CEO Pengganti

CEO Pengganti
So Sweet


__ADS_3

Seperti biasanya Bima berangkat ke kantor tapi saat turun dari mobil, Bima lupa membawa ponselnya yang sedang diisi daya. Bima sama sekali tidak menyadari hal itu karena setibanya ia di ruangannya, Nola sudah membawa beberapa dokumen yang harus dibaca apalagi dokumen tersebut mengenai laporan uang masuk dan keluar perusahaan selama setahun terakhir.


Di hutan kota, Emi dan teman-temannya tengah beristirahat setelah acara olahraga bersama. Setelah beristirahat mereka membersihkan tubuh dan sarapan bersama. Hari ini mereka akan berkeliling di hutan kota sambil menyelesaikan tugas yang diberikan oleh ketua panitia yang juga merupakan guru di sekolah mereka.


Setiap kelompok harus menemukan tanaman dan hewan yang disebutkan oleh panitia dan berswafo dengan tanaman tersebut sebagai buktinya.


"Kamu baik-baik aja, Mi? Muka kamu agak pucat loh, kalau nggak kuat mending istirahat aja."


"Aku nggak kenapa-napa, Bi. Mungkin karena udaranya dingin aja, jangan lebay deh."


"Bukan gitu, aku khawatir kamu-"


"Bawel!" sela Emi memotong ucapan Bian. "Mending lihat ke kiri dan kanan siapa tahu ketemu tanamannya."


Saat melewati jalan licin Emi melihat salah satu dari tanaman yang mereka cari. Dengan wajah sumringah Emi menunjuk tanaman tersebut pada Bian.


Emi mendekati tanaman itu untuk berswafoto tapi karena kurang berhati-hati Emi tergelincir dan pergelangan kakinya tergores ranting tajam.


"Aaaa... Bian, tolongin!" teriak Emi.


"Emi?!


Dengan cepat Bian dan salah seorang temannya menolong Emi yang terjerembab pada rerumputan.


"Tuh, aku juga bilang apa, mending tadi kamu istirahat di tenda."


Emi meringis kesakitan saat dibantu untuk berdiri.


"Kakiku sakit, Bi."


Awalnya Emi hanya merasa sakit dan perih dipergelangan kakinya, akan tetapi saat melihat ada darah wajah pucat Emi menjadi dua kali lipat. Kepalanya tiba-tiba terasa berputar dan pandangannya menjadi gelap hingga akhirnya tak sadarkan diri.


Cukup lama Emi tak sadarkan diri meski sudah ada petugas medis di sana. Khawatir terjadi apa-apa, Emi akhirnya dibawa ke rumah sakit terdekat. Bian ikut menemani Emi yang dibawa ke rumah sakit dan orang pertama yang dihubungi Bian adalah Kevin.


Kevin yang tak kalah panik meminta Bian untuk terus menemani Emi dan memberinya kabar tentang Emi.


Di asramanya, Kevin bolak-balik menghubungi Bima tapi sama sekali tidak ada jawaban. Sudah satu jam Kevin menunggu tapi Bima tak juga menjawab ponselnya.


Tanpa pikir panjang Kevin langsung menuju bandara. Kevin tidak memberitahu Justin dan bunda Mila terlebih dahulu sebelum memastikan keadaan Emi. Dia juga tidak ingin membuat bundanya khawatir.


Singapura-Jakarta memang jauh tapi hanya sebentar saja sudah bisa tiba dengan menggunakan pesawat. Kevin langsung menuju rumah sakit tempat Emi berada.


Sambil menyusuri lorong rumah sakit, Kevin menghubungi Bian untuk menanyakan ruangan Emi.


Bian tercengang saat Kevin memberitahu jika dirinya sudah berada di rumah sakit. Bian keluar dari ruang rawat Emi untuk menemui Kevin.

__ADS_1


"Kak Kevin?!"


Bian memanggil Kevin seraya melambaikan tangan. Kevin berlari ke arah Bian dan langsung menanyakan keadaan Emi.


"Emi sudah sadar tadi tapi sekarang lagi tidur. Kata dokter dia butuh istirahat, ternyata Emi lagi kurang sehat sebelum ikut karya wisata dan bekas jarum infus di tangannya masih bisa dilihat perawat."


Bian memberitahu keadaan Emi dan membawa Kevin keruang rawat gadis yang kini tengah terbaring di atas tempat tidur rumah sakit.


"Maksudnya sebelum ikut karya wisata Emi lagi sakit?" tanya Kevin memastikan.


"Iya, Emi sendiri yang bilang karena di paksa dokter buat bicara jujur. Dia juga sempat diinfus di klinik dan parahnya lagi Emi tidak minum obat karena lupa membawanya."


