
Pukul setengah lima pagi Emi terbangun dan mendapati Bima duduk di dekatnya. Seperti janjinya, Bima menemani Emi dan tidak meninggalkannya.
"Kenapa sudah bangun?"
"Om Bima nggak tidur?" tanya Emi berbalik.
"Tidak perlu memikirkan aku, tidurlah lagi."
"Aku nggak ngantuk lagi, aku juga sudah baik-baik aja. Ayo pulang."
"Pulang? Ini masih gelap, kalau sudah terang baru kita pulang."
"Aku mau pulang sekarang, aku sudah sehat," paksa Emi.
"Selamat pagi," sapa dokter Randy. "Kau sudah bangun ternyata."
Dokter Randy memeriksa kembali suhu tubuh Emi dan tersenyum melihat Emi yang sudah jauh lebih baik dibanding saat tiba di kliniknya.
"Aku mau pulang sekarang," ucap Emi melirik jam tangan dokter Randy.
"Kau mau pulang? Baiklah, kau bisa pulang tapi harus istirahat setelah tiba di rumah. Oke?"
"Iya, dok."
Dokter Randy melepas selang infus yang hanya tersisa sedikit lagi dan meresep obat untuk Emi bawa pulang. Bima ikut ke ruangan dokter Randy untuk mengambil obat Emi dan melakukan pembayaran berobat Emi.
"Ini, aturan minumnya juga sudah saya tulis," memberikan bungkusan berisi beberapa jenis obat milik Emi pada Bima.
Bima menerimanya dan mengeluarkan dompet dari saku celana pendeknya.
Bima meletakkan beberapa lembar uang seratus ribu di atas kertas kuitansi pembayaran yang diberikan dokter Randy bersama dengan obat tadi.
"Ayo."
Bima membantu Emi turun dari tempat tidur, sebelum keluar dari klinik, dokter Randy menghentikan langkah mereka dan berjongkok di hadapan Emi.
"Sedikit kebesaran tapi lebih baik dari pada tidak ada sama sekali."
Dokter Randy meletakan sepasang sendal jepit miliknya dekat kaki Emi. Saat membawa Emi ke klinik Bima sama sekali tidak ingat untuk membawa sepatu atau sendal Emi, lebih tepatnya tidak terpikir oleh Bima karena paniknya.
"Makasih, dok."
"Sampai jumpa gadis," ucap dokter Randy mengedipkan sebelah matanya pada Emi.
"Ayo cepat," ucap Bima menarik tangan Emi menuju mobil.
Sudah lewat dari pukul lima pagi saat Bima dan Emi tiba di rumah. Karena mengantuk Bima beristirahat sejenak di kamarnya setelah memastikan Emi masuk kamar dan tidur lagi. Akan tetapi bukannya tidur seperti yang dipikirkan Bima, gadis itu justru mengemasi barang-barangnya.
Saat hari sudah terang Bima baru bangun dan bersiap ke kantor. Ketika turun ke bawah, Bima melirik pada pintu kamar Emi yang tertutup. Bima akan melihat keadaan Emi sebelum nanti berangkat kerja.
"Tolong antar sarapan ke kamarnya, Bu. Pastikan dia memakan sarapannya dan juga minum obatnya."
"Baik, pak."
Ibu Sri baru akan menuang air ke dalam gelas untuk dibawa ke kamar Emi tapi orang yang akan ditemui sudah keluar dari kamar.
"Emi?"
Ibu Sri kaget saat melihat Emi keluar kamar dengan tas ransel besar dan sebuah kantong kain ditangannya.
__ADS_1
Sama dengan ibu Sri, Bima juga tak kalah kaget melihat Emi yang sudah rapi seperti pagi biasanya saat mau berangkat sekolah, hanya saja hari ini dia tidak memakai seragam sekolah.
"Kau sedang apa? Mau kemana?" tanya Bima.
"Karya wisata," ucap Emi.
