CEO Pengganti

CEO Pengganti
Dan Itu Aku


__ADS_3

Jika semalam Emi pulang hampir pukul enam sore maka hari ini dia tiba di rumah hampir pukul delapan malam. Wajahnya terlihat lelah dan mengantuk. Emi menuju kamarnya, meletakkan ransel di atas meja belajar dan membuka penjepit rambut yang seharian ini menempel di rambutnya yang tergulung.


Masih menggunakan seragam sekolahnya Emi masuk ke kamar mandi ingin menyegarkan tubuhnya yang lengket. Seharian ini selesai dari sekolah, Bian benar-benar serius menggembleng Emi dengan pelajaran matematika.


Baru saja tangannya menyalakan shower di kamar mandi dia mendengar ketukan di pintu kamarnya diiringi suara wanita memanggil-manggil namanya.


Tok-tok-tok


"Emi? Nak, Emi?" panggil ibu Sri.


Dengan kaki yang basah Emi keluar dari kamar mandi dan membuka pintu kamarnya.


"Kenapa, Bu?"


"Dipanggil pak Bima dan ditunggu di ruang tengah."


"Sekarang? Kalau aku mandi dulu boleh nggak, Bu?"


"Mending temuin pak Bima aja dulu, paling bentar doang. Habis itu lanjut buat mandi."


Emi menggaruk tengkuknya, sungguh ia sangat lelah dan mengantuk tapi Bima memanggilnya. Iya, Bima menyuruh ibu Sri memanggil Emi untuk menemuinya di ruang tengah. Hal yang belum pernah terjadi sebelumnya dan Emi juga tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.


Pergelangan hingga punggung kaki Emi masih basah saat berjalan ke ruang tengah menemui Bima. Di sana dilihatnya Bima sedang berdiri bersidekap dada.


"Manggil aku?" tanya Emi sambil menuju ke arah Bima.


"Kau darimana seharian ini?"


Tatapan Bima yang mengintimidasi tidak dihiraukan oleh Emi yang langsung mengambil posisi duduk di sofa depan Bima.


"Dari sekolah, habis itu belajar sama teman," jawab Emi apa adanya.


"Belajar? Apa kau yakin belajar dan bukannya kelayapan diluar sana? Belajar apa sampai kau pulang jam delapan malam?" tanya Bima bertubi-tubi. "Belajar dengan siapa dan dimana, hah?" hardik Bima mengangkat suaranya.


Tubuh Emi bergetar, terkejut mendengar suara keras Bima yang selama ini tidak pernah didengarnya. Tubuhnya yang lelah dan mata yang tadinya mengantuk seketika tersadar oleh suara Bima.

__ADS_1


"Katakan, kau darimana?" hardik Bima lagi.


"Pulang sekolah aku belajar sama teman sampai sore. Sebelum pulang aku diajakin makan dulu makanya pulangnya agak malaman. Aku nggak keluyuran, aku pergi kemana dan dengan siapa juga jelas. Terus kenapa om Bima marah-marah? Aneh!"


"Aneh? Kau bilang aneh? Terserah apa yang kau lakukan selama ini tapi situasinya berbeda, kau tinggal di rumah ini dan ibu Mila menitipkanmu selama tidak ada beliau."


"Iya, maaf. Aku minta maaf, besok-besok pulangnya lebih cepat lagi. Udah, aku mau mandi dulu, capek."


Emi memutar tubuhnya dan baru langkah pertama suara Bima kembali menahan langkahnya.


"Siapa yang tahu apa yang kau lakukan diluar sana seharian? Bersikap baik dan jaga kelakuanmu selama tinggal di sini. Aku tidak meminta yang lain, kau hanya perlu melakukan apa yang baru saja kukatakan. Aku juga tidak mau ada kejadian apa-apa denganmu. Jangan salah paham, aku melakukannya hanya karena ibu Mila. Urusanku hanya dengan ibu Mila tapi tolong jangan bertindak sesuka hati."


"Maksud om Bima apa? Aku udah bilang belajar dengan teman, namanya Bian. Aku belajar di rumah Bian dan kakaknya yang namanya Karina ngajak aku buat makan malam sebelum diantar pulang sama Bian. Selesai itu Bian langsung antar aku pulang dan nggak kelayapan kemana-mana," geram Emi merasa kesal.


"Emi?!!"


"Apa lagi? Kalaupun aku keluyuran memangnya kenapa? Aku juga udah besar dan tahu batasan. Lagian apa peduli om Bima, selama ini juga nggak ada masalah dan kenapa jadi marah-marah?"


"Baik, memang tidak ada hubungannya denganku tapi setidaknya kau harus menjaga nama baik keluarga Suntama yang ada di belakang namamu semenjak kau menjadi anak ibu Mila."