Sampai di ruang rawat, Kevin memandangi wajah Emi yang masih pucat tengah tidur nyenyak dengan infus yang terpasang.


"Kak, aku ijin ke kantin bentar ya?"


Tentu saja saat ini Bian merasa lapar, Saat sarapan dia hanya makan sepotong kue, melewatkan makan siang untuk menemani Emi hingga sekarang sudah pukul empat sore barulah rasa lapar itu terasa.


Emi sudah sadar dan sedang istirahat, saat ini Kevin juga sudah ada untuk menggantikan Bian menemani Emi.


"Thanks ya, Bi. Maaf sudah ngerepotin," ucap Kevin merasa tak enak.


"Santai aja, kak. Kalau kak Kevin butuh sesuatu buat dibeliin telpon aja, kak."


Kevin mengangguk dan kembali memandangi Emi. Perban di pergelangan kaki Emi tak luput dari perhatian Kevin, dia yakin jika pingsannya Emi selain karena dia yang kurang sehat juga pasti karena melihat darah, mengingat Emi yang phobia pada darah.


"Tidurlah," bisik Kevin di telinga Emi. "Jangan berteriak saat bangun nanti, aku hanya menempati sedikit tempat tidurmu."


"Ck, aku sudah bilang untuk memotong rambutmu ini tapi masih saja tidak mendengarkan."


Kevin menyingkirkan rambut panjang Emi yang hampir ia tiduri. Baru saja mata Kevin terpejam Emi sudah terbangun saat akan merubah posisi tidurnya.


Emi berkedip-kedip saat melihat orang disebelahnya tersenyum menatapnya. Emi mengira jika dia sedang bermimpi karena tidak mungkin ada Kevin di ruangan itu apalagi berada di sebelahnya.


"Dora?" bisik Kevin.


Dora?


Mendengar kata Dora membuat Emi tersadar jika dia tidak sedang bermimpi.


"Kak Kevin?!"


"Kecilkan suaramu, ini rumah sakit."


"Kenapa kak Kevin ada disini? Kak Kevin lagi liburan?"

__ADS_1


"Apanya yang liburan, justru ada banyak tugas kuliah."


"Terus kenapa ada di sini?"


"Aku khawatir denganmu, kak Bima juga nggak bisa dihubungi makanya aku langsung datang."


"So sweet..." puji Emi.


Bian yang baru datang langsung bergabung dengan Emi dan Kevin dan menyaksikan kedekatan kakak-adik itu.


Menjelang sore Kevin dan Bian membawa Emi pulang menggunakan taksi. Tiba di rumah pak Eko dan ibu Nani begitu terkejut saat melihat Emi pulang digendong Kevin menuju kamar. Bian menceritakan apa yang terjadi pada pak Eko dan ibu Nani.


"Bian, bisa minta tolong nggak?" panggil Kevin dari lantai dua.


"Kenapa, kak?"


"Emi mau makan sate, katanya dari tempat kalian biasa makannya."


"Ya udah biar aku beliin buat Emi, kak."


"Thanks, Bi. Pakai motor aku aja yang ada di garasi, kuncinya juga ada di sana, gantung di tembok."


Bian mengangkat jempolnya pada Kevin dan pergi untuk membeli sate keinginan Emi.


..........


Seharian bekerja sungguh membuat Bima lelah. Pukul tujuh malam Bima baru keluar dari kantor, selain lelah perutnya juga sudah terasa lapar.


Sambil menyetir mobil Bima menyalakan ponselnya yang seharian ini tidak dia sentuh karena tinggal di mobil. Kening Bima mengkerut karena ada banyak panggilan dari Kevin sedangkan panggilan dan pesan dari orang yang diharapkan yang tak lain adalah Emi sama sekali tidak ada.


Bima menghubungi Emi terlebih dahulu tapi terkejut karena yang menjawab ponsel Emi adalah seorang laki-laki.


"Halo?" sahut Kevin dari seberang telepon menjawab panggilan ponsel Emi.


"Kevin?" tanya Bima memastikan.


"Iya, kak. Ini Kevin."


"Kenapa kau yang menjawab ponsel Emi, dia dimana?"


"Kenapa? Apa ada masalah kalau aku yang menjawabnya?"


Bub!


"Aaaa... Kak Kevin???"

__ADS_1


Emi meringis kesakitan saat bangkit dari tempat tidur dan terjatuh. Kevin langsung mematikan sambungan telepon dan berlari membantu Emi.


Segera Bima memutar arah mobilnya setelah panggilannya diputus oleh Kevin. Bima tidak tahu apa yang terjadi, dia hanya tahu bahwa dia harus menemui Emi yang tadi dia dengar berteriak memanggil Kevin.


__ADS_2