, La. Ponselnya mati, nggak tahu dia dimana sekarang. Dia juga belum pulang ke rumah."
"Pulang ke rumah ibu Mila mungkin."
Segera Bima menghubungi pak Eko untuk menanyakan Emi tapi yang ada pak Eko malah bertanya apa dia harus menunggu Emi di parkiran kantor atau pulang saja karena Emi tidak kunjung kembali. Pak Eko pikir sampai saat ini Emi bersama Bima di kantor.
Bima memijat keningnya dan meminta pak Eko untuk menanyakan pada istrinya mengenai Emi apakah pulang ke rumah bundanya.
Hanya selang beberapa menit pak Eko memberitahu jika Emi tidak ada di rumah bundanya. Bima menyuruh pak Eko untuk mencari Emi dan mengabarinya kalau sudah ketemu.
"Aku pergi, La. Kalau ada yang penting kirim lewat email aja."
__ADS_1