CEO Pengganti

CEO Pengganti
Hujan Lokal


__ADS_3

Bima tertegun merasakan sepasang tangan melingkar di pinggangnya. Tangan itu saling bertautan hingga pelukan yang dirasakan Bima begitu erat.


Dalam keadaan mata yang terpejam, Emi merasa ada yang berbeda degan apa yang dia peluk. Badan ibu Sri yang sedikit berisi dan tidak pernah menggunakan pewangi kini dirasa Emi begitu pas di pelukannya, belum lagi aroma yang dihirup Emi.


"Ibu pakai parfum? Wanginya sama seperti yang dipakai om Bima," ucap Emi.


"Emi?"


Emi tersenyum karena berpikir suara ibu Sri juga ikut berubah seperti suara Bima.


"Emi?" suara panggilan Bima seperti tertahan. Bima memutar tubuhnya hingga posisi mereka berhadapan dengan Emi yang masih memeluk Bima.


Tangan Bima yang juga ikut dalam pelukan Emi membuatnya kesulitan mendorong Emi.


"Emi, bangun?"


Dengan malas Emi membuka matanya karena sepertinya sudah waktunya dia bangun dan bersiap untuk pergi ke sekolah. Emi menggesek-gesekan wajahnya ke kiri dan ke kanan di perut yang ia pikir milik ibu Sri, bermanja seperti yang sering dilakukan pada bundanya.


Apa yang dilakukan Emi justru membuat Bima merasa geli namun terlihat lucu.


"Emi, lepas!"


Seperti sedang mendengar suara petasan di siang bolong, kesadaran Emi berkumpul seratus persen.


Suaranya? Ini bukan ibu Sri. Dia..


Emi mengangkat kepalanya menengadah ke atas. Maniknya berkedip-kedip diikuti nafas yang tertahan melihat jelas wajah orang yang dipeluknya.


"Bi-ma?" sebut Emi menggunakan gerakan bibir.


Buru-buru Emi melepas pelukannya dan menarik mundur tubuhnya kebelakang hingga tidak memperhatikan bahwa pintu dalam keadaan setengah terbuka.


Tok!


Punggung Emi menghantam daun pintu dan karena kehilangan keseimbangan Emi terjatuh dan bagian belakang kepalanya terantuk kepintu.


"Aw..!" pekik Emi kesakitan sembari mengelus kepalanya yang terantuk.


Ikut kaget melihat Emi jatuh dan terantuk, Bima langsung berjongkok untuk membantu Emi.


"Sakit," lirih Emi masih mengusap kepalnya.


Refleks tangan Bima ikut mengelus kepala Emi. Mata Emi langsung menatap wajah Bima di hadapannya.


"Dimana, apa disini?" tanya Bima memastikan bagian kepala Emi yang sakit.


Ibu Sri yang tadinya tidur pulas seketika terbangun mendengar hantaman pintu ke dinding dan bunyi ketokan sebuah benda yang tak lain adalah kepala Emi yang membentur pintu.


"Pak Bima? Emi?" kaget ibu Sri mendapati keduanya berada di depan pintu kamar Emi yang terbuka.


Baik Bima maupun Emi sama-sama menoleh pada ibu Sri yang menatap mereka penuh selidik.


"A-ada apa, pak?" tanya ibu Sri penasaran.


"Tidak ada apa-apa, ibu kembali saja istirahat," jawab Bima.


"I-iya tapi Emi-"


"Dia baik-baik aja, dia tidak melihat jalannya dan terjatuh," sela Bima.


"Kalau gitu biar saya bantu Emi masuk ke kamar-"


"Biar saya aja," ucap Bima lagi menyela ucapan ibu Sri.


Emi menatap aneh pada Bima. Harusnya Bima memarahinya atau membiarkannya saja seperti biasanya. Namun kenapa justru sebaliknya? Emi sedikit merinding dengan apa yang mungkin akan Bima lakukan setelah ini.