"Karya wisata? Apa kau sudah gila? Kau tidak sadar beberapa jam yang lalu berada dimana?"
Emi duduk begitu saja di meja makan dan mengambil selembar roti. Akan tetapi sebelum mengolesi roti dengan selai, Bima sudah terlebih dahulu menahannya.
"Masuk kembali ke kamar, nanti ibu Sri akan mengantar sarapan untukmu. Selesai sarapan langsung istirahat dan jangan lupa minum obatmu."
"Tapi kegiatan karya wisatanya hari ini. Aku harus pergi."
"Harus? Tidak ada yang mengharuskanmu pergi. Ibu Sri, masukkan kembali tasnya ke kamar dan antar sarapannya."
"Aku mau pergi. Aku bilang mau pergi ya mau pergi. Aku sudah sehat dan baik-baik saja, kenapa dibesar-besarkan?"
"Aku bilang masuk ke kamar sekarang juga!" tegas Bima.
"Kenapa sih, om? Aku sudah baikan sekarang, lagian ada Bian juga nanti yang jagain di sana."
"Bian-Bian-Bian, selalu saja Bian. Apa dia pacar kamu sampai segala sesuatunya pasti bawa nama Bian?"
"Kamu nggak tahu seberapa khawatirnya aku saat tengah malam tadi kamu demam tinggi? Apa jangan-jangan kamu berharap dan nungguin Bian datang lihatin kamu waktu di klinik, iya?"
"Apaan sih, kenapa jadi bawa-bawa Bian. Dia bukan pacarku dan seandainya pun iya, bukan urusan om Bima."
Sontak Bima berdiri, melonggarkan dasinya merasa gerah dan sesak seketika.
"Pak Bima, sabar. Biar saya bawa Emi kembali ke kamar."
Tak!
Bima menyusul ke kamar Emi saat mendengar dentuman pintu yang begitu keras. Ibu Sri menghampiri Bima yang sudah berada di depan pintu kamar untuk menenangkan Bima.
"Maaf pak, tadi saya nggak sengaja nutup pintunya terlalu kuat," bohong ibu Sri agar Bima tidak memarahi Emi.
"Saya bukan orang yang bisa dibohongi, Bu. Tidak perlu menutupi kesalahannya. Sekarang ibu tolong keluar, tinggalin kami berdua."
"Tapi, pak?"
"Ibu dengar apa yang saya bilang kan?"
Ibu Sri menelan salivanya, ia akhirnya keluar dari kamar EMI dan berharap tidak ada keributan lagi.
Berkacak pinggang, Bima menatap lekat pada Emi yang tiba-tiba memasukkan pakaiannya ke dalam koper.
"Kau mau apa?" geram Bima. "Mau kabur lagi ke rumah bundamu, ha? Kau bukan anak kecil lagi, jadi bersikaplah sedikit dewasa."
"Aku mau pergi. Aku nggak mau tinggal di sini lagi. Aku mau sama bunda. Aku nggak suka tinggal di sini."
"Masukkan kembali pakaianmu ke lemari!"
Bima memijit tengkuknya yang tegang sedangkan Emi sama sekali tidak mengindahkan apa yang dikatakan Bima. Sesaat Emi teringat sesuatu, ia mengambil ponselnya dan menghubungi bundanya.
"Apa yang mau kau lakukan?"
"Bukan urusan om Bima. Aku sudah bilang nggak mau tinggal di sini lagi. Aku mau sama bunda. Aku akan minta bunda datang menjemputku, bila perlu sekarang juga. Lebih cepat maka lebih baik."
__ADS_1
Kalang kabut, Bima langsung merampas ponsel Emi yang panggilannya belum terhubung dengan bundanya. Bima panik saat Emi mengatakan akan bersama bundanya.
"Balikin ponselku," pinta Emi berusaha merebut kembali ponselnya.
Dengan cepat Bima menonaktifkan ponsel Emi dan memasukkannya dalam saku celana.
"Kau tidak akan kemana-mana!" tegas Bima.