Ibu Sri yang sedari tadi menguping pembicaraan bahkan bisa dikatakan pertengkaran antara Bima dan Emi. Wanita itu hanya bisa diam seribu bahasa sembari menelan salivanya sambil menghidangkan makanan yang dipanaskan karena sudah dingin tadinya.


Selama mengenal dan bekerja dengan Bima, malam ini adalah untuk pertama kalinya ibu Sri mendengar Bima marah dan menaikkan suaranya. Ibu Sri semakin gugup karena lawan bicara Bima saat ini adalah seorang gadis yang masih berstatus anak sekolahan.


"Mulai besok pergi dan pulang sekolah dengan pak Eko. Aku tidak menerima bantahan!" tegas Bima.


"Enggak. Besok Bian akan jemput aku juga ke sekolah. Bunda, kak Kevin dan Justin juga sudah kenal Bian."


"Bian-Bian dan Bian! Apa dia pacarmu, hah?" teriak Bima lagi. "Sorry, pastinya dia bukan pacarmu karena setahuku kau menyukai orang lain dan itu aku. Hahaha..."


Bima tertawa seolah mengejek Emi yang sudah mengatakan suka padanya sedangkan nafas Emi sudah memburu sangking kesalnya.


"Kenapa tertawa?" mata Emi melotot pada Bima yang melihatnya mengejek.


"Hah... Maaf, aku cuma tidak pernah membayangkan seorang anak sekolahan menyukaiku dan mengatakannya dengan terus terang. Aku puji keberanianmu itu tapi aku rasa sudah pernah mengatakan jawabannya. Satu lagi, lebih baik gunakan waktumu untuk belajar supaya lulus dengan nilai yang bagus dari pada menghabiskan waktu untuk menyukai seseorang yang tidak akan pernah menganggapmu."

__ADS_1


"Tidak perlu mengajariku hal itu karena aku tahu apa yang harus aku lakukan. Dan satu lagi dari aku, apa semenggelikkan itu karena aku suka sama om Bima? Apa ada yang lucu dengan menyukai seseorang?"


"Sebenarnya tidak tapi jadi menggelikan karena kaulah orangnya."


"Om Bima pasti bangga, iyakan? Oke, fix! Aku nggak akan suka sama om Bima lagi dan lupain om Bima."


Kesal dan marah, Emi langsung berlari ke kamarnya dan menutup pintu dengan cara membantingnya kuat.


Tak!


Suara dentuman pintu membuat ibu Sri melonjak kaget. Usianya yang sudah mencapai lima puluh tahun membuat kerja jantungnya malam ini tak terkontrol dengan baik.


Kaget, pastinya. Akan tetapi Bima tidak menanggapi suara pintu yang dibanting Emi. Setidaknya dengan pertengkaran malam ini maka Emi akan melupakan rasa sukanya pada Bima dan membatalkan perjanjian mereka beberapa hari yang lalu.


Bima tidak ingin ada kesalahan yang terjadi saat ibu Mila mempercayakan Emi padanya. Bima hanya ingin melakukan tugasnya dengan baik dan bisa segera meninggalkan segala yang berkaitan dengan Suntama.


..........


"Apa dia pikir dia sangat tampan, hah? Baik, ayo kita lakukan Emi. Lupakan om tampan yang sangat menjengkelkan itu. Jangan menyukainya lagi. Lagian apa yang mau kau harapkan dari dia, kau hanya dianggap anak kecil yang menggangu selama ini. Jadi ayo kita hentikan dan ingat kalau apa yang dia lakukan hanya karena bunda bukan karena dia memperhatikanmu."


Emi bermonolog di atas tempat tidurnya. Tidak lagi ada keinginan mandi, dia sudah terlalu malas karena pertengkarannya dengan Bima.


Lampu kamarnya dia matikan dan menarik selimut hingga leher.


Emi menyalakan ponselnya mencari kontak seseorang dan menghubunginya langsung.


"Pak Eko, apa pun yang terjadi, meski hujan, badai dan halilintar jangan pernah jemput Emi. Aku sudah bilang sama bunda kalau aku pergi dan pulang sekolah sama Bian," ucap Emi berbohong.


Tanpa mendengar apa yang mungkin akan dikatakan pak Eko, Emi memutus langsung sambungan telepon.


Usai menghubungi pak Eko, kini kembali menghubungi seseorang.


"Kenapa, mi?" tanya Bian dari seberang telepon.


"Meski hujan, badai dan halilintar besok jemput aku lebih awal. Udah, aku ngantuk, mau tidur."

__ADS_1


Panggilan berakhir. Bian yang baru selesai mandi setelah mengantar Emi menatap aneh pada layar ponselnya.


__ADS_2