"Bu," tegur Bima karena ibu Sri masih berdiri di dekat mereka. "Ibu istirahat saja, biar saya yang bantu Emi."


"I-iya, pak."


Ibu Sri kembali ke kamarnya sambil berpikir apa yang baru terjadi.


Kalau Emi terjatuh kenapa ada pak Bima di sana? Kamarnya kan ada di lantai dua.


Ibu Sri merebahkan tubuhnya, melihat pada jam dinding yang sudah hampir pukul satu dini hari.


Emi yang masih terkejut dan bingung pada Bima hanya diam merasakan pijatan tangan Bima di kepalanya.

__ADS_1


"Ayo!"


Bima membantu Emi berdiri dan mengikutinya dari belakang. Bima memperhatikan sekeliling kamar Emi dan melirik pada bingkai foto di atas meja belajar.


"Tidurlah," ucap Bima.


Emi semakin menatap aneh Bima yang menyuruhnya untuk tidur tapi masih berada di dalam kamarnya.


"Om Bima ada perlu?"


Bima berpikir sejenak, dia juga tidak tahu tujuannya menemui Emi untuk mengatakan apa. Bima hanya ingin melihat wajah Emi, itu saja. Akan tetapi dia tidak menduga ada kejadian barusan.


Bima menggelengkan kepala namun tatapannya kini tertuju pada Emi.


Apa ada yang salah? Kenapa melihatku seperti itu?


Emi menarik mundur wajahnya saat Bima mendekatkan wajahnya hingga jarak wajah mereka begitu dekat.


"A-aku mau tidur, om."


"Kepalamu bagaimana?"


"Ha? Kepala? Oh.. iya, sudah tidak apa-apa."


"Kau yakin?" tanya Bima memastikan dan dijawab anggukan kepala oleh Emi.


"Tidurlah," ucap Bima yang lalu meninggalkan kamar Emi.


Apa yang kau lakukan Bima... Sadar Bima, sadar! Dia hanya anak sekolahan dan yang paling penting dia bagian dari keluarga Suntama.


Bub!


Bima menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur dengan kaki yang menggelantung.


..........


Pagi-pagi sekali Emi mendapat video call dari bundanya, menanyakan kabar dan sekolahnya. Setelah mengobrol banyak dengan bundanya dan mengatakan jika semua baik-baik saja dan berjalan dengan lancar, sekarang giliran Justin yang mengambil alih pembicaraan.


"Emi, bentar ya, jangan dimatiin."


"Iya."


"Pagi, Dora..." sapa Kevin dengan wajah bantalnya.


"Kak Kevin...!! Bunda... Kak Kevin ngejek Emi. Dia ngatain Emi, Bun."


Mendengar teriakan Emi memanggil bunda dan menyebut nama Kevin, Bima yakin jika Emi sedang mengobrol dengan keluarganya.


Ibu Sri hanya bisa tersenyum mendengar suara Emi yang memenuhi seisi rumah. Rumah itu benar-benar hidup selama ada Emi di dalamnya.


"Butuh yang lain, pak?"


"Tidak, antar saja sarapan untuknya ke kamar."


"Buat Emi?"


"Hem," dehem Bima.


Sambil melirik pada Bima, ibu Sri mengisi piring dengan nasi goreng lengkap dengan telur dadar dan kerupuknya.


"Ada masalah?" tanya Bima menyadari lirikan ibu Sri.


"Enggak ada apa-apa, pak. Saya permisi anterin sarapan buat Emi," izin ibu Sri yang lalu menuju kamar Emi.


Pintu kamar Emi yang setengah terbuka memudahkan ini Sri masuk ke dalam tanpa mengetuknya terlebih dahulu.


"Ibu? Ada apa?"


"Cuman mau nganterin sarapan aja."


"Kenapa dianterin?"


"Nggak tahu, pak Bima yang suruh. Mungkin biar jangan telat ke sekolah, ngobrol dengan kakak-kakak kamu sambil sarapan, biar menghemat waktu."


Emi yang merasa aneh mengintip ke arah Bima dengan posisi memunggunginya sedang berada di meja makan.