Emi mengejar Bima tapi pintu kamar sudah langsung dikunci Bima dari luar. Emi menggedor-gedor pintu kamarnya berharap Bima akan membukanya, akan tetapi sama sekali tidak ada gunanya. Sampai Emi menangis pun Bima sama sekali mengacuhkannya. Tangis Emi semakin keras saat melihat jam di dinding, sudah seharusnya dia berada di sekolah berkumpul bersama teman-temannya yang akan berangkat untuk kegiatan karya wisata.
..........
Kembali pada keadaan sekarang...
"Kasihan Emi, pak. Dia baru sakit dan juga belum sarapan. Kalau ada apa-apa gimana? Saya buka kamarnya ya, pak?"
Bima menghela nafasnya, tidak seharusnya dia begitu keras pada Emi mengingat gadis itu juga kurang sehat. Namun belakangan ini Emosinya sulit ia kontrol apalagi saat tadi Emi meyebut nama Bian disaat ada dirinya yang begitu panik dan khawatir ketika Emi sakit.
Bima memijit pelipisnya hingga akhirnya pergi ke kamar Emi. Baru saja membuka pintu, Bima sudah disambut dengan keadaan kamar yang bagaikan kapal pecah. Benda pertama yang dilihat Bima saat memasuki kamar adalah topi pasangan milik Emi yang berada di lantai dekat pintu.
Bima memungut topi tersebut dan meletakkannya di atas tempat tidur.
Emi membuang wajah saat Bima mendekat ke arahnya yang duduk dilantai, bersandar pada tempat tidur.
"Permisi, pak?"
Ibu Sri datang membawa nampan berisi makanan dan minum untuk Emi. Ibu Sri memperhatikan kamar Emi yang sudah berantakan.
"Biar saya saja."
Bima mengambil nampan yang dibawa ibu Sri. Bima meletakkan nampan tersebut di depan Emi dan duduk di dekat Emi dengan posisi berhadapan.
Untuk sesaat Bima hanya diam sambil memperhatikan wajah Emi yang sembab. Bima mengulurkan tangannya untuk menghapus sisa air mata Emi tapi segera Emi menepis tangan Bima.
"Kau harus makan, aku mengkhawatirkanmu." Bima menurunkan ego-nya, bicara dengan nada lembut ia mengarahkan sendok berisi makanan ke mulut Emi.
"Ayo," ucap Bima meminta Emi membuka mulut.
Emi kembali melirik jam dinding di kamarnya. Bima paham apa yang ada dipikiran Emi.
"Tapi kau masih kurang sehat, kalau ada apa-apa denganmu di sana bagaimana?"
Emi tidak menyahut dan membuka mulut untuk makan, Bima sungguh pusing menghadapi Emi. Bima merasa seperti sedang membujuk anak kecil yang sedang merajuk saat ini.
"Aku melakukannya karena mengkhawatirkanmu."
"Tidak perlu khawatir, aku mati juga lebih baik sepertinya. Kalau aku mati om Bima nggak perlu repot untuk menjagaku," ketus Emi.
"Ternyata kau sangat ingin pergi. Baiklah, kau bisa pergi untuk kegiatan itu tapi setelah menghabiskan sarapanmu terlebih dahulu."
Mata Emi langsung menatap Bima, belum percaya dengan apa yang di dengarnya. Ia menatap lekat Bima untuk memastikan apa yang dikatakan pria itu adalah benar.
"Jangan sampai aku berubah pikiran. Ayo makan."
Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Emi membuka mulutnya dan menerima suapan dari Bima. Sembari menyuapi, Bima kembali mengulurkan tangannya untuk menghapus sisa air mata Emi.
Beberapa suap cukup membuat Emi kenyang dan menolak suapan berikutnya. Emi menunjuk pada meja belajarnya di mana obatnya berada.
"Ayo pergi sekarang."
__ADS_1
Emi berdiri setelah selesai meminum obatnya, menarik ranselnya keluar dari kamar.