"Udah, ibu pergi."

__ADS_1


"Iya, makasih, Bu."


Emi melanjutkan obrolannya dengan kedua kakaknya sambil memakai persiapan sekolah dan memakan sarapannya.


"Kak Justin, aku mau sekolah dulu," ucap Emi dengan mulut penuh makanan.


"Iya, tapi telan dulu itu makanan," ingatkan Justin.


"Iya, kak."


"Diantar pak Eko?" tanya Justin sedangkan Kevin masih merem-melek di atas tempat tidurnya.


"Om Bima."


"Oh ya? Tumben mau nganterin kamu?"


"Nggak tahu," jawab Emi.


"Paling ditinggal di tengah jalan atau halte," celetuk Kevin.


"Enggak, malahan uda beberapa hari ini om Bima yang anterin aku ke sekolah."


"Kalau gitu hati-hati, Mi. Biasanya kalau tiba-tiba baik pasti ada sesuatu," ucap Kevin menakut-nakuti.


"Contohnya?" tanya Emi penasaran.


"Kayak yang di film-film, dibaik-baikin dulu baru setelah itu...KREK!" ucap Kevin membuat gerakan memotong pada lehernya.


"Gila lo, Vin!" ucap Justin yang tak suka candaan Kevin. "Lo kira kak Bima sejahat itu?"


"Siapa yang tahu. Kali aja, benar nggak, Mi?"


"Bisa jadi."


"Woiii..." teriak Justin kini. "Jangan dengerin, Mi. Udah, mending kamu siap-siap sekolah dari pada otak kamu di cekokin yang nggak bener sama Kevin. Aku matiin ya, Mi."


"I-iya, kak."


"Hati-hati, Mi. Ingat apa yang tadi aku bilang," ucap Kevin mengakhiri obrolan mereka.


Uhuk-uhuk!


Emi berlari dari kamar sambil membawa piring bekas makannya. Tadi ibu Sri hanya membawa sarapan tanpa minum.


Uhuk-uhuk...


Sebelah tangan Emi memukul-mukul dadanya, dia meletakkan piring kotornya di atas meja dimana Bima juga baru selesai sarapan. Emi yang sudah keselek tidak memperhatikan gelas yang diambilnya, ia mengambilnya asal dan langsung meminum isinya.


"Itu punyaku!"


Prufff...


Emi menyemburkan isi air di mulutnya mendengar perkataan Bima.


"Bukan hanya cuci muka, aku juga sudah mandi," ucap Bima menahan kesal karena semburan air dari mulut Emi mengenai wajahnya dan merembes ke kemejanya juga.


"Ma-maaf, om. A-aku nggak sengaja, maaf."


Kaget! Emi langsung meletakkan gelas ke atas meja dan mengelap wajah Bima menggunakan kedua telapak tangannya.


"Maaf, om. Beneran aku nggak sengaja. Aku tadi tersedak dan butuh minum, aku nggak tahu itu gelas punya om Bima. Maaf, om."


Kata maaf terus dilontarkan Emi sambil terus mengelap wajah Bima.


"Jangan marah ya, om? Emi nggak sengaja," mohon Emi.


"Ibu Sri, ibu Sri...?" panggil Bima.


"Iya, ada apa, pak?" tanya ibu Sri yang berlari dari arah dapur mendengar namanya dipanggil berulang oleh sang majikan.


"Tolong ambilkan kemeja ganti di kamar saya. Kemeja yang saya pakai basah, ada hujan lokal tadi."


"Hujan lokal?"


Emi nyengir kuda pada ibu Sri namun saat pandangannya beralih pada Bima senyumnya berubah menjadi memelas.


"Iya, pak."

__ADS_1


"Biar aku aja, Bu."


Dengan cepat Emi menaiki tangga dan masuk ke kamar Bima, membuka lemari pakaiannya untuk mengambil kemeja. Kemeja hitam menjadi pilihan Emi dan segera menutup lemari pakaian.


__ADS